
Kaira mengerutkan keningnya melihat Pasha tengah menggendong Nova dan Dylan berjalan santai disamping Pasha, Pasha mengedipkan matanya ke arah Kaira yang melototkan matanya dengan horror ke Pasha.
"Arla...Umay..! aku mau kalian menjaga anak-anakku dengan baik..! " pinta Kaira beralih ke pengawal pribadinya..
"tapi bagaimana dengan nyonya..? " tanya Arla dengan sopan.
"Aku nggak akan keluar mansion Arla..! " jawab Kaira dengan enteng
"baik nyonya". jawab Arla mengerti.
"mommy kapan punya dedek..? " tanya Nova dengan antusias.
Kaira terbatuk-batuk seketika lalu menatap tajam suaminya, Pasha tampak tak merasa bersalah sama sekali.
"siapa yang mengajarimu seperti itu sayang..? " tanya Kaira berusaha untuk tak marah.
"Daddy bilang mommy kelelahan karna tadi malam daddy sedang berusaha memberi adek baru buat kami.. iya kan daddy..? "
Pasha mengangguk-ngangguk antusias.
Dylan hanya tersenyum tipis, fokus dengan makanannya.
tak tau aja Mely dan Matt sedang berusaha menahan tawanya sekuat tenaga.
Kaira membelalakkan matanya ke Pasha,, "apa yang kamu ajarkan padanya..? "
"bukankah kamu yang mengadu padanya sayang..?
aku hanya membela diri.. bukan salahku jika aku mengatakan yang sebenarnya... " jelas Pasha dengan raut wajah tak berdosanya.
"Pasha kau...! " Kaira hendak marah tapi tidak mungkin ia menunjukkan taringnya pada kedua anak-anaknya.
"mommy nggak suka punya adek ya...? " tanya Nova dengan memberengut sedih.
Kaira menggeleng-geleng kepalanya, hingga Pasha tak kuasa menahan senyumnya, ia penasaran bagaimana cara Kaira mengatasi Nova.
"diam..! " geram Kaira
Pasha bungkam dan Kaira berusaha membujuk Nova.
"kamu harus belajar sayang.. jangan belajar apa yang daddy kalian ajarkan ya..? dia hanya menyesatkan kalian aja".
"maksud mommy kami punya adek tersesat..? " tanya Nova dengan bingung..
semua orang tertawa terbahak-bahak seketika, pengawal mereka juga tertawa menutupi mulut mereka sendiri supaya tidak kelepasan.
"kami nggak akan tersesat Mommy". sambung Dylan
Kaira jadi gelagapan bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Dylan dan Nova.
"baik-baik ..! kalian mau adek kan? ". pasrah Kaira
Dylan mengangguk dan Nova mengangguk-ngangguk antusias.
"habiskan sarapan kalian terus sekolah yang rajin ya...?? ". bujuk Kaira tak mau memperpanjang cerita dengan anak-anaknya yang masih polos.
"baik mommy...! " jawab Dylan dan Nova kompak.
Kaira melirik tajam suaminya yang tengah tersenyum puas..
Dylan dan Nova diantar kesekolah dengan 4 pengawal sekaligus..
"kakak pengawal harus pandai menyamar ya..?" bujuk Nova memelas.
"baik nona kecil..! " jawab ke empatnya kompak.
Dylan mengulurkan tangannya ke Nova, tentu sang adik menyambut tangan kakaknya dan mereka masuk ke sekolahnya.
"apa perlu kita berjaga di depan pintu sekolah..? " tanya Arla
__ADS_1
"nggak usah kak..! itu terlalu mencolok.. " sahut Katrina.
"kenapa nggak didepan pintu.? " tanya Umay penasaran
Riska menjawab, "Tuan kecil bakal tersinggung..! "
Umay dan Arla pun mengerti.
"tuan kecil memang sangat hebat, bahkan dibanding kemampuan kita berempat belum tentu bisa mengalahkan ilmu beladirinya..! " puji Umay
"iya..! nona kecil juga sangat hebat..! tapi mereka sangat rendah hati...! " sambung Arla.
Katrina dan Riska mengakui hal itu.
"saya pernah melindungi anak-anak pria konglomerat, tapi yang bersikap baik hanya anak-anak tuan muda Pasha..! padahal sebelumnya saya takut bekerja menjadi pengawal tuan kecil dan nona kecil bagaimana pun mereka keturunan keluarga Melviano yang sangat berkuasa pasti akan bertindak suka-suka tanpa sopan santun tapi mereka malah sangat sopan dan terpelajar".
"itu semua berkat didikan Nyonya muda...! "
"sudah.. sudah.. jangan bergosip..! lihat situasi..! " lerai Arla dengan serius.
mereka bertiga kompak mengangguk mengerti, satu diantara mereka berjaga di dalam mobil dan 3 pengawal yang lainnya berjaga-jaga dengan penampilan biasa.
dikelas.
Nova dan Dylan di tanya-tanya oleh teman-temannya, walau takut tapi mereka dipaksa oleh orangtua mereka untuk memberanikan bertanya pada Nova dan Dylan..
"jadi foto prawedding itu benar nona kecil..? " tanya salah satu anak sekelas Nolan
"iya...!" jawab Nova berbinar
"kapan resepsi nya nona kecil..? "
"1 minggu lagi... hm... sekarang 6 hari lagi... ". jawab Nova berpikir polos
Dylan hanya diam fokus dengan bacaan buku nya tentang managemen usaha milik daddynya, Dylan sangat suka membaca buku terlebih ilmu yang dikuasai oleh daddynya, tak ada yang berani bertanya pada Dylan..
.
.
"iya bu guru...! " jawab semuanya serentak tanpa aba-aba lagi mereka berhamburan lari keluar kelas.
"Kakak.. nova udah lapar..! " rengek Nova mengeluarkan bekal nya.
"loh.. kok udah kebuka..? " gumam Nova dengan bingung.
"apa nya..? " tanya Dylan meletakkan bukunya dan merapatkan kursinya ke adiknya.
"ini bekal makan siang nova udah kebuka kak..! nova tadi yakin bekal ini di tutup rapat-rapat..! " ujar Nova menggaruk rambutnya sendiri.
Dylan merampas bekal makan siang adiknya dan mengendusnya dengan serius.
"jangan dimakan dek..! " perintah Dylan
"loh.. kenapa kak..? " tanya Nova kebingungan
"coba cium..! " Dylan menyodorkan bekal makan siang adiknya..
Nova dengan polos menuruti apa yang kakaknya perintahkan.
"iisssh.. bau apa ini kak..? " tanya Nova menutup hidungnya.
"bau obat dek..! dan dosisnya sangat tinggi.. siapa tadi yang ada didekatmu...? ". tanya Dylan membuang bekal makan siang itu beserta tempatnya ke tong sampah.
Nova berpikir sejenak..
"banyak tadi yang ada didekat Nova kak.. tapi tadi memang ada tangan yang tak sengaja menyenggol pinggang Nova.. !"
"kamu ingat bagaimana bentuk tangannya..? " tanya Dylan
__ADS_1
"hmmm... kuning langsat dan ada jejak cambukan di tangannya...! ". jawab Nova setelah mengingat tangan siapa itu
Dylan membuka miliknya dan tak berbau, "makan ini aja..! setelah itu kita cari pelakunya..! "
"apa ini musuh kakak? daddy? atau mommy kak..? " tanya Nova penasaran
"kakak nggak tau...! " jawab Dylan apa adanya.
Nova dan Dylan makan berdua, lebih tepatnya Nova menyuapi sang kakak yang sangat baik merela kan makan siangnya untuk Nova.. Nova terlalu malas ke kantin sebab tidak punya teman juga.. kakaknya tidak suka ke luar dari kelas alasannya berisik, perpustakaan sekolah yang besar Dylan belum bisa masuk karna belum punya kartu pelajar (belum cukup umur),
masih boleh memasuki perpustakaan kecil.
.
.
Nova mengeluarkan CCTV di sudut meja guru,
"lalu kita cek nya kemana kak..? " tanya Nova berbisik..
"kita ke ruang komputer..! " ajak Dylan
"emangnya boleh kak..? " tanya Nova
"kita gunakan kekuasaan daddy..! " senyum tipis Dylan mengusap kepala Nova
Nova mengangguk semangat..
.
.
kini Nova tengah serius melihat rekaman CCTV di layar komputernya.
"tangannya gemetar saat memasukkan bubuk ke makanan Nova kak..! "
"kita cari tau kenapa anak ini berani mencoba meracuni mu". kata Dylan dengan dingin dan datar.
"iya kak". jawab Nova
.
"Nona kecil..! tuan kecil..! " salam keempat pengawal Nova dan Dylan
"kakak kami harus mengikuti seseorang". Seru Nova sambil masuk ke mobilnya.
"mengikuti..? " beo keempat pengawal itu.
"cepat masuk kak... !" perintah Dylan
Arla dan Umay terkejut lalu segera masuk ke mobil dibagian belakang, Dylan dan Nova duduk ditengah,
Riska sama Katrina di depan mengikuti arahan Nolan..
"anak itu kak ikuti.. tapi jangan sampai ketahuan...! " pinta Nova serius.
"baik nona kecil..! "
Dylan menatap dingin anak perempuan dengan raut wajah ketakutan itu, hal seperti itu biasa bagi anak kecil yang baik disuruh melakukan hal jahat, pasti anak baik itu akan gelisah sebab melawan hati nurani nya.
"sepertinya bukan anak sekolah kita kak..! " bisik Nova dengan serius..
"hmm... seragam nya berbeda. " jawab Dylan membenarkan.
sedangkan pengawal mereka hanya mengikuti apa perintah sikembar walaupun mereka tidak tau apa maksudnya mengikuti anak itu..
.
.
__ADS_1