Cinta Pertamaku Seorang Bos Mafia

Cinta Pertamaku Seorang Bos Mafia
sudah tau


__ADS_3

Pasha membawa keluarga kecilnya ke Apartemennya..


"daddy ini dimana..? " tanya Nova penasaran


Dylan melihat isi apartemen daddynya yang sangat rapi, dan yang pasti sangat bagus dinilainya, Dylan memiliki selera yang sama dengan Pasha.


"daddy mau bertanya soal senjata api ini..? " tanya Nova dengan polos menunjukkan senjata apinya.


Pasha tersenyum lalu menepuk pahanya, Nova berjalan dengan ekspresi imutnya supaya tidak di hukum oleh daddynya


Nova duduk di pangkuan Pasha, Kaira hanya diam menyaksikan kasih sayang Pasha ke anaknya, ia merasa Pasha tidak akan marah karna bagaimanapun Pasha sangat pintar, Pasha pasti tau anak-anaknya memiliki senjata api


awalnya Kaira kaget kenapa anaknya bisa punya senjata api tapi teringat Pasha memang suka ngoleksi senjata api terbaru, jadi tau dari mana anaknya mendapatkan senjata-senjata itu, negara E sangat keras jadi anak usia 4 tahun aja di sana sudah bisa memegang senjata api demi melindungi diri dari para preman jahat di sana


senjata mereka semua ada di negara E, Kaira aja susah payah membeli senjata baru di negara nya kini sebab di bandara tidak boleh bawa senjata


"daddy tau kami mencuri senjata api daddy..? " tanya Dylan yang langsung mengerti tatapan Pasha yang lembut


Pasha tersenyum lembut dan mengangguk . "tentu saja..! "


"daddy nggak marah..? " tanya Nova dengan polos


"kenapa daddy harus marah sayang..? daddy yang harusnya minta maaf pada kalian " ucap Pasha mengelus pipi Nova


"kenapa minta maaf sama kami daddy..? " tanya Nova penasaran


"mommy bakal buat minuman untuk kita..! " Kaira menyelah lalu pergi ke dapur


Pasha menatap punggung Kaira, ia yakin melihat kilauan emas itu..


"siapa kamu sayang..? kenapa kamu bisa memiliki kilauan mata berwarna emas..? " batin Pasha penasaran


"daddy..? " Dylan menepuk tangan Pasha


Pasha tersadar


"apa son..? " tanya Pasha dengan linglung


"Kak dylan tadi nanya kenapa daddy minta maaf..? " tanya Nova menjelaskan pertanyaan di otak kecil mereka berdua


"karna diluar sana anak seusia kalian masih senang bermain dan suka beli mainan tapi kalian harus bermain dengan nyawa, maafkan daddy yang punya banyak musuh hingga tangan kecil kalian harus memegang benda berbahaya itu..! ". Pasha menatap sendu tangan kecil Nova dan Dylan


"kami sudah biasa daddy..! " senyum Dylan dengan tulus..


"daddy tidak tau bagaimana kejamnya hidup dinegara E..! disana sangat banyak perampok, pembunuh, preman, dan lainnya.. jadi senjata api sudah mainan kami sejak kami berusia 4 tahun daddy..! " cerocos Nova dengan fasih


"umur 4 tahun kalian bisa megang senjata api? " tanya Pasha dengan berkaca-kaca


Dylan mengusap rahang daddynya..


"kami nggak mau jadi anak yang lemah daddy.. bahkan sebelum kami bersatu dengan daddy kami sudah punya banyak musuh, jadi udah makanan sehari-hari kami daddy..! "


Pasha mengecup tangan kecil Dylan yang sangat hebat dalam menembak


"jadi daddy tidak akan menghukum kami kan..? " tanya Nova dengan polos

__ADS_1


"bawalah senjata itu sebagai perlindungan kalian sayang.. daddy akan menyewa pengawal untuk kalian juga mommy kalian..! "


"makasih daddy..! " riang Nova memeluk Daddynya


Dylan tersenyum tipis,


"daddy memberikan senjata ini untuk Dylan? ini yang paling mahal dari semua senjata daddy.."


"apapun akan daddy berikan untuk kalian termasuk jantung dan hati daddy sendiri...! " jawab Pasha mengelus kepala Dylan


"artinya daddy mau mati demi kami..? " tanya Nova berkaca-kaca


"tentu..! " jawab Pasha


"kami nggak akan biarkan hal itu terjadi..! " seru Dylan dengan nada dingin.


Pasha terkejut melihat tatapan menyeramkan Dylan tapi ada kehangatan tersendiri baginya


"Nova nggak akan biarkan daddy mati demi kami nova tidak mau punya daddy tiri lagi..! ". keluh Nova memeluk Pasha dengan erat


Pasha terkekeh mendengarnya..


"daddy nggak akan biarkan mommy kalian di sentuh pria lain.. !"


"tapi daddy udah meninggal kan? apa yang bisa dilakukan saat daddy udah nggak ada..? ". tanya Dylan dengan polos seperti anak kecil yang ingin tau saja


"daddy akan gentayangan menghantui pria itu..! " canda Pasha


Nova dan Dylan saling pandang polos tak faham maksud Pasha, Pasha tergelak kencang hingga kedua anaknya itu mengerjab-ngerjab lucu.


"kamu akan menyerahkan jantung dan hatimu Pasha..?? segitunya? kamu benar-benar mencintai kami..! ".batin Kaira menghapus air matanya lalu menarik nafas dalam-dalam


"kalian bicara apa sih..? " tanya Kaira yang pura-pura tak dengar


Pasha tertawa dengan bahu gemetar memeluk kedua anak kembarnya..


"anak-anak ku sangat menggemaskan Kaira, mereka sangat lucu hingga aku merasa mereka masih kecil.. " kekeh Pasha


"mereka memang masih kecil Pasha..! " senyum manis Kaira


"Dylan udah besar...! " protes Dylan tak terima


"baiklah Kakak.! " Pasha mengalah dengan putranya yang satu itu tak suka di bilang masih kecil


"Mommy..! Nova haus..! " rengek Nova turun dari pangkuan Pasha


Dylan duduk disamping Pasha sambil memanyunkan bibirnya dengan alisnya mengerut lucu, ia tak suka di bilang anak kecil


Kaira memberikan minuman yang dia buat ke Nova, Dylan dan Pasha


Kaira meninju dada Pasha yang masih menertawai putranya


"tertawa lagi..? aku tidak akan bukakan pintu untukmu Pasha..! tidur di luar " ancam Kaira


Pasha langsung bungkam dengan raut wajah gelisahnya ia menggeleng-geleng tak terima, giliran Dylan yang mengejek daddynya

__ADS_1


Kaira hanya menggeleng melihat pertengkaran antara daddy dan anak itu, Kaira mengelus kepala Nova yang menghabiskan segelas air minum yang dibawanya tadi


tak lama mereka berdebat telfon Pasha berdering Pasha pasrah mengangkat panggilan dari Nyonya besar.


Dylan makin semangat mengejek daddynya hingga Pasha kena amuk Nyonya besar ditambah kenak omel sang papa (Matt).


"ayo kita pulang...!" ajak Pasha dengan senyum masamnya.


"kenapa Pasha..? " tanya Kaira


"Nyonya besar dan tuan besar marah karna aku tidak juga bawa kalian pulang ke mansion Melviano.. " jawab Pasha dengan lesu


Kaira tersenyum lucu mendengar Pasha menyebut kedua orangtua kandungnya bukan papa dan mama


"biar di hukum granma Daddy ahahaha...!! ". tawa bahagia Dylan melihat wajah berlipat daddy tampannya..


Kaira menggeleng kepalanya, ia tau Dylan sedang menghibur daddynya yang tadinya sedih karna telah membuat mereka dalam bahaya.


"son..? kamu suka melihat daddy di hukum..?" wajah menyedihkan Pasha.


"Nova akan lindungi daddy..! " seru Nova dengan bangga


dilindungi oleh Nova sudah membuat senyum tampan Pasha kembali terbit, ia menggendong putri kecilnya dan mengajak Kaira dan Dylan kembali ke Mansion


Kaira mengelus kepala Dylan, Dylan tersenyum manis ke Kaira pura-pura tak tau apa yang barusan ia lakukan


"kamu sangat pandai menghibur mommy saat sedih sayang..! dan mommy tau kamu juga berusaha menghibur daddymu hanya saja caramu menunjukkannya dengan cara bertengkar..!" batin Kaira


sekalipun Dylan bisa menutupi diri dengan wajah imut dan polosnya tapi tak bisa membohongi Kaira. Kaira sangat mengenal sifat kedua anak-anaknya


Dylan memiliki cara unik sendiri cara membuat orang tersayangnya terhibur


sesampainya di Mansion, Nyonya Mely berlari mengejar Pasha tapi Nova berusaha menghalau granma nya


"kamu bawa kemana cucu-cucu mamah Pasha..? kamu mau mati ditangan mamah hah..? " omel Mely


Sementara Matt memperhatikan Dylan memutar-mutar tubuh cucunya itu takut ada luka walau sedikit


"granfa Dylan pusing..! " keluh singkat Dylan


Matt mengomel tak seperti wibawanya selama ini yang tak banyak bicara, hingga Dylan makin pusing mendengarnya


Kaira tertawa cekikikan melihat kekacauan di depannya, ia bahagia melihat betapa sayangnya Mely dan Matt ke anak-anaknya


"mah.. Pasha ini anak mamah, kenapa menghajar Pasha seperti anak tiri hah..? mereka anak-anak Pasha mah.. Pasha tidak akan membiarkan ada orang lain melukainya..! ". Pasha masih berlari kesana-kemari menghindari kemoceng yang dibawa Mely.


"granma jangan pukul daddy..! Nova yang minta jalan-jalan...! " bela Nova merentangkan tangan kecilnya melindungi daddynya


Pasha meringkuk seperti anak ayam di punggung Nova persis seperti mencari perlindungan sang induk ayam.


Mely mengelus-ngelus dadanya sendiri,, nafasnya naik turun begitu geram pada anaknya yang tak membawa cucu-cucunya pulang tepat waktu


.


.

__ADS_1


__ADS_2