
Pasha termenung sesaat di ruangannya,,
"kenapa aku tidak meliriknya saat itu?? kau benar-benar buta Pasha sejak awal sudah bertemu dengan calon ibu dari anak-anakmu tapi kau malah mencintai penghianat itu..! "
pasha mengoceh sendiri sampai perasaannya tenang, Pasha marah dan menyesali diri tapi apa gunanya penyesalan itu yang paling menyesal adalah Pasha sendiri bukan Kaira.
Kaira hanya korban dari masalahnya dengan Putri, jika Kaira tidak menyelamatkannya malam itu entah apa yang akan terjadi padanya.
"bodoh.. bodoh... bodoh...! ". Pasha melampiaskan segala penyesalannya meninju dinding sampai berkali-kali.
cukup lama merenung akhirnya Pasha kembali ke kamarnya dan tak menemukan Kaira darah di tangannya menetes-netes tanpa henti.
"sayang.? ". Pasha berteriak memanggil wanita yang mengisi seluruh hatinya.
Kaira di balkon diam saja sambil menatap ke arah depan, hatinya masih kesal dengan suaminya itu.
"dia marah waktu aku lupa hari universerry pernikahan kami tapi dia sendiri lupa pertemuan pertama kami? kalau bukan karna pertemuan pertama itu mana mungkin aku mempunyai anak darinya dasar tidak peka..! benar juga sih aku cuma babu saat itu mana mungkin dia melirikku atau tertarik padaku!"
"hanya di dunia novel aja laki-laki kaya jatuh cinta pandangan pertama pada pemeran wanitanya yang miskin ciiih.. aku berharap menjadi pelayannya saat itu untuk bisa melihatnya? gila kenapa aku bisa segila itu dulu".
Kaira menggeremeng sendiri (mengoceh) entah apa yang salah dengannya saat itu hingga begitu gila nekat bekerja jadi pelayan di mansion Pasha padahal dia sarjana.
"kamu disini sayang? aku memanggilmu kenapa nggak jawab? ". Pasha akhirnya menemukan Kaira di balkon
Kaira tak melihat ke arah Pasha yang ada dibelakangnya.
"kamu marah sayang? ". tanya Pasha dengan lembut
Kaira tak menjawab hanya memalingkan wajahnya ke arah lain,
"tanganku terluka..! ". ngadu Pasha
Kaira mendengus tak percaya.
"lihatlah kesamping sayang mungkin darahku sudah keluar sekitar 2 liter". pinta Pasha dengan pelan
Kaira makin tak percaya.
Pasha menarik nafas berat, ia berjalan mendekati Kaira yang tengah memalingkan muka nya Pasha bersimpuh didepan Kaira dan mendongak menatap Kaira
Kaira menggigit bibir bawahnya
"jangan terkecoh mulut manisnya Kaira..! dia hanya tau cara menggodamu.. kesalahannya sangat fatal..! bagaimana bisa lupa pertemuan kami?? "
"aku sudah ingat semuanya..! aku memukul tanganku ke dinding supaya ingat semuanya". lirih Pasha
Kaira tak juga melihat ke arah Pasha
"wajar aja sih kamu nggak ingat.. aku kan babu saat itu mana mungkin seorang pangeran melirikku dunia nyata tak seindah dunia dongeng".
"kamu bukan babu sayang kamu mutiara indah dalam lumpur aku bodoh yang tak melihatmu, aku salah, selama ini aku mengira kalau diriku selalu bisa melakukan yang terbaik, aku yakin bisa memilih wanita yang ku cintai dengan percaya diri, aku melawan mamah ku yang tak merestui hubunganku dengannya, aku putus asa saat tau dia hanya mau balas dendam padaku...! keluarganya yang membunuh kakakku tapi malah mereka yang dendam pada kami karna kakeknya yang mati terbunuh".
"disaat putus asa mamah memintaku menikah dengan perempuan lain yang hatinya benar-benar baik tapi aku tidak bisa mencintainya..! rasa sakit itu masih ada sulit bagiku mencintainya walaupun aku selalu berusaha".
"butuh waktu 5 tahun bagiku sembuh dari luka itu sayang...". lirih Pasha menangkup pipi Kaira ke arahnya
__ADS_1
Kaira merasa hangat di pipinya bukan karna perlakuan Pasha tapi rasanya berbeda, Kaira memegang tangan Pasha matanya melotot kaget melihat darah segar keluar dari jemari tangannya pasha.
"Apa ini? kenapa bisa begini? ". tanya Kaira dengan marah
"aku kan udah bilang tanganku berdarah tapi kamu mengabaikanku sayang". bukannya menjawab malah menjelaskan hal lain.
Kaira bangkit berlari masuk ke kamarnya, Pasha melihat tangannya yang berdarah ia tersenyum tipis
"ini bahkan tak bisa menghilangkan rasa penyesalanku sayang luka ini tak seberapa dibanding hatiku yang selalu saja bisa sakit karnamu". gumam Pasha dengan pelan membolak-balik tangannya.
Kaira kembali membawa kotak P3K, ia menarik tangan Pasha dengan sedikit kasar, anggap saja Kaira sedang ngambek.
Pasha memperhatikan wajah Kaira yang tengah serius mengobatinya.
"pipimu berdarah sayang". Pasha mengusap-ngusap pipi Kaira yang memerah karna darah di tangannya.
Kaira menatap mata Pasha yang tersenyum menatapnya juga.
"dasar bodoh! kamu bodoh melukai tanganmu sendiri hanya untuk mendapatkan perhatianku". galak Kaira
Pasha menggeleng kepalanya..
"aku hanya berusaha menenangkan hatiku yang teringat hari pertemuan kita.. "
"kamu ingat? ". tanya Kaira penuh harap
Pasha mengangguk..
"walaupun dari Ella tapi aku jadi ingat hari itu" . batin Pasha
"tikungan? wanita yang meminta tolong padaku saat di kerumuni banyak preman aku bilang padamu untuk bunuh diri di tebing bukan menabrakkan diri di mobilku aku ingat semuanya".
kaira tersenyum manis..
"jadi ingatlah pertemuan pertama kita Pasha, karna itulah yang membuatku datang ke mansionmu hingga pada akhirnya aku hamil anakmu".
Pasha mengangguk sambil mencium tangan Kaira, "maafkan aku "
"baiklah aku maafkan. ! ayo kita keluar ". ajak Kaira
Pasha dan kaira bersitatap mata.
"iya ". pasrah Pasha
Kaira tersenyum senang,
"apa kita bisa bawa baby kembar? ". tanya Kaira semangat
"hmm.. aku rasa tidak akan di bolehkan". jawab Pasha mengusap tengkuknya yang tak gatal
Kaira menghela nafas panjang, "mamah sama papa terlalu takut ya..? "
"mereka bisa menjaga anak-anak kita sayang oh ya Nova sama Dylan mana?? ". tanya Pasha teringat sikembar pertamanya.
"mereka juga jalan-jalan sama bunda dan Ayah katanya mau ke kota A ada urusan, terus Nova pengen sekali ikut ingin melihat kota A dengan mata kepalanya sendiri".
__ADS_1
"ooh.. Nova pergi sudah pasti Dylan ikut ". gumam Pasha
"tentu saja.. nova kan tanggung jawabnya katanya sedangkan aku tanggung jawabmu". kekeh Kaira
Pasha tersenyum..
"kalian semua tanggung jawabku dan akan selalu aku lindungi dengan segala kemampuanku"
"aku tau itu". jawab Kaira membenarkan
.
.
Kaira dan Pasha tiba di gang sempit mobil Pasha tidak bisa masuk karna tidak muat jalannya.
"ini rumah siapa sayang? ". tanya Pasha heran
"ada ibu-ibu saat itu yang di dorong oleh perempuan jahat karna meminta uang padanya, kasihan ibu-ibu itu sampai di tampar dan didorong kasar oleh perempuan jahat itu".
"oh ya..? kamu nggak boleh sembarang percaya dengan orang asing sayang". peringatan Pasha dengan serius.
"aku lihat ibu itu nggak berbohong.. lagian saat itu ada Nova dan Dylan bersamaku umay dan Katrina ada juga"
Pasha menghela nafas mendengar penuturan polos Kaira.
"kamu belum bisa membedakan mana kawan dan lawan sayang? "
"aku tau..! ". ketus Kaira tak terima
"lalu kenapa kamu nggak tau kalau Nayna yang kamu anggap teman itu nggak baik hmm?? dia lawan berkedok teman sayang.. bahkan kamu nggak tau sampai Nova dan Dylan besar".
Kaira bungkam seketika,
"temani aku".
Pasha pun menemani istrinya ke gang kecil itu, ia juga tidak mungkin membiarkan istrinya pergi sendiri kan?
"waah... siapa nih..?? ". puluhan preman yang berjaga di gang itu menghampiri Pasha dan Kaira
Pasha merangkul pinggang Kaira dengan posesif, tatapannya lurus kedepan saat banyak yang menatap takjub istrinya matanya memerah saat ini.
Kaira meneguk salivanya bersusah payah, ia melihat ke arah Pasha yang tak mau menatapnya.
"ya Tuhanku.. selamatkan orang-orang ini dari amarah suamiku". batin Kaira berdoa dengan tulus
Kaira tau bagaimana mengerikannya Pasha melawan Mafia apalagi hanya preman.
.
.
.
.
__ADS_1