
Malam harinya Kaira terbangun seperti biasa, ia melirik suaminya yang tengah memeluknya dengan erat.
"aku ingin masuk hutan lagi..? " batin Kaira melihat jam dinding.
entah kenapa gilanya Kaira bisa melihat kegelapan, padahal Kaira takut gelap tapi sejak hamil bisa-bisanya ia masuk hutan tanpa senter.
dengan hati-hati Kaira memindahkan tangan Pasha tapi mata Kaira membulat sempurna melihat tangannya di borgol dengan tangan Pasha.
"apa aku di tangkap polisi..? kenapa tanganku begini...? " batinnya polos
ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal,
"gimana cara kaburnya..? " gumam Kaira dengan pelan
Kaira berusaha mencari kunci borgol nya kini di kantong celana Pasha.
"mau kabur lagi sayang..? " tanya Pasha dengan nada datar
"su.. suamiku? kamu belum tertidur..? " tanya Kaira gugup
"apa kamu berharap aku tidur sayang..? " tanya Pasha balik
Kaira jadi gelagapan karna ketangkap basah, "ak.. aku...! "
"kamu nggak akan kemana-mana sayang, sebentar lagi lampu akan padam.. bukankah kamu takut gelap..? " Pasha mengeratkan pelukannya.
"nggak takut lagi..! " jawab Kaira jujur
"hah? " Pasha perlahan membalik tubuh istrinya tangan mereka masih diborgol sama-sama sebelah kanan.
"aku masuk hutan tanpa senter..! " cengir Kaira
Pasha tertegun mendengarnya, ia baru menyadari Kaira kabur malam hari otomatis masuk hutan juga masih gelap mana ada lampu dalam hutan.
"kamu nggak takut sayang..? " tanya Pasha memastikan
Kaira mengangguk dengan raut wajah serius, tak berapa lama lampu padam.
"sayang...? " Pasha memeluk istrinya.
Kaira diam saja dipelukan Pasha malah matanya melihat sekeliling, mata Kaira bisa melihat dengan jelas saat ini.
"kenapa..? " tanya Kaira mendongak manja ke suaminya.
Pasha menatap ke Kaira dengan alis mengkerut, "kamu benar-benar nggak takut sayang..? "
"aku bisa melihat dengan jelas kok,nggak gelap.. " sungut Kaira menunjuk alis Pasha yang mengkerut.
Pasha mengerjab-ngerjabkan matanya tak percaya,
"aku makan aja deh... siapin makanan buat aku janjinya mau buatkan sup kepiting tapi nggak juga dibuatkan..! " rajuk Kaira dengan kesal.
Alhasil Pasha membawa istrinya ke dapur dengan tangan masih terborgol, ia tidak mau kecolongan kedua kalinya.
sekitar jam 2 malam Pasha membuatkan istrinya makanan, Pasha bisa memasak sebab pernah tinggal di apartemen sendiri, tapi hanya masak menu tertentu.
Kaira tak ada pilihan lain selain memeluk suaminya dari belakang, tangannya mengikuti gerakan tangan Pasha yang sangat ligat memasak.
__ADS_1
"muah...!! " Pasha mengecup kening istrinya.
Kaira tak pakai jilbab karna malam-malam juga, di mansion ini tidak ada Pria selain supir mereka Chiko yang pasti sudah tidur di kos belakang dekat banyaknya mobil terparkir, Matt mertua Kaira jadi nggak perlu dipermasalahkan oleh Pasha.
"kapan masaknya...? " desak Kaira
"sabar sayang..! ini daging dalamnya harus empuk dong..! " bujuk Pasha
Kaira mendengus,, sambil menunggu masakannya Pasha membuatkan istrinya susu ibu hamil dan meminta istrinya untuk meminumnya.
Kaira tersenyum manis seperti biasa ia tak bisa meminumnya sampai habis sisanya pasti Pasha.
.
.
"udah makannya..? " tanya Pasha mengusap bibir Kaira yang belepotan dengan tisu
tiba-tiba Kaira menangis hal itu membuat Pasha panik.
"kenapa sayang..? karna gelap? iya..? " tanya Pasha segera memeluk istrinya
Kaira menggeleng-geleng kepalanya.
"aku senang punya suami...! "
Pasha tersentak dengan kata-kata Kaira seolah tertuju saat Kaira mengandung Nova dan Dylan tak ada suami, hati Pasha kembali sakit seperti diremas.
"maafkan aku sayang...! maafkan aku yang jahat ini... " Pasha menciumi puncak kepala Kaira
"aku nggak mau kamu pergi.. hiks.. hiks... aku sayang kamu suamiku". isak Kaira
ia dengan hati-hati melepaskan borgol dirinya aja lalu menggendong istrinya dengan hati-hati, berhubung mati lampu Pasha menggunakan tangga ke kamarnya.
Pasha terkejut melihat ada sikembar dikamarnya dengan raut wajah khawatir, Pasha segera memberi isyarat ke anak-anaknya untuk tak ribut.
mereka dengan patuh mengekori Pasha yang menggendong mommynya ke ranjang.
"kenapa tangan mommy daddy..? " tanya Dylan berbisik
"mommy kalian tadi mau kabur ke hutan, jadi daddy borgol dengan tangan daddy". bisik Pasha
Dylan mengangguk, Nova udah naik ke atas ranjang memeluk mommy nya, Pasha menggaruk kepalanya sendiri..
"nanti kunci tangan mommy kalian gimana..? " bisik Pasha kebingungan
"Daddy bisa tidur di pinggir dekat mommy kan? Dylan nggak apa di ujung yang penting bisa bersama mommy". bisik Dylan
"kalau begitu kamu jaga adikmu jangan sampai jatuh ya son..! " bisik Pasha
Dylan mengangguk patuh.
"ayo sana tidur...! "perintah Pasha
mereka semua bisa saling melihat satu sama lain di dalam kegelapan.
ke esokan paginya Pasha mengantarkan anak-anaknya sekolah terlebih dahulu di ikuti Riska dan Katrina dengan mobil lain, barulah ia membawa istrinya ke rumah sakit demi mengecek kondisi janin Kaira.
__ADS_1
"berapa usia kandungan anak saya dokter..? " tanya Pasha penasaran
"masih terlalu muda tuan belum cukup 2 minggu" jawab dokter Cici senior Haura.
dokter Haura membantu Kaira duduk dan menimbang berat badan, ia mengecek seperti suster saja.
"bagaimana berat badan nyonya muda Haura..? " tanya dr. Cici
"sangat memuaskan dokter senior, kalau timbangannya bisa dikatakan nyonya sangat bahagia " jawab Haura
"kenapa berat badan istri saya dokter..? " tanya Pasha
"berat badan istri tuan muda sangat mempengaruhi perkembangan bayi, dilihat sangat memuaskan pasti keluarga Melviano sangat menjaga pola makan nyonya muda ya tuan..?? " goda dr. cici masih dengan sopan
Pasha tersenyum, "istri saya makan bisa 5 sampai 6 kali sehari dokter...!!"
dr. cici melebarkan senyumnya lagi..
"artinya anaknya nanti bakal kuat makan tuan muda tapi harus diberi nutrisi yang baik ya tuan..? jangan semua permintaan nyonya di turuti aja harus diselingi makanan sehat..! "
"saya mengerti dokter". ucap Pasha tersenyum gemas menatap sang istri yang tengah memain-mainkan alat timbangan badan.
Kaira mematuhi apa yang diperintahkan Pasha memeriksa kandungannya lewat manapun.
"hasil pemeriksaannya baik-baik saja tuan..! " ucap Dr. Haura dengan puas
Pasha menghela nafas lega lalu mengecup sayang punggung tangan Kaira.
"mumpung lagi di rumah sakit.. apa tuan muda tidak mau melakukan USG..? " tawar dr. Haura
Pasha langsung menerima tawaran Haura, ia tak sabar melihat bentuk anaknya di perut sang istri.
Kaira diam saja menatap langit-langit di atasnya saat benda dingin bermain-main di perut datarnya, Pasha berkaca-kaca melihat layar monitor USG.
"anak tuan masih kecil ya tuan muda .! belum ada kaki atau tangan". ujar Haura dengan senyum lebarnya
Pasha terharu saat ini, ia merasa impiannya tercapai dengan sayangnya ia mengecup punggung tangan Kaira berkali-kali.
"begitu bentuk anak saya dok.. ? benar-benar kecil seperti kacang". Pasha berkata sambil menggenggam tangan Kaira
"iya tuan muda.. jadi anak nya harus dijaga baik-baik ya tuan? biar bisa melihatnya tumbuh besar di perut nyonya muda..! " jelas Haura menahan senyumnya saat ini.
bagaimana bisa seorang Pasha Melviano terlihat seperti anak sekolah yang tak mengerti pelajaran, jika di umbar ke media mungkin akan menertawai gemas tingkah Pasha yang sangat menyayangi istrinya.
"sayang...? " panggil Pasha menatap lembut istrinya
"hm..? " kaira yang melihat langit-langit beralih ke Pasha.
"kenapa..? " tanya Pasha lagi
"nggak ada..! " cengir Kaira
Pasha mengusap pipi Kaira dengan sayang lalu kembali beralih ke monitor.
dulu Kaira tidak pernah USG, jadi tak terlalu tertarik dengan alat itu, Kaira hanya mau anaknya tumbuh sehat dan lahir dengan normal, melakukan USG saat itu hanya buang-buang uang apalagi biaya nya sangat besar saat dinegara E.
.
__ADS_1
.