
"apa yang dilakukan pria tadi ya? jebakan apa yang dia lakukan? ". Umay berkata dengan penasaran
Nisa melihat sekeliling apakah ada yang membuatnya curiga
mereka diam beberapa saat mencerna apa yang kemungkinan terjadi.
"Mobil..! ". seru Umay dan Nisa kompak.
Umay dan Nisa berlari kencang ke arah parkiran mobil, mereka segera memeriksa CCTV belakang mobil, dan dalam mobil.
"ku mohon semoga perasaan kita salah! ". gumam Nisa penuh harap.
Umay masih serius mencari sekiranya yang mencurigakan saat mobil ini tertinggal.
DeG!!
"matilah kita..! ". Umay beralih ke Nisa
Nisa langsung merampas laptop Umay yang selalu mereka bawa di bangku paling belakang,
Nisa bisa melihat ada seorang wanita berpakaian tertutup tapi rambutnya disanggul tinggi berjalan mendekati mobil ini dan langsung menunduk seperti melakukan sesuatu.
"Astagah..! apa bom? ". tebak Nisa
"bukan! ". jawab Umay
"sepertinya merusak rem". sambungnya lagi
Nisa memijit kepalanya sendiri saat menyadari kebodohan mereka, tapi masih syukurnya mereka bisa mencegah hal buruk terjadi nantinya.
"kita harus bagaimana? ini mobil Melviano". desak Umay
"sepertinya otakmu sudah geser ya? apa lagi yang kita lakukan coba? sudah pasti nggak bawa mobil ini...! kamu mau kita membunuh tuan kecil dan nona kecil terlebih lagi kita juga dalam bahaya sekali pun ini mobil melviano, mobil ini juga boleh masuk bengkel kan? ". celoteh kesal Nisa
Umay menjambak rambutnya dengan frustasi
"jika kita nggak menyadarinya lebih cepat nyawa tuan kecil dan nona kecil dalam bahaya".
"kita bisa mencegah hal buruk itu terjadi! kita hubungi aja tuan Mars". saran Nisa
"baiklah terserah mu aja aku masih memikirkan pria tadi dan wanita yang menyabotase mobil ini". pasrah Umay
Umay dan Nisa berlagak seperti tak tau apa-apa tentang mobil ini, mereka sengaja tetap di dalam mobil mengurus masalah spele ini tapi membahayakan nyawa.
"kalau sampai kita membawa mobil ini terus di kejar-kejar mobil lain bagaimana? bisa mati kita Ya Tuhan.. kenapa aku bisa seceroboh ini?? ". dumel Umay menyesali diri
Nisa mematikan panggilannya lalu menepuk bahu Umay dengan pelan
"kenapa kamu fikirkan? kita masih baik-baik aja terus nona kecil dan tuan kecil juga baik-baik aja jangan di fikirkan ya? yang ada kamu bisa stress ! beruntung aja kita bisa tau lebih awal.!". tutur umay menyemangati Umay
Nisa bisa melihat tangan umay yang gemetar seolah baru saja melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan!
Mars menelfon lagi, segera Nisa mengangkatnya
"saya tuan! ". Nisa menyahut langsung
"tinggalkan saja mobilnya disitu, akan ada pekerja bengkel yang datang ! jaga nona kecil dan tuan kecil dengan baik". ujar Mars dengan tegas
__ADS_1
"baik tuan". jawab Nisa lagi
Mars mematikan panggilannya secara sepihak, nisa menyimpan ponselnya dan terus menenangkan Umay yang masih gemetar.
"kenapa kamu gemetar sih? kan bukan kita yang salah..! kita hanya kecolongan aja ". Nisa berusaha menjelaskan kalau mereka berdua tak bersalah.
"aku takut! aku takut tuan muda marah besar nisa". bisik Umay dengan takut.
"lebih marah lagi kalau kita tak menyadari kesalahan kita lebih awal.. sudahlah umay jangan difikirkan nanti kamu sakit". bujuk Nisa
"kamu nggak merasakan apa yang aku rasakan Nisa aku yang membawa mobil ini jika hal buruk terjadi akulah yang salah! ". bisik Umay dengan nada gemetar
Nisa sampai pusing sendiri membujuk Umay yang masih merasa takut dan gemetar padahal tak terjadi apa-apa dengan mereka semua.
jam pulang sekolah tiba Nisa dan Umay memberi hormat pada Dylan dan Nova.
"kita naik taksi tuan kecil". ucap Nisa dengan sopan
"ada apa kak? ". tanya Nova kebingungan
Dylan melihat raut wajah pucat Umay, "katakan! "
Nisa dan Umay menjelaskan kejadian tadi dan akhirnya sikembar mengerti.
"lalu kenapa kak Umay gemetar? ".tanya Nova heran
"dia ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi jika kami tak menyadarinya lebih awal nona kecil! ". jawab Nisa
Dylan tersenyum miring..
apa kamu mau aku memecatmu? mentalmu lemah sekali".
"tidak tuan kecil.. tidak.. saya akan mengatasinya sendiri dengan baik". geleng-geleng tak terima Umay
"kakak..! kenapa mengancam memecat Pengawal daddy..? ". tanya Nova dengan heran
"hanya mengancam aja". jawah Dylan dengan santai
Nova beralih ke Umay dan memegang tangan Umay yang dingin
"semua sudah baik-baik aja kakak! lagian kami baik-baik aja kok, jangan terlalu di fikirkan ya? "
hati Umay jadi menghangat mendengarnya, Nova benar-benar bisa membuatnya tenang.
"taksi nya sudah datang tuan kecil nona kecil".potong Nisa dengan sopan
Umay segera membukakan pintu mobil dan Dylan malah memilih duduk didepan Umay dan Nisa dibuat heran tapi mereka menepis pikiran itu dan duduk dibelakang menjaga Nova.
"jalan pak! ".perintah Dylan
"ba.. baik tuan". jawab sang supir tergagap melihat Dylan yang sangat mirip penguasa kota ini.
taksi melaju dengan kecepatan sedang tak ada yang salah dalam perjalanan mereka,
.
"kenapa? kenapa mereka nggak membawa mobil itu?? ". teriak seorang pria yang mirip dengan Mexy.
__ADS_1
"aku juga nggak tau! jelas-jelas tadi aku udah hati-hati nggak ada yang melihatku sama sekali". bantah wanita yang merasa tertuduh.
"kau yakin bekerja dengan benar hah? ". teriak Marsy adik kandung Mexy.
"iya". balas wanita itu tak kalah kuat teriakannya
"selama 1 tahun ini aku melatih diriku supaya lebih baik, aku bisa membunuh bocah ingusan itu yang telah membunuh kakakku.. tendangannya membuat kakakku masuk rumah sakit dan meninggal beberapa minggu kemudian.. monster seperti itu tidak boleh tumbuh besar.. dia harus di musnahkan..! ". geram Marsy dengan penuh dendam
"iya Marsy aku tau..! tapi kendalikan emosimu kamu selalu membentakku karna bocah itu.! aku kekasihmu Marsy jika kamu mencintaiku kamu nggak akan seperti tadi..! "
Marsy menarik nafas pelan dan menghembusnya kasar, berkali-kali melakukannya sampai dirinya tenang.
Marsy memang nggak bisa mengendalikan emosinya kalau membahas sosok dylan, baginya Dylan hanya monster kecil yang akan jadi monster mengerikan saat dewasa nanti jadi harus di musnahkan supaya dunia ini aman fikirnya, padahal hanya sebuah dendam atas kematian kakaknya.
.
.
Dylan ada di kamarnya dan sedang berpikir
"aku dengar Mexy tiada ! apa karna ku? jadi tadi saudaranya? balas dendam kah? "
Dylan menggeleng kepalanya seketika, ia sudah berganti pakaian dan langsung pergi ke kamar baby kembar
"mommy? ". sapa Dylan tersenyum tipis
Kaira merentangkan tangannya, Dylan berjalan tenang dan masuk dalam pelukan Kaira.
"kenapa tadi pagi nggak pamit sama mommy sayang...? ". tanya Kaira dengan nada merajuk
"Kiss morning mommy..! ". Dylan mengecup kening dan punggung tangan Kaira
Kaira tertawa dengan tingkah anaknya itu yang sangat menggemaskan.
"sayang mommy yang menggemaskan !". mencubit pipi Dylan lalu kembali bertanya dengan heran,
"mana Nova sayang? "
"Nova mungkin dikamarnya mommy..! nanti pasti kesini melihat baby kembar". jawab Dylan melihat ada ranjang kingsize di kamar ini padahal sebelumnya tidak ada
"permintaan Mommy sayang! biar bisa rebahan disini". jawab Kaira yang tau isi kepala anaknya itu.
Dylan mengangguk mengerti jadinya, ia berjalan ke box bayi dan tersenyum tulus menatap baby Keyzo dan Kaisha.
.
.
.
.
co cweetttt...! Dylan sayang gemesiiin...!!
.
.
__ADS_1