
Pasha berlari mendekati istrinya.
"sayang ?". Pasha langsung memeluk Kaira dengan mesra walau terganjal dengan perut buncit Kaira.
"ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang!". jelas Pasha dengan panik
Kaira melepaskan pelukannya dari Pasha.
"aku percaya sama kamu suamiku, Pasha ku yang seorang bos Mafia tidak akan suka di sentuh wanita lain".
mendengar kata bos Mafia Marissa langsung gemetar ketakutan.
"kenapa kamu datang tanpa mengabariku sayang? " tanya Pasha menuntun Kaira duduk di sofa mewahnya.
"tunggu disitu ya sayang! aku akan bereskan hama yang satu ini". pinta Pasha dengan lembut mengusap kepala Kaira
Kaira menyeringai lebar dan mengangguk pelan
Kaira berdalih ke Marissa yang tubuhnya gemetar-gemetar, hal itu membuatnya tersenyum tipis dia sengaja membongkar identitas suaminya biar tidak ada perempuan yang berani mendekati suaminya.
seperti Kaira dulu, saat tau Pasha begitu kejam membunuh orang seperti itulah kira-kira ketakutan Kaira dulu sama seperti Marissa sekarang.
Pasha berjalan ke meja kerjanya dan menghubungi bawahannya.
"Panji...! urus wanita murahan ini.. pastikan dia tidak ada lagi di muka bumi ini". perintah Pasha lalu mematikan panggilannya
"am.. ampuni saya tu...tuan". ucap Marissa terbata-bata dan bibir bergetar takut, ia juga menangkupkan tangannya memohon belas kasih.
Kaira bangkit seketika..
"jangan membunuhnya suamiku, kamu lupa aku sedang hamil..? "
Pasha terpaku seketika
"maafkan aku sayang..! emosi ku langsung saja membludak tadi hingga lupa anak kita.. baiklah aku tidak akan membunuhnya".
Pasha tidak akan marah kalau ada manusia yang menodongkan pistol padanya, masih bisa tenang dan terkontrol tapi berbeda jika sudah didekati wanita murahan emosinya Pasha tidak akan bisa di tahan.
Pasha mengusap perut buncit Kaira.
"maafkan daddy nak ! jangan takut sama daddy ya..? daddy nggak jahat kok kalau sama mommy kalian dan darah daging daddy sendiri".
Marisaa tak berani berbicara, bibirnya sudah kelu dan punggungnya terasa dingin untuk pertama kalinya Marissa berkeringat dingin saat tau siapa Pasha.. apalagi ancaman Pasha tadi yang memerintahkan bawahan Pasha untuk membunuh dirinya.
Kaira tersenyum lega, lalu berjalan mendekati Marissa dan berdiri didepan Marissa yang tengah menunduk ketakutan..
"kau masih mau hidup..? " tanya Kaira dengan gamblangnya
"masih nyonya ! saya masih mau hidup". jawab Marissa dengan lirih
"jangan pernah tunjukkan dirimu lagi di depanku apalagi didepan suamiku, kali ini aku mengampunimu tapi tidak untuk kedua kalinya!". tegas kaira tak main-main
"s. saya berjanji nyonya terimakasih atas kemuliaan hati anda ". ucap Marissa terbata
.
"maafkan saya terlambat tuan muda..! " Panji menunduk hormat ke Pasha namun terkejut ada Kaira di ruangan ini.
__ADS_1
"buang dia keluar..! ". titah Pasha
"dan membunuhnya tuan muda. ?". sambung Panji memastikan
"tidak perlu.! jangan dibunuh buang aja" ralat Pasha
Panji menunduk hormat pada Kaira lalu menarik Marissa untuk bangkit, Marissa terhuyung mengikuti Panji.
Pasha mendekati Kaira, tapi Kaira menghindar sambil bersidakap dada.
"sayang..? ". Pasha menatap istrinya dengan linglung.
"aku mau tau dimana kamu menyadapku..? " tanya Kaira dengan kesal
Pasha menaikkan alisnya sebelah, "menyadap apa sih sayang..?"
"kamu menyadapku kan? iya kan? ". ketus Kaira dengan tatapan curiganya
Pasha menarik nafas dalam-dalam..
"kenapa aku harus menyadapmu sayang..? kamu bukan mata-mata bagiku, kenapa harus disadap? "
Kaira mengangguk membenarkan,
"tapi aku merasa kamu menyadapku..? kenapa kamu bisa tau aku dimana aja..? "
"aku menyuruh Arla mengikutimu kemana aja sayang hanya itu saja". bela Pasha mendekati Kaira menangkup mesra pipi Kaira
"benarkah? kamu nggak berbohong..? ". tanya Kaira masih curiga
"lalu ngapain wanita tadi datang? kamu senang menatap belahan dadanya..? ". Kaira menepis tangan Pasha lalu berkacak pinggang
Pasha melihat Kaira berkacak pinggang dengan perut buncitnya itu terlihat menggemaskan, ia pun tertawa..l
Kaira yang geram meninju-ninju dada bidang suaminya, "aku nggak bercanda..! kamu menikmati pemandangan itu kan? iya kan?? "
Pasha tergelak keras menikmati pukulan cemburu istrinya itu.
"dasar pria.. sangat suka dengan dada wanita kalau kamu suka katakan saja aku akan membesarkan dadaku biar dilihat pria lain ". geram Kaira
seketika Pasha bungkam, "kamu bilang apa sayang? "
kaira tak menjawab ia membalik tubuhnya dan berjalan cepat hendak keluar ruangan Pasha yang mana Pasha mengejar Kaira sekarang giliran Pasha yang cemburu gila saat ini.
Pasha dengan cepat mengunci pintu ruangannya,
Kaira melototinya, "menyingkir.. cepat.. "
"aku sama sekali nggak melihatnya sayang.. aku bisa bersumpah untuk itu..! bagiku kamu yang tersexy sayang, semua yang ada di tubuhmu membuatku menggila.. aku benci perempuan yang sudah pernah tidur dengan banyak pria.. aku jijik dengan hal itu". jelas Pasha dengan memelas
Kaira menatap suaminya mencari keseriusan itu,
"benarkah? "
"iya sayang..! itu sebabnya aku marah besar tadi hendak membunuhnya". Pasha memegang kedua bahu Kaira dengan perlahan
"aku yang salah, jadi jangan hukum aku dengan ancaman mu tadi sayang, aku bisa gila karna hal itu" lirih Pasha berkaca-kaca
__ADS_1
Kaira tersentak melihat tatapan Pasha.
"hei.. suamiku.. aku tadi hanya kelepasan aku nggak akan mau juga membiarkan pria lain melihat dadaku ! masa kamu nangis sih? ". Kaira menangkup pipi Pasha dan mengecup kelopak mata Pasha
"aku mencintaimu sayang! ". ucap Pasha dengan tatapan lembutnya yang pasti membuat kemarahan Kaira hilang begitu saja.
"aku juga mencintaimu suamiku ! jangan sedih ya? ". senyum manis Kaira
Pasha memeluk Kaira sebisany yang membalas pelukannya, begitulah mereka kalau bertengkar masalah perempuan atau laki-laki tidak akan bertahan lama Pasha bisa memenangkan hati istrinya dengan cara yang tulus.
Pasha tau hati istrinya itu sangat lembut jadi harus dibalas dengan perasaan supaya istrinya tersentuh, bukan saling marah-marah hingga main kabur-kaburan dari rumah,
hal biasa dalam rumah tangga mereka tapi tak ada yang tau bertengkaran mereka sebab di luar sana mereka berdua dikenal pasangan manis yang bahagia tak pernah berdebat.
"aku ingin melihat anak kita sayang". sendu Pasha
Kaira tersenyum malu dengan anggukan kecilnya, pasha menuntun istrinya ke ruangan pribadinya, disanalah mereka saling memadu kasih dengan penuh cinta.
setelah itu mereka mandi bersama-sama, pasha juga mengeringkan rambut Kaira yang basah barulah berganti pakaian.
"kamu mau kemana sayang? ". tanya Pasha
"pulang! ". jawab Kaira dengan polos
Pasha tersenyum mendekati istrinya yang sudah rapi dengan hijab kekiniannya, "tunggu aku ya sayang"
"kamu cepat pulangnya Pasha..? ". tanya Kaira
"kalau ada kamu aku akan cepetin sayang". gemas Pasha
"masa sih? aku tadi lihat berkasmu setinggi gedung perusahaanmu". tanya Kaira balik tak percaya
Pasha tergelak, "aku Rajanya aku pulang ya suka-sukaku sayang".
Kaira mendengus jadinya, "baiklah yang mulia "
Pasha mencubit sayang kedua pipi Kaira yang memberengut..l
.
.
"aku lapar.. " rengek Kaira yang sudah gelisah di sofa
Pasha yang sedang menandatangani berkas setinggi gunungnya segera meninggalkan pekerjaannya dan mendekati Kaira.
"makan apa sayang..? " tanya Pasha berjongkok didepan istrinya
"makan apa ya..? makan yang enak menurutmu apa suamiku ? harus yang baru ya? pokoknya yang belum aku rasakan"
Pasha terkekeh dan mengangguk pelan
"ayo sayang.. !"
.
.
__ADS_1