
''Ayahnda, saya ingin memiliki pedang itu saya ingin pergi ketempat tersebut,'' ucap Aidan duduk berhadapan dengan sang ayah.
''Tidak putraku kau tidak bisa pergi kesana tempat itu cukup berbahya untuk kita para siluman. Tapi kau tidak perlu khawatir kita akan mendapatkan pedang itu setelah para harimau putih mendapatkannya kita akan merebutnya dari mereka!'' ujar Bagaskara.
''Baik ayahnda,'' sahut Aidan.
Aidan pun pergi meninggalkan ayahnya, dia pergi bersama Gavar ke hutan.
''Tuan Aidan apa saya boleh bertanya?'' tanya Gavar sambil berjalan di tengah hutan.
''Tentu saja apa yang ingin kau tanyakan,'' sahut Aidan.
''Kenapa Anda sangat menginginkan pedang itu, kenapa kau tidak mengincar kitab harimau putih kitab itu sangat hebat. Mungkin lebih hebat dari pedang tersebut,'' ucap Gavar.
''Aku tahu semua para siluman menginginkan kitab tersebut, tapi saya hanya menginginkan pedang itu saja saya ingin menghabisi seseorang dengan pedang itu!'' ujar Aidan.
Gavar menatap Aidan setelah mendengar perkataan darinya, Gavar tidak mengetahui siapa yang ingin di habisi oleh Aidan.
''Siapa orang yang ingin tuan habisi?'' tanya Gavar.
''Gantala harimau jadi-jadian yang satu itu, yang telah menghabisi saudara laki-laki ku dan dia juga hampir membunuh ku!'' sahut Aidan.
__ADS_1
''Kalau seperti itu saya pasti akan mendukung tuan,'' ucap Gavar.
Aidan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
''Satu lagi, jangan panggil saya tuan sebut saja namaku agar kita menjadi lebih akrab,'' ucap Aidan. Mereka berdua kembali berjalan di tengah hutan tersebut.
DESA INDAH
Malam itu semua warga desa berjaga-jaga di setiap desa mereka, Aulia dan Bara berjaga di desa mereka bersama warga lainnya ustadz Karim dan pak kades juga ikut berjaga-jaga malam itu.
Mereka duduk bersama di sebuah pondok di jalan desa tersebut mereka saling ngobrol dan menikmati makanan ringan di pondok itu.
DI TEMPAT LAIN
''Saya perintahkan kau untuk mengganggu warga desa kalau perlu kau hancurkan desa itu juga!'' perintah Ratu sanca.
''Baik Ratu saya akan melakukan perintah Ratu,'' sahut Buk Ina.
Ilmu itu membuat Buk Ina menjadi manusia ular dengan wajah penuh dengan sisik ularnya dan rambut yang bersangul. Dengan cepat Buk Ina menyusuri sungai.
Dari kejauhan terdengar suara warga meminta tolong karena mereka di kejar oleh ular besar.
__ADS_1
''Pak ada suara orang yang lagi minta tolong,'' ucap warga.
Aulia dan Bara pun menoleh ke arah warga yang bicara. Mereka yang duduk di pondok tersebut keluar mencari orang yang sedang meminta tolong.
Setelah mereka semua sampai ke arah warga yang meminta tolong itu. Mereka pun langsung bertanya.
''Ada apa pak?'' tanya ustadz Karim.
''Pak ada ular raksasa di sana pak, sekarang warga sedang melawan ular itu!'' ucapnya dengan napas memburu.
''Kami akan pergi ke sana pak, bapak dan para warga tetaplah disini jangan kemana-mana,'' ujar Aulia.
Ustadz Karim melarang Aulia dan Bara pergi untuk mendekati ular raksasa tersebut.
''Kalian jangan kesana pasti itu ular siluman, kalian bisa mati di punuh ular itu,'' larang ustadz Karim.
''Jangan khawatir pak, doakan saja semoga kami selamat melawan ular bersama warga lainnya,'' ujar Aulia.
.
.
__ADS_1
.
. BERSAMBUNG..