Harimau Aulia

Harimau Aulia
bertarung


__ADS_3

Aulia begitu geram melihat Aidan, tapi dia tidak bisa melawan saat ini, dia hanya bisa menyerahkan kitab itu kepada Aidan.


"Apa yang kau lakukan Aulia? apa kau akan menyerahkan kitab itu kepadanya?!" tanya Bara.


"Apa lagi yang bisa aku lakukan, selain menyerah," jawab Aulia.


"Jangan lakukan itu, mereka bisa menghancurkan kita bukan hanya itu, tapi desa juga ingatlah orang-orang disana," ujar Bara.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aulia.


"Aku ada ide agar kita tidak perlu menyerahkan kitab itu." Bisik Bara matanya tetap fokus menatap Aidan.


"Beritahu aku caranya," ujar Aulia.


"Kita harus lari dari sini," ajak Bara.


"Kau ingin kita menjadi pengecut seperti mereka, aku tidak bisa," jawab Aulia.

__ADS_1


"Kau masih saja memikirkan gengsi kau itu, saat ini kita berdua tidak punya pilihan lain, selain pergi dari tempat ini," cecar Bara.


"Baiklah aku akan mencoba ide gila kau itu," sahut Aulia.


Saat Aulia dan Bara membalikkan badan mereka, ternyata di belakang mereka, sudah berdiri murid Bagaskara disana untuk menghalangi Aulia dan Bara pergi.


"Aulia-Aulia! Kau jangan seperti harimau pengecut seperti ini, kau serahkan saja kitab itu kepadaku, dan aku akan membebaskan kau pergi," ujar Aidan berjalan mendekati Aulia. Dia pun segera menyerang Aulia dan Bara, mereka saling berkelahi di hutan itu.


Bara melawan Gavar dan yang lainnya begitu juga dengan Aulia bertarung dengan Aidan. Ilmu demi ilmu mereka keluarkan untuk menjatuhkan salah satunya.


Meskipun pedang itu di tangan Aidan, tapi Aidan belum mampu mengalahkan ilmu Aulia.


"Apa maksud perkataan kau itu? Apa kau yang telah menghabisi adik Gentala?!" tanya Aulia menatap Aidan.


"Tentu saja, tapi melalui orang lain." Aidan tersenyum puas.


Setelah mendengar penjelasan Aidan Bara segera mengubah wajahnya menjadi Gantala dia langsung menyerang Aidan bertubi-tubi dengan ilmu raganya. Membuat Aidan terpental jauh dari tempat dia berdiri, Gavar yang melihat semua itu dia segera membawa Aidan dari hutan tersebut. Begitu juga dengan teman-temannya meninggalkan hutan.

__ADS_1


"Sudah! cukup Gantala, mereka sudah pergi. Jangan kau sia-siakan ilmu kau itu, untuk siluman seperti mereka kita masih membutuhkan ilmu yang kuat untuk mengambil kembali pedang itu," ucap Aulia.


"Ternyata dialah yang telah menghabisi nyawa adikku." Bara terlihat begitu marah.


"Kau pulanglah sekarang, aku ingin pergi mencari Langit mungkin dia berada di sekitar hutan ini," ujar Aulia.


"Aku juga ikut denganmu," sahut Bara.


Malam sudah begitu larut, tapi Aulia dan Bara masih berkeliaran di hutan mencari keberadaan sang Elang tersebut. Mereka terus mencari sesekali mereka istirahat di bawah pohon besar di hutan itu.


Di desa indah, sudah begitu sunyi senyap, dimalam hari warga desa indah tidak ada yang berani keluar dari rumah mereka, karena menurut mereka di malam hari banyak mahkluk-mahkluk buas dan siluman berkeliaran.


Naura dan Bayu begitu juga dengan anak buahnya sudah bersepakat untuk mengembalikan tanah milik pak Rahman kepada Aulia.


"Terimakasih kamu sudah mau mengembalikan tanah itu kepada Aulia," ucap Naura tersenyum.


Bayu menganggukkan kepalanya, "Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengan Aulia, maupun dengan tanah itu. Nanti aku akan memberitahu pak kades tentang semua ini," ujar Bayu sambil memegang pundak Naura.

__ADS_1


.


Bersambung dukungan vote ya


__ADS_2