Harimau Aulia

Harimau Aulia
Sanca siluman ular


__ADS_3

Seseorang berjalan dengan tergesa-gesa menuju warga yang sedang ngobrol di halaman mesjid. Dengan napas naik turun.


"Ada apa Pak? tergesa-gesa sekali?" tanya ustadz Karim.


"Iya Pak ada apa?" tanya warga juga bertanya.


"Saya dapat kabar dari desa seberang ada penampakan ular besar melintasi sungai itu," sahut orang dengan terbata-bata.


"Yang benar saja Pak? jangan mengada-ada," ujar warga tidak percaya.


"Apa Bapak melihat ular itu?" tanya warga.


"Saya memang tidak melihatnya, tapi warga desa seberang sudah ramai mendatangi sungai itu," sahutnya.


"Ada apa lagi dengan desa kita ini, kemarin harimau sekarang ular," ujar Warga.


"Betul Pak, soal harimau saja belum selesai sekarang malah ular," sahut warga lainnya.


Aulia dan Bara hanya bisa diam saja mendengar warga saling sahut.


"Apa yang harus kita lakukan ustadz?" tanya warga.


"Kita berdoa saja semoga Allah SWT melindungi kita semua," sahut ustadz Karim.


"Ustadz saya harus pulang sekarang soalnya nenek sendiri di rumah," ujar Aulia berdiri dari duduknya.


"Saya juga harus pulang ustadz," ujar Bara.


Semua warga pun pulang ke rumah 🏠 mereka masing-masing.


Setibanya Aulia di rumah dia melihat sang nenek sudah tidur di kamarnya Aulia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa menoleh ke arah jam yang ada dinding kamar, pukul 10.00 malam Aulia mendekati lemari pakaiannya dia mengeluarkan kitab itu dan membukanya dia mulai duduk bersila di samping tempat tidur


Aulia menggerakan tangannya untuk mempelajari kitab itu tubuhnya mengeluarkan cahaya dia mencoba konsentrasi untuk menguatkan dirinya agar ilmu itu bisa di terima oleh tubuhnya. Tiba-tiba Raja Agra datang dan langsung duduk di hadapan Aulia dia juga membantu Aulia agar tubuhnya tetap kuat. Satu jam berlalu Aulia membuka matanya dengan perlahan dia melihat sang kakek sudah berada di depannya dengan tersenyum, Aulia pun membalas senyum itu dengan wajah penuh keringat.


''Tubuh kamu cukup kuat untuk menerima kekuatan itu teruslah pelajari karena sekarang ini siluman-siluman sedang mengincar kitab ini,'' ujar sang Kakek.


''Siluman?'' tanya Aulia mengulangi perkataan Kakeknya.


''Iya, berapa siluman telah mengetahui bahwa kitab Harimau putih itu sudah berada di tangan kamu,'' sahut sang kakek.


''Apa ular besar yang melintasi sungai di desa seberang adalah siluman?'' tanya Aulia menatap sang kakek.

__ADS_1


''Dari mana kamu tahu?'' tanya sang Kakek.


''Aku mengetahuinya dari warga kek,'' sahut Aulia.


Sang kakek memejamkan matanya dia mencoba memanggil Bara tidak lama Bara pun segera datang dengan wujud harimau putih dia langsung masuk ke dalam kamar Aulia, agar Bu Lilis tidak mengetahui kehadiran mereka Aulia terkejut melihat wujud Bara yang berwujud harimau di depan matanya.


Bara mengubah wujudnya menjadi manusia kembali.


''Guru Anda memanggil saya,'' ujar Bara.


''Iya saya ingin memberi tahu kalian berdua bahwa siluman ular Sanca sudah datang kepermukaan dia sedang mencari kitab harimau putih, kalian berdua harus berhati-hati dengan makhluk yang satu ini siluman ular itu sangat berbahya,'' ujar Raja Agra.


''Apa yang harus kami lakukan, apa kami harus menghabisinya guru?'' tanya Bara.


''Iya itu yang harus kalian lakukan, kalau tidak siluman itu akan menganggu dan bisa saja dia akan menghabiskan warga lainnya,'' sahut Raja Agra. Setelah memberi tahu tentang siluman ular itu Sang guru pun segera pergi dari kamar Aulia.


Aulia kembali menutup kitab itu dan menaruhnya kembali ke dalam lemari pakaiannya saat itu Bara melihat dimana Aulia menyimpan kitab itu, Aulia membaca doa dalam hatinya agar tidak ada yang bisa melihat kitab itu selain dirinya.


''Apa kita berdua mampu melawan siluman ular itu?'' tanya Aulia.


''Aku tidak tahu, tapi jika kita tidak mampu melawannya kita bisa minta bantuan dari murid guru yang lain,'' ujar Bara.


''Sebaiknya begitu agar kita tahu kemana arah siluman Sanca itu pergi,'' sahut Bara.


''Kalian mau pergi kemana?'' tanya Bu Lilis yang berdiri di belakang Aulia.


''Tidak kemana-mana nek, kita hanya ingin jalan-jalan saja,'' sahut Aulia berbohong.


''Kamu jangan membohongi nenek terus Aulia nenek mendengar semua perkataan kalian,'' ujar Bu Lilis.


''Nenek, ini sudah menjadi tangung jawabnya Aulia nek untuk harus melindungi desa kita,'' sahut Aulia.


''Iya nek, nenek hanya perlu mendoakan kami saja agar kami tidak kenapa-napa,'' ujar Bara.


''Aulia nenek mau bertanya sama kamu, apa kamu sudah menjadi seseorang yang nenek khawatirkan selama ini?'' tani Bu Lilis.


''Nenek sudah tahu itu, tidak perlu Aulia jelaskan,'' sahut Aulia menundukkan kepalanya.


Bu Lilis menutup mulutnya dengan ke dua telapak tangannya, dia belum bisa menerima bahwa cucunya telah berubah menjadi sosok yang menyeramkan meskipun dia sendiri sudah tahu bahwa Aulia bukan lah manusia biasa dialah sosok harimau putih itu. Tapi Bu Lilis benar-benar belum bisa menerima kenyataan itu, Bu Lilis berdiri sepoyongan Aulia segera menangkap tubuh sang nenek dan mendudukinya di sebuah kursi yang ada di ruangan itu.


''Nenek kenapa?, bukannya nenek sudah tahu sejak dahulu bahwa Aulia bukan manusia seutuhnya, bahkan Aulia sendiri baru tahu kalau Aulia seperti ini,'' ujar Aulia sambil duduk di depan sang nenek.

__ADS_1


''Iya nenek tahu, tapi nenek belum bisa menerima kenyataan. Nenek tidak mau kehilangan kamu," sahut Bu Lilis sambil menangis.


''Aulia tidak akan pergi kemanapun nek Aulia tetap disini bersama dengan nenek,'' sahut Aulia sambil menghapus air mata sang nenek.


''Bara apa kamu juga sudah tahu semua ini?'' tanya Bu Lilis.


''Iya nek Bara sudah tahu semuanya," sahut Bara.


''Sejak kapan kamu mengetahui semua nya?'' tanya Bu Lilis.


''Sejak kejadian menimpa Pak Rahman waktu itu,'' sahut Bara.


Bu Lilis berdiri dari duduknya dia berjalan mendekati Bara, Bara tidak mengerti kenapa? Bu Lilis mendekatinya.


''Bara nenek mohon sama kamu, tolong jangan beri tahu siapa pun tentang semua ini nenek mohon sama kamu,'' ujar Bu Lilis.


''Nenek tidak perlu memohon sama Bara, nenek tahukan Bara sama Aulia bersahabat dari kecil Bara tidak akan berhianat kepada Aulia,'' sahut Bara tersenyum.


Bu Lilis menganggukkan kepalanya Bu Lilis memeluk Bara dan juga Aulia, Bu Lilis sudah menganggap Bara sebagai cucunya sejak dahulu.


.


.


Berapa jam berlalu Bara sudah pulang ke rumahnya dia duduk bersila di kamarnya dengan konsentrasi dia ingin memulihkan tenaga dalamnya agar bisa melawan Sanca si Ratu ular tersebut sewaktu-waktu bisa saja mendatangi dia dan Aulia.


Begitu juga dengan Aulia dia terus mempelajari tentang kitab itu agar tenaganya terus bertambah dia menggerakkan tangannya dengan dan mulai konsentrasi.


.


.


.


.


.


.


...BERSAMBUNG... JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT TIPSNYA. HANYA CERITA FIKSI...

__ADS_1


__ADS_2