
Bara masih menemani Aulia di bawah pohon besar yang sedang memulihkan kekuatannya. Di dalam Aulia yang sedang berkonsentrasi Raja Agra memberikan pesan kepadanya.
''Cepatlah kau cari pedang pusaka permata putih itu, sebab musuh mu akan terus bertambah kau tidak bisa hanya mengandalkan Bara seorang dia tidak cukup kuat untuk melawan banyak musuh,'' ucap Raja Agra hanya terdengar suaranya saja.
Setelah mendengar suara sang kakek, Aulia pun segera terjaga dari konsentrasinya.
''Ada apa?'' tanya Bara menoleh ke arah Aulia.
''Kakek bilang kita harus menemukan pedang itu secepat mungkin,'' sahut Aulia.
''Bagaimana kita bisa menemukannya, kita saja tidak tahu jalan menuju Gua tujuh itu,'' ujar Bara.
''Aku tahu siapa yang bisa menemani kita, pasti dia juga mengetahui jalannya,'' sahut Aulia.
''Siapa?'' tanya Bara menatap Aulia.
''Langit, dia pasti tahu jalan menuju Gua tujuh itu, dia seekor elang pemilik pedang tersebut pastinya dia sangat tahu kan?'' tanya Aulia.
Bara menganggukkan kepalanya.
''Yang penting kau jangan memanggil Gantala ya,'' ujar Bara.
''Kenapa?'' tanya Aulia.
''Kalau kau memanggil dia, maka otomatis wajah ganteng ku ini, tergantikan dengan wajah dia,'' sahut Bara.
__ADS_1
Aulia pun tertawa mendengar perkataan lucu sahabatnya itu.
''Bagaimana bisa, aku juga membutuhkan Gantala,'' ucap Aulia tersenyum.
''Sudahlah Aulia jangan butuhkan dia masih ada aku,'' sahut Bara sambil terus berjalan.
Hari sudah mulai subuh Aulia dan Bara masih duduk di bukit.
''Aulia... Aku ingin bertanya kepada mu,'' ujar Bara.
''Kau mau tanya apa?'' tanya Aulia.
Mereka berdua menatap ke arah matahari terbit dari atas bukit.
''Aku belum tahu ke mana aku akan pergi, mungkin tetap di desa ini menemani nenek dan berkebun dengannya,'' sahut Aulia.
''Aku merasa sedih dan merasa bersalah kepada ayahku,'' ujar Bara.
''Kenapa?'' tanya Aulia.
''Bagaimana tidak, jika suatu saat nanti ayahku tahu, tentang diriku yang sebenarnya dan yang pastinya aku juga akan meninggalkan dia sendiri,'' sahut Bara.
''Memangnya kau mau pergi ke mana?'' tanya Aulia mengerutkan keningnya.
''Aku tidak tahu, yang pastinya aku akan mati jika terus bertarung melawan para siluman, yang akan terus menyerang kita,'' sahut Bara.
__ADS_1
''Yang pastinya aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika kau tidak ada siapa yang akan menjadi teman ku,'' ucap Aulia.
''Kau ini jangan terlalu manja dengan ku, bagaimana pun kau pasti akan menikah,'' sahut Bara sambil tertawa.
''Menikah?... Dengan siapa aku akan menikah dengan mu?'' tanya Aulia.
''Issh!... Jijik sekali aku mendengar kata-kata kau itu, ya tentunya kau akan menikah dengan sebangsa kita,'' sahut Bara, ''atau kau masih mencintai Naura anak kota itu?'' tanya Bara.
Aulia menatap Bara, dan kembali berjalan,''Aku tidak tahu apakah aku masih mencintai dia atau tidak yang pastinya aku masih mengingatnya,'' sahut Aulia.
Tidak lama mereka pun tiba di desa, dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Aulia melihat neneknya sedang membersihkan halaman rumahnya, Aulia pun duduk di sebuah kursi yang ada di halaman rumah itu. Dia melihat sang nenek semakin hari semakin tua Aulia merasa takut jika suatu saat dia juga akan kehilangan sang nenek.
''Kenapa kau melihat nenek seperti itu?'' tanya Buk Lilis.
''Tidak nek,'' sahut Aulia tersenyum.
.
.
.
BERSAMBUNG JANGAN LUPA MINTA UPDATE
__ADS_1