Harimau Aulia

Harimau Aulia
Pertemuan Aulia dan kakek kandung nya


__ADS_3

''Maksud kalian apa?, apa saya tidak akan bisa keluar dari hutan ini?'' tanya Bara dengan wajah cemas.


Aulia mendengar itupun menjadi ketakutan karena dia tidak ingin sahabatnya itu kenapa-napa.


''Siapa kalian mengapa kalian berani sekali memasuki hutan ini?'' tanya seseorang dari belakang.


Aulia menoleh ke arah suara tersebut. Dia melihat bahwa orang itulah yang ada di dalam mimpinya.


''Aulia...


Aulia pun mendekati orang tua tersebut dia tersenyum ke arahnya dan langsung memeluknya, sang kakek pun membalas pelukan hangat dari cucunya itu. Yang telah lama tidak bertemu. Sejak Aulia di serahkan kepada Pak Rahman dan Bu Lilis waktu itu.


''Ayo ke tempat kakek,'' ajak sang Kakek.


''Kek, apa saya boleh membawa sahabat saya ke tempat kakek?'' tanya Aulia.


''mengapa kamu membawa Manusia ke desa ini,'' sahut sang Kakek.


''Dia sahabat aku kek namanya Bara dia orang yang baik,'' ujar Aulia.


''Itu sangat bahaya buat dia, kamu tahu itukan manusia biasa tidak boleh masuk ke desa ini,'' ujar sang Kakek.


''Bukankah di desa ini juga ada manusia biasa, mengapa Bara tidak bisa?'' tanya Aulia.


''Dengarkan cucuku, mereka yang ada di desa ini tidak akan keluar dari tempat ini, tetapi sahabat kamu itu. pasti akan keluar dari tempat ini itupun kalau dia selamat,'' ujar sang Kakek.


''Terus aku harus bagaimana kek aku gak mau Bara mati di tempat ini,'' sahut Aulia.


Sang kakek pun terdiam karena dia tahu Bara tidak akan bisa selamat keluar dari tempat itu.


''Bawa sahabat kamu masuk,'' ujar Kakek. Aulia menganggukkan kepalanya dan memanggil Bara.


''Bara,'' Panggil Aulia.


''Iya,'' sahut Bara.


''Ayo kita masuk dan istirahat di tempat kakek,'' ajaknya.


Mereka pun mengikuti langkah sang kakek.


''Aulia ini tempat apa?'' tanya Bara melihat bangunan bambu di depannya.


''Inilah tempat yang ada di dalam mimpi ku itu, baguskan,'' ujar Aulia.


''Iya tempat ini sangat indah,'' sahut Bara.


''Ayo silakan duduk, mereka semua ini adalah murid-murid kakek,'' ujarnya.


Mereka murid-murid itu melihat ke arah Aulia dan Bara dengan tatapan tajam tanpa ada senyuman di wajah mereka.


''Aulia apa mereka semua adalah harimau?'' tanya Bara sambil berbisik di telinga Aulia.


''Aku tidak tahu, jangan berkata seperti itu di tempat ini,'' sahut Aulia yang juga berbisik.


''Assalamulaikum,'' ucap Aulia dan Bara serempak.


''Waalaikumsalam,'' Jawab Mereka yang ada di dalam pondok Bambu itu.


''Tempat ini sangat nyaman, apa ini pesantren?'' tanya Bara kepada sang kakek.

__ADS_1


''bukan cucuku, di sini lah tempat kami salat berzikir dan mengaji,'' sahut sang kakek.


Bara hanya mengangguk saja, sambil melihat-lihat ke atas tempat itu.


''Aulia kakek mau bicara sama kamu,'' ujar sang Kakek.


''Boleh kek,'' sahut Aulia.


''Bukan di sini tapi di tempat lain,'' ujar Kekek.


Bara menoleh ke arah Aulia.


''Kamu tunggu di sini ya,'' ujar Aulia kepada Bara, Bara menganggukk kepalanya.


Aulia pun pergi bersama sang kakek entah ke mana meninggalkan Bara bersama murid-murid itu.


''Kita ke mana ini kek?'' tanya Aulia yang terus berjalan mengikuti sang kakek.


Mereka pun berhenti di sebuah sungai yang luas dengan air yang begitu tajam dan deras.


''mengapa kakek membawa aku ke sini?'' tanya Aulia yang masih belum mengerti mengapa kakeknya mengajaknya ke sungai itu.


''Kakek ingin mengatakan tentang teman kamu itu, apa dia tahu kalau kamu keturunan manusia harimau?'' tanya sang Kakek dengan tatapan tajam lurus ke mata Aulia.


Aulia menjadi ketakutan melihat orang tua yang ada di depannya itu, ''Iya kek dia tahu kalau Aulia seorang harimau,'' sahut Aulia.


''Bagaiman bisa dia mengetahuinya?'' tanya sang Kakek.


''Bara melihat Aulia bertarung dengan bangsa harimau kuning saat menuju ke sini,'' ujar Aulia.


''Apa kamu yakin dia tidak akan menceritakan semua ini kepada orang lain?'' tanya Kakek.


''Dia harus melupakan tempat ini dan kejadian yang lainnya, ini tidak baik untuk kamu dan bangsa kita,'' ujar Kakek.


''Bagaimana caranya kek?'' tanya Aulia sambil mengerutkan keningnya.


''Kakek akan menghapus ingatannya tentang hutan ini,'' sahut sang kakek.


''Apa dengan cara itu Bara bisa selamat keluar dari Desa ini?'' tanya Aulia.


Aulia tidak ingin terjadi apa-apa kepada sahabatnya itu.


''Tidak,'' sahut sang kakek.


''Jadi untuk apa kakek menghapus ingatannya jika Bara tetap akan mati!'' ujar Aulia tidak mengerti.


''Ada satu cara yang bisa menyelamatkan Dia dari tempat ini,'' ujar Kakek.


''Apa?'' tanya Aulia, "Apa kek?" tanya Aulia lagi menunggu jawaban dari sang kakek.


"Dia harus menjadi bagian dari kita," sahut sang Kakek.


Deg....


Aulia membulatkan matanya setelah mendengar penjelasan dari kakeknya.


"Itu tidak mungkin kek, dia hanya manusia biasa Aulia tidak setuju kek, kalau sahabat Aulia menjadi bagian dari bangsa kita," ujar Aulia, setelah mengatakannya Aulia pun pergi meninggalkan sang kakek di sungai itu, Aulia tidak mengerti resikonya jika harus keluar dari tempat itu.


"Bara ayo kita pergi dari tempat ini!" ujar Aulia dengan wajah merah.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bara bingung.


"Kalian tidak boleh pergi malam ini," ujar sang Kakek tiba-tiba sudah ada di tempat itu. Semua murid pun menghalangi mereka.


"Ada apa ini?'' tanya Aulia.


''Aku jadi takut," ujar Bara, ketakutan melihat semua murid menghalangi mereka pergi.


''Minggir!'' ucap Aulia.


''Malam ini kalian tidak boleh pergi, karena di luar sana sangat berbahya, istirahatlah dahulu besok kalian boleh pergi,'' ujar sang kakek.


Mereka pun kembali ke dalam pondok yang terbuat dari bambu itu, rumah-rumah yang ada di. Desa terlarang itu semuanya terbuat dari bambu meskipun sederhana namun terlihat indah.


.


.


Murid-murid perempuan menyiapkan makan malam untuk mereka semua Aulia masih keliatan marah dengan keputusan sang kakek yang ingin mengubah Bara menjadi bagian darinya.


''Aulia ceritakan sama aku apa? yang kalian bicarakan tadi?'' tanya Bara.


''Kami tidak bicara apa-apa,'' sahut Aulia, dia tidak mau menceritakan tentang siang tadi kepada Bara.


''Kamu tidak berbohongkan sama aku, tadi saja kamu keliatan marah?'' tanya Bara.


Aulia tidak menjawab dia hanya diam saja.


''Ayo semuanya kita makan,'' ujar sang Kakek.


''Baik guru,'' sahut Murid-muridnya.


Aulia terlihat tidak menikmati makan malam itu. Mungkin dia masih memikirkan nasib sahabatnya itu.


Karena Bara tidak tahu apa-apa dia begitu lahap memakan makanannya yang ada di depannya.


.


.


''Apa sudah saatnya aku memberikan kitab harimau putih ini kepada Aulia,'' batin sang Kakek yang berdiri di kamarnya.


''Anak ku Bunga, sekarang ini anak mu telah dewasa dia juga bagian dari bangsa kita,'' gumam Raja Agra.


.


.


.


.


.


...BERSAMBUNG...


...JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT TIPS...


...CERITA INI HANYA LAH CERITA FIKSI...

__ADS_1


__ADS_2