
"Aulia, apa yang harus kita lakukan? kalau nanti Ghani kembali ke desa itu?" tanya Bara.
"Kau tidak perlu khawatir, karena kakek akan perintahkan! muridnya untuk menjaga desa seberang," jawab Aulia.
"Kau mau ke mana?" tanya Bara melihat Aulia bersiap-siap.
"Mau cari makan, mau ikut gak?" tanya Aulia, berjalan mendahului Bara.
"Kalau soal makan aku yang nomor satu," jawab Bara mengejar Aulia.
Sampainya meraka di warung Gadis, mereka segera memesan makanan. Pagi ini di warung tersebut cukup ramai dengan warga desa yang ingin makan di warung itu,
Bara melirik kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat, dengan cepat Bara mengubah wajahnya menjadi Gantala, Aulia, begitu terkejut melihat Bara mengubah wajahnya menjadi Gantala.
"Gantala! kenapa kau mengubah wajahmu, di tempat ini, kau tahu ini umum!" ucap Aulia.
"Aku tahu, tapi saya ingin mengingatkan saja, kalau kita harus mendapatkan pedang itu kembali. Saya tidak mau terjadi sesuatu kepada bangsa kita yang masih tinggal di hutan terlarang. Apa kau ingin mereka mati!" Hardik Gantala.
"Saya tidak lupa soal itu, kita harus mempunyai strategi untuk mengelabui Aidan tanpa dia menggunakan pedang itu," jawab Aulia ," cepat ubah kembali wajah kau itu, apa kau ingin kita dalam bahaya!" ucap Aulia.
Gantala kembali mengubah wajahnya menjadi Bara.
"Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan pedang itu?" tanya Bara.
"Kita harus pergi menemui Aidan, kalau di haruskan kita akan masuk ke wilayah mereka!" sahut Aulia.
Bara menganggukkan kepala. Bara mengerti, kalau ingin menghadapi Aidan harus ada strategi, yang bisa membuat Aidan mengembalikan pedang tersebut.
"Jangan sampai kau menukar, kitab dengan pedang," ujar Bara.
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku menukarnya dengan kitab, itu akan menjadi sesuatu yang bodoh!" jawab Aulia.
Tidak di sangka seorang warga mendengar percakapan Aulia, dan Bara, di warung itu.
__ADS_1
"Bara, Aulia, kitab apa yang kailan maksud kan?" tanya warga itu.
"Kitab apa Pak? kami tidak membicarakan tentang kitab," jawab Aulia.
"Tadi saya dengar, kalian bicara soal kitab dan pedang, emangnya pedang apa?" tanya orang itu lagi yang masih penasaran dengan percakapan mereka.
"Ngak ada apa-apa kok Pak, mungkin bapak salah mendengar, ucapan kami barusan, kita berdua hanya membahas tentang parang. Yang akan kita bawa ke hutan untuk mencari rotan," jawab Bara tersenyum. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ohh.. Kirain pedang apa," ucap warga itu, dia pun kembali duduk di kursinya dan kembali menyantap makanannya. Sambil mengingat tentang ucapan Aulia dan Bara tadi.
"Jelas-jelas saya mendengar mereka bicara soal kitab dan Pedang." Batin orang itu.
Bara dan Aulia pergi meninggalkan warung Gadis, di perjalanan menuju pasar, Bara melihat Gadis berjalan dengan seorang pria, yang tidak dia kenal.
"Siapa laki-laki itu yang bersama Gadis?" tanya Aulia mencoba mengusik temannya itu.
"Mana aku tahu! Kenapa kau bertanya kepadaku, tanya saja sama dia!" ujar Bara ketus.
"Aduh! adik Gadis, kenapa kau membuat hati Abang Bara, sakit seperti ini melihat kau bersama orang lain," ujar Aulia menggoda Bara yang sedang patah hati.
"Kalau memang kau tidak cemburu, kenapa kau marah?" tanya Aulia tersenyum lebar.
"Ngak kok, gak ada yang marah," jawab Bara ketus.
Aulia hanya tersenyum, mendengar ucapan Bara. Yang cemburu.
"Bara, kau sedang apa disini?" tanya Gadis sambil memilih-milih sayur.
"Mau ke tempat Ayah saya," jawab Bara, " siapa Pria itu?" tanya Bara masih penasaran dengan laki-laki tersebut.
"Pria yang mana kau maksudkan?" tanya Gadis.
"Tadi saya lihat kamu, bersama dengan seorang laki-laki, siapa dia?" tanya Bara lagi.
__ADS_1
"Dia itu sepupuku," jawab Gadis sambil meletakkan sayurannya di dalam keranjang. Dan pergi tanpa basa-basi lagi.
"Kenapa Gadis main pergi-pergi aja, kan? saya belum selesai bicara," gumam Bara.
Di tempat lain Aulia, bersama dengan Ayah Bara, di tempat penjualan rotan-rotan itu.
"Aulia, Bara, mana? kenapa kau sendiri saja?" tanya Pak Sury sambil mengumpulkan rotan-rotannya.
"Tadi aku lihat dia lagi bicara dengan Gadis," jawab Aulia, "boleh aku bantu paman," Aulia menawarkan diri untuk membantu.
"Boleh kamu tolong kumpulkan yang sebelah sana, soalnya itu mau paman bawa pulang," ucap Pak Sury.
Aulia segera membantu Pak Sury mengumpulkan rotan-rotannya, Bara pun datang dengan wajah cemberut.
"Ada apa dengan kau?" tanya Aulia.
"Itu si Gadis, aku belum selesai bicara, dia malah main pergi saja!" Jawab Bara.
"Emangnya apa yang kau katakan? sehingga dia pergi begitu?" tanya Aulia.
"Aku cuma bertanya, siapa Pria yang bersama dia tadi," jawab Bara.
"Terus," sahut Aulia singkat.
"Dia bilang itu hanya sepupunya, tapi gak mungkin kan? masak sepupu harus sedekat itu," ujar Bara ketus.
Bara yang masih sangat mencintai Gadis, dia tidak ingin wanita yang dia cintai bersama orang lain. Meskipun dia tahu kalau Gadis tidak mencintai dirinya, Bara juga mengetahui bahwa seorang harimau, tidak bisa mencintai seseorang manusia.
Dari kejauhan Aulia, memperhatikan Bara sahabatnya itu, yang sedang melamun, tapi dia tidak berani pertanya. Dia mengerti bahwa sahabatnya itu sedang patah hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG