
"Dimana Gantala? Kenapa dia belum kembali juga?" tanya Raja Agra dia juga merasa khawatir dengan kondisi Bara saat ini.
Saat Bara, sadar mulutnya kembali mengeluarkan darah segar.
"Saya kembali guru." saat ini Gantala berdiri di depan pintu rumah mambu, Gantala melihat Bara yang semakin sekarat. Tanpa bicara banyak Gantala segera masuk ke dalam tubuh Bara yang semakin melemah itu, seperti arwah memasuki raganya.
"Biarkan sahabat mu beristirahat dulu," ucap Raja Agra kepada Aulia.
Aulia menganggukkan kepalanya, dia pun pergi dari tempat itu dia ingin berjalan-jalan di desa terlarang sebab sudah lama dia tidak melihat desa ini.
"Aulia, apakah itu kau." Panggil seseorang yang suaranya cukup familiar di pendengaran Aulia.
Aulia menoleh ke arah sumber suara tersebut dia adalah. Hari teman kecil Aulia di desa itu. Anak kecil tersebut langsung berlari menghampiri Aulia dan memeluknya.
"Kenapa kau tidak pernah datang ke tempat ini?" tanya Hari sambil melepaskan pelukannya.
"Aku masih punya urusan di desa ku, jadi aku tidak bisa datang ke tempat ini setiap hari, apa kau sangat merindukan ku?" Tanya Aulia tersenyum.
"Tentu saja aku merindukan mu, kau kan teman ku," sahut Hari.
__ADS_1
"Baiklah aku minta maaf karena tidak bisa selalu menjadi teman mu," ucap Aulia mengulurkan tangannya.
Hari pun membalas uluran tangannya mereka pun saling memaafkan.
Hari membawa Aulia ke sebuah batu besar yang berada di hutan terlarang, mereka duduk di atasnya, Hari hanya menatap ukiran pelangi di sore itu.
"Apa kau sangat menyukai pelangi?" Tanya Aulia matanya juga fokus menatap pelangi.
"Iya, kau tahu kenapa? karena setiap kali aku menatap pelangi, sekan aku melihat kedua orang tua ku," ucap Hari anak kecil itu.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Aulia tersenyum.
"Coba saja kau bayangkan, jika kita memiliki orang tua pasti hidup kita akan indah seperti pelangi itu, penuh dengan warna-warni." Hari hanya fokus memandang pelangi tersebut.
Berapa saat mereka terdiam mereka berdua hanya fokus memandang pelangi yang melengkung dengan warna-warnanya yang indah di pandang.
"Aulia, apakah aku boleh bertanya tentang teman kau itu?" Tanya Hari.
Aulia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa teman kau itu, selalu sakit dan kenapa setiap dia sakit kau membawanya ke tempat ini? Setahuku manusia harimau bisa mengobati diri mereka sendiri. Tetapi teman mu itu tidak bisa mengobati dirinya sendiri, apa dia bukan seorang harimau?" tanya Hari.
"Aku tidak bisa menceritakannya, karena ceritanya sangat panjang, aku akan menjawab satu dari pertanyaan mu itu. Dia juga seorang manusia harimau, hanya saja sakitnya terlalu parah hingga dia tidak bisa mengobati dirinya sendiri." Aulia pun tersenyum.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi, tapi kau tahu selama kau tidak berada di tempat ini, ada pertarungan di desa ini yang begitu sengit antara harimau putih dan ular raksasa," ujar Hari
"Apa!" Aulia begitu terkejut mendengar perkataan Hari.
"Kau tahu, aku melihat semua kejadian itu, tapi kau tidak perlu khawatir murid-murid kakek sangat hebat ular-ular itu pergi bahkan ada yang mati!" Hari bicara seperti anak-anak umumnya.
"Apa kau melihat ular raksasa itu seperti apa wajahnya?" tanya Aulia penasaran siap siluman ular yang berani mendatangi hutan terlarang ini.
"Iya, dia ular raksasa yang menyeramkan ular itu setengah manusia, aku sangat ketakutan melihatnya, saat itu aku bersembunyi di rumah ku bersama kakak ku. Aku melihat dari kejauhan wajah ular itu rusak yang di penuhi oleh sisiknya" ujar Hari.
"Apa siluman itu adalah Gahni? tapi untuk apa dia ke hutan terlarang ini," batin Aulia.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung