
Bara melihat sang ayah sedang bersembunyi dibalik pohon, dia begitu ketakutan melihat manusia ular itu.
Bara keliatan sangat marah melihat Ghani menakuti Ayahnya. Tapi dia sendiri tidak bisa mengubah wujudnya di depan sang Ayah, Bara hanya mengambil sepotong kayu dan melemparnkannya ke arah Gahni yang berwujud ular itu.
"Bara sedang apa kau disini?" Tanya pak Sury terkejut melihat Bara ada di gunung itu.
"Hahahaha..." Ghani tertawa terbahak-bahak," Bara-Bara! Kenapa kau tidak mengubah wujudmu? Apa kau takut Ayah mu mengetahui semuanya!" Ghani melilitkan tubuhnya di sebuah pohon besar yang tidak jauh dari Bara berdiri saat ini.
"Ayok Ayah kita pergi dari sini, dia adalah siluman ular!" Ucap Bara memegang tangan sang Ayah.
Bara dan Pak Sury segera pergi berlarian turun dari pegunungan itu.
"Larilah kau Bara, seperti harimau ketakutan sebentar lagi Ayah mu akan tahu siapa dirimu!" ucap Ghani sambil mengejar Bara dan pak Sury.
Tiba-tiba seekor harimau putih menghalangi jalan Ghani yang sedang mengejar Bara.
"Harimau putih? Kau selalu saja menghalangi urusan ku!" Ucap Gahni.
Ghani dan harimau putih itu mulai berkelahi di gunung tersebut. Pak Sury yang penasaran dia pun menoleh ke belakang dia terperanjat melihat sosok harimau itu, dia hanya pernah mendengar cerita harimau putih. Tapi saat ini dengan mata kepalanya sendiri melihat harimau tersebut yang tengah bertarung menyelamatkannya dan Bara.
"Ayah apa yang kau lihat? Ayo kita pergi dari sini!" ujar Bara.
Pak Sury yang tadinya terdiam. Kini Kembali berlari menuju pendesaan.
"Ternyata kau!" ucap Gahni kepada harimau putih itu dia adalah Aulia.
"Saya sudah pernah bilang jangan pernah mengganggu sahabat saya dan orang-orang terdekat saya!" ujar Aulia.
"Kau manusia harimau, memang penghalang bagi kami siluman ular," hardik Ghani.
__ADS_1
"Jika kau masih ingin hidup, maka pergilah dari sini secepatnya!" bentak Aulia.
"Ingatlah Aulia, aku pasti akan kembali untuk menghabisi kau dan orang-orang terdekat mu!" Ghani mengancam Aulia. Setelah berucap dia pun segera pergi meninggalkan Aulia di gunung tersebut.
Pak Sury masih terkejut dia melamun di halaman rumahnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.
"Ayah kau kenapa?" tanya Bara.
"Apa itu tadi Bara? Ayah masih tidak percaya harimau itu menolong kita," ujar pak Sury.
"Kita harus bersyukur Ayah, bahwa kita masih diberi keselamatan oleh Allah," sahut Bara sambil mengumpulkan rotan-rotannya, hanya saja rotan di pegunungan itu tidak dapat mereka bawa pulang.
Malam harinya Aulia dan Bara bertemu di mesjid setelah mereka selesai salat. Mereka pun pergi ke warung Gadis.
"Terimakasih atas bantuan kamu tadi sore," ucap Bara.
"Untung saja kau datang tepat waktu, kalau tidak pasti Ayah ku sudah tahu siapa aku sekarang ini," ujar Bara menyeruput kopinya.
"Tenang saja, aku masih bisa kok menghilangkan ingatan Ayah mu," sahut Aulia tersenyum.
"Mmm... Ngomong-ngomong tentang ilmu itu, apa aku bisa mempelajarinya?'' tanya Bara. Karena dia ingin mempelajari ilmu tersebut.
"Ilmu ini tidak bisa di gunakan sembarangan saja, bukan untuk di main-mainkan, tapi jika kau menginginkannya aku akan mengajarimu," ujar Aulia.
"Ilmu apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya seorang wanita yang berdiri di belakang mereka.
"Gadis!, Kita gak bicara tentang ilmu kok, emangnya ilmu apa yang kami bicarakan?" tanya Aulia balik.
"Mana aku tahu kalian bicara ilmu apa," jawab Gadis sambil meletakkan makanan di atas meja Aulia dan Bara.
__ADS_1
Setelah Gadis pergi, Bara kembali menyambung perkataannya tentang ilmu itu," Aku ingin Ayah ku melupakan kejadian sore tadi," ucap Bara.
"Apa paman terus bertanya tentang harimau itu?" tanya Aulia.
Bara menganggukkan kepalanya.
"Yang penting adalah Ayahmu tidak tahu kalau itu aku," ucap Aulia.
Mereka kembali terdiam sambil menikmati makanan yang sudah ada di atas meja. Tidak lama Bayu dan anak buahnya datang ke warung Gadis, Bara menatap mereka.
"Sampai kapan mereka terus disini? Aku sudah begitu muak melihat mereka," upat Bara.
"Aku juga tidak tahu, berapa lama lagi mereka disini," sahut Aulia.
"Kok bisa ya, Naura mendapatkan suami seperti itu, gak ada tampan-tampannya," ujar Bara.
Aulia hampir tersedak mendengar perkataan Bara," Matamu buram kali, kalau gak tampan gak mungkin Naura suka," ucap Aulia tersenyum.
"Kau cemburu!?" tanya Bara.
"Ya gaklah, ngapain aku harus cemburu dia berhak kok untuk bahagia sama orang lain." Aulia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Bara di warung itu.
"Aulia kau mau ke mana? Tunggu aku." Bara berlari mengejar Aulia.
.
.
Bersambung
__ADS_1