
Bara terluka setelah bertarung dengan Ratu ular Aulia membawa Bara turun dari bukit itu dia membawanya ke rumah dan membaringkan. Tubuh Bara di lantai kamarnya, jika di luar dia takut Bu Lilis akan mengetahuinya, Aulia mengeluarkan tenaga dalamnya untuk di berikan kepada Bara agar Bara kembali membaik.
Tidak lama Bara pun sadar setelah di berikan tenaga oleh Aulia, Aulia begitu legah melihat Bara kembali sadar Aulia memegang belakang Bara agar dia bisa duduk dengan baik.
''Apa? kamu tidak terluka?'' tanya Bara sambil memegang lengannya yang terasa sakit itu.
''Allhamdulilah aku baik-baik saja,'' sahut Aulia.
''Baguslah kalau kamu baik-baik saja,'' ujar Bara.
''Sepertinya kita harus berhati-hati dengan siluman yang satu ini dia benar-benar sangat berbahya, sebaiknya kamu tidur di rumah aku saja untuk malam ini takutnya orang tua kamu akan marah jika melihat keadaan kamu seperti ini,'' ucap Aulia.
''Baiklah,'' sahut Bara sambil membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan berlahan.
''Kamu istirahatlah dahulu pulihkan tenaga mu, aku mau salat dulu,'' ujar Aulia meninggalkan Bara sendiri di kamarnya, Aulia pergi ke sumur untuk mengambil air wudhu.
Bara melihat ke arah lemari pakaian Aulia yang terbuat dari kayu itu. Dia mencoba bangkit dari tempat tidur berdiri melangkahkan kakinya mendekati lemari tersebut entah apa yang sedang di pikirkan oleh Bara dia terus mendekati lemari itu, membuka pelan-pelan Bara mencari dimana letak kitab itu dia mulai mengacak-acak lemari pakaian Aulia tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan kitab itu.
''Dimana Aulia menyimpan kitab itu,'' batin Bara.
Saat dia sedang sibuk mencari kitab itu Bara pun mendengar langkah kaki seseorang mendekati kamar dengan cepat Bara berjalan ke arah tempat tidur. Dan Aulia segera masuk ke dalam kamar.
''Kenapa? kamu belum tidur?'' tanya Aulia sambil membentangkan sajadahnya di lantai.
''Belum bisa tidur,'' sahut Bara.
''Ya sudah aku salat dahulu,'' ujar Aulia melaksanakan salat isya.
Bara masih memikirkan tentang kitab itu ''kenapa? kitab itu tidak ada di dalam lemari dimana Aulia meletakannya,'' batin Bara.
Berapa menit berlalu Aulia selesai salatnya tapi dia tidak langsung beranjak dari sajadahnya dia melantunkan berapa ayat Qur'an.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
A'udzu billahi minasy-syaitha nir-rajim Bismillahir-rahmaa nir-rahim
45.Al-Jāṡiyah : 3
إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ
inna fis-samāwāti wal-arḍi la`āyātil lil-mu`minīn
__ADS_1
45.Al-Jāṡiyah : 4
وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
wa fī khalqikum wa mā yabuṡṡu min dābbatin āyātul liqaumiy yụqinụn
شدق الله العظيم
shadaqallahul 'adzhiim
.
.
''Ternyata suara kamu boleh juga,'' ujar Bara memuji.
Aulia hanya tersenyum mendengar perkataan Bara, Aulia mendekati lemari pakaiannya ingin menaruh sajadahnya. Namun dia sangat terkejut melihat isi lemarinya begitu berantakan dia memutar bola matanya isi lemarinya benar-benar berantakan tapi Aulia tidak berburuk sangka kepada Bara. Dia mendekati tempat tidurnya dan berbaring di samping Bara.
''Aulia aku mau tanya sama kamu,'' ujar Bara.
''Tanya apa,'' sahut Aulia.
''Apa kamu sudah mempelajari kitab itu?'' tanya Bara.
''Tidak apa-apa aku cuma tanya saja,'' sahut Bara.
.
.
Subuh pun tiba ayam pun mulai berkokok diluar sana Aulia bangun dari tempat tidurnya keluar mengambil air wudhu Aulia melihat Bara yang juga ingin berwudhu.
''Apa kamu sudah membaik?'' tanya Aulia.
''Sepertinya sudah agak membaik sekarang aku juga mau salat subuh,'' sahut Bara.
Aulia menganggukkan kepalanya mereka bergantian mengambil wudhu, mereka melaksanakan salat subuh di ruang tamu. Bu Lilis keluar dari kamarnya dia melihat Bara dan Aulia sedang salat.
''Sejak kapan Bara ada di rumah,'' batin Bu Lilis. Tapi Bu Lilis tidak terlalu peduli dia langsung menuju dapur untuk memasak sarapan pagi itu.
''Nenek,'' sapa Bara.
''Bara sejak kapan kamu ada disini, maksud nenek kapan kamu datang nenek tidak melihat kamu?'' tanya Bu Lilis.
__ADS_1
''Tadi malam nek, habis pulang dari mesjid karena sudah terlalu malam Aulia mengajak Bara kesini,'' sahut Bara berbohong.
''Ya sudah, ayo sarapan nenek sudah masak,'' ujar Bu Lilis.
Aulia dan Bara duduk di kursi masing-masing dan juga Bu Lilis. Mereka bertiga mulai sarapan bersama pagi itu. setelah selesai sarapan Bara berpamitan pulang ke rumahnya karena khawatir ibunya akan mencari.
''Nenek Bara pulang dahulu ya, karena ibu tidak tahu kalau Bara inap disini semalam,'' ujar Bara.
''Iya kamu hati-hati ya,'' sahut Bu Lilis.
Bara pun pergi pulang, setelah Bara pulang Aulia bergegas masuk ke dalam kamarnya dia ingin melihat kitab itu, Aulia memang tidak berprasangka buruk terhadap Bara dia hanya saja dia penasaran kenapa? Bara mengacak-acak lemarinya.
''Apa yang sedang di cari Bara? apa Bara juga menginginkan kitab itu, kalau memang benar kenapa? dia tidak minta langsung pada ku, aku pasti akan memberikannya,'' batin Aulia.
Hanya Aulia seorang yang bisa melihat kitab itu, kitab itu masih aman di tempatnya.
Bu Lilis sudah pergi ke kebun sendiri pagi itu Aulia tidak pergi membantu sang nenek di kebun, pagi itu Aulia pergi menemui Raja Agra sang Kakek di sebuah gunung yang tidak terlalu jauh dari rumahnya tanpa adanya Bara.
''Ada apa cucuku?'' tanya Raja Agra.
Aulia mencium punggung tangan sang kakek.
''Aulia kahwatir sama Bara kek, apa dia akan mengkhianati Aulia, kemarin malam dia mencoba mencari kitab itu tanpa sepengetahuan dari Aulia,'' ujarnya.
"Itulah teman bisa mengkhianat apa lagi sahabat hanya karena nafsu, seorang sahabat bisa menjadi jahat melebihi siluman, tapi kakek yakin Bara tidak akan mengkhianati kamu berdoa lah kepada Allah agar dia tidak melakukan kejahatan," ujar Raja Agra.
"Kek apa? bisa Aulia dan Bara mempelajari kitab itu?" tanya Aulia.
"Bisa tapi tidak semuanya Bara hanya boleh mempelajari satu atau dua ilmu seterusnya tidak bisa, hanya kamu yang bisa mempelajari semua isi kitab itu," ucap Raja Agra.
Aulia menganggukkan kepalanya dia mengerti itu akan membahayakan Bara atau pun gantala.
"Baikah kakek Aulia pergi sekarang," ujar Aulia tidak lupa mencium punggung tangan sang kakek lalu pergi dari gunung itu.
.
.
.
.
...BERSAMBUNG... JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT TIPS NYA, HANYA CERITA FIKSI...
__ADS_1