Harimau Aulia

Harimau Aulia
melahirkan


__ADS_3

''Siapa perempuan itu Bu?'' tanya warga yang semakin penasaran.


''Dia anak saudara saya dari jauh,'' sahut Bu Lilis.


''Sepertinya dia lagi hamil ya Bu?'' tanya Ibu-Ibu lainnya.


''Iya Bu katanya dia ingin melahirkan di desa ini, jadi dia datang kemari,'' sahut Bu Lilis menjelaskan.


Bunga hanya bisa diam melihat warga itu yang terus bertanya tentang dirinya.


''Kalau gitu kami pergi dulu ya Bu,'' ujar Bu Lilis berjalan menuju kebunnya.


''Maaf ya nak Bunga orang kampung sini memang suka seperti itu ngomongnya,'' ujar Bu Lilis meminta maaf.


''Iya bik nggak apa-apa,'' sahut Bunga tersenyum.


''Ya sudah kalau seperti itu bibik mau ambil sayur dulu, kamu tunggu di sini sebentar,'' sahut Bu Lilis.


Bu Lilis pun mulai memetik sayaur yang ada di kebunnya itu, Bunga hanya menunggu Bu Lilis sambil duduk di sebuah pondok yang ada di kebun itu.


''Ayo nak Bunga bibik sudah selesai metik sayurnya,'' ujar Bu Lilis.


Bunga hanya menganggukkan kepalanya, dan berjalan mendekati Bu Lilis. Setelah sampai ke rumah Bu Lilis langsung memasak sayur yang di bawanya itu. Tidak butuh lama. Makanan yang sudah masak di letakkan di atas meja.


''Nak bunga, ayo kita salat magrib dulu setelah salat baru kita makan,'' ujar Bu Lilis.


''Baik bik,'' sahut Bunga.


Mereka pun berjalan berdua menuju sumur untuk mengambil wudhu. Setelah Berapa menit berlalu mereka pun selesai salat.


''Bu, nak Bunga dimana?'' tanya Pak Rahman yang baru pulang dari masjid.

__ADS_1


''Ada di kamar nya Pak,'' sahut Bu Lilis.


''Ya sudah, Ibu panggil nak Bunga biar kita makan bersama,'' ujar Pak Rahman.


Bu Lilis pun berjalan, menuju kamar Bunga membuka pintu kamar, Bu Lilis begitu terkejut melihat Bunga yang sedang kesakitan.


''Nak Bunga kenapa, Pak-Bapak,'' panggil Bu Lilis.


Pak Rahman pun segera berlari ke kamar Bunga.


''Ada apa dengan nak bunga Bu?'' tanya Pak Rahman.


''Sepertinya Bunga akan melahirkan Pak,'' ujar Bu Lilis, Bu Lilis begitu khawatir melihat keadaan Bunga.


Pak Rahman pun langsung berlari pergi memanggil bidan yang ada di desa itu, Bunga benar-benar telah kesakitan, tidak lama Pak Rahman kembali ke rumahnya dengan membawa seorang bidan desa.


''Tolong kalian ambilkan satu ember air,'' titah bidan itu yang bernama nek ijah dia adalah bidan terbaik di desa itu.


****


Berapa jam berlalu akhirnya Bunga sang manusia harimau pun melahirkan seorang bayi laki-laki, semua orang yang ada di rumah itu merasa bahagia karena mereka sekarang telah memiliki seorang cucu.


''Bayi mu sangat tampan,'' ujar sang bidan sambil menyerahkan bayi itu kepada Bunga.


''Terima kasih Nek,'' sahut Bunga tersenyum.


''Ayo sekarang bayinya di Adzan kan dimana ayahnya?'' tanya Nek ijah sang bidan.


''Ayahnya sudah nggak ada nek, ayahnya telah meninggal,'' ujar Bunga.


''Maaf kan nenek, nenek gak tahu, kalau seperti itu biar Pak Rahman saja,'' ujar nek ijah.

__ADS_1


Karena ayah dari bayi itu sudah tidak ada terpaksa Pak Rahman yang Adzankan bayi itu, sudah satu jam Berlalu nek ijah sang bidan pun sudah pulang ke rumahnya, kini tinggallah mereka bertiga di rumah itu, mereka begitu bahagia menyambut kehadiran bayi tersebut. Di saat mereka sedang bahagia tiba-tiba dua orang berbaju putih muncul di dalam rumah Pak Rahman. Dia adalah ayah dari bunga dan satu Muridnya.


Pak Rahman dan sang istri tidak lagi merasa takut karena mereka sudah tahu bahwa bunga bukanlah manusia biasa, dua orang itu pun langsung mendekati Bunga, kedua orang itu tersenyum ke arah Pak Rahman dan Bu Lilis. Dia segera menggendong cucunya itu dengan kasih sayang, dan kebahagiaan menyelimuti rumah itu. begitu juga dengan Bu Lilis duduk di samping Bunga. Namun tiba-tiba Bunga menjadi lemah dan tidak sadarkan diri.


''Bunga-Bunga sayang,'' panggil Bu Lilis yang terus memanggil Bunga. Namaun Bunga tidak lagi mendengar panggilan Bu Lilis.


Ternyata Bunga telah meninggal, semua orang yang berada di rumah pun terkejut dan mengucapkan. Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Bu Lilis dan Pak Rahman dan juga orang tua Bunga begitu terpukul atas kepergian Bunga yang telah di anggapnya sebagai anak sendiri oleh pak Rahman dan bu Lilis.


''Pak Rahman, Bu Lilis saya ingin membawa anak dan cucu saya pergi ke. Desa kami, dan saya sebagai orang tua Bunga sangat berterima kasih kepada Bapak dan Ibu,'' ujar ayah Bunga yang di panggil dengan sebutan Tuan Raja Agra.


''Tuan, saya punya permintaan,'' ujar Bu Lilis


''Apa permintaan Ibu? jika saya bisa saya akan memberikannya,'' sahut Tuan Agar.


''Saya ingin meminta anak Bunga tinggal bersama kami,'' ujar Bu Lilis.


Deg..


.


.


.


.


.


...BERSAMBUNG JANGAN LUPA...


...LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT TIPS...

__ADS_1


HANYA CERITA FIKSI


__ADS_2