
Bara sangat sedih melihat sahabatnya itu. Yang di tinggal oleh kedua orangnya. Tapi Bara masih sangat beruntung, karana masih memiliki kedua orang tua.
''Udah jangan kamu sedih, kamu kan masih memiliki kakek sama nenek yang juga sangat menyayangi kamu,'' ujar Bara sambil menepuk-nepuk pundak Aulia.
Aulia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
''Tapi aneh aja dengarnya ngak sih, kalau memang ada wabah penyakit di desa kita ini, setidaknya kita pernah mendengar ceritanya dari keluarga kita, atau warga-warga di sini,'' ujar Bara matanya fokus menatap kedepan.
''Maksud kamu, kakek aku bicara bohong?'' tanya Aulia.
''Aku tidak bilang kalau kakek kamu berbohong ya, setidaknya kita pernah mendengar, tapi ngak tahu juga mungkin dahulu ada penyakit seperti itu terjadi,'' sahut Bara.
Mereka pun diam setelah bercerita panjang.
****
....RUMAH PAK RAHMAN....
''Pak kenapa? Bapak berbohong sama Aulia kalau aya nya meninggal karena wabah penyakit, kalau dia tahu kita berbohong bagaimana Pak?'' tanya Bu Lilis.
__ADS_1
''Bapak sudah tidak tahu bu, harus ngomong apa sama dia. Ibu lihatkan Aulia terus bertanya sama kita tentang orang tuanya,'' sahut Pak Rahman sambil menatap istrinya. Tanpa sepengetahuan Pak Rahman Aulia telah berdiri di belakangnya, Pak Rahman sangat terkejut melihat Aulia. Dia takut kalau Aulia mendengar semua perkataannya.
''Kakek kenapa? melihat Aulia seperti itu, seperti melihat Harimau saja?'' tanya Aulia berjalan mendekati kakek dan neneknya.
''Aulia, sejak kapan? kamu berdiri di situ?'' tanya Pak Rahman semakin gugup.
''Baru saja kek, ada apa? kok kakek sama nenek ketakutan seperti itu?,'' tanya Aulia sambil duduk di samping kakek dan neneknya.
''Tidak apa-apa kakek terkejut saja tiba-tiba kamu sudah berdiri di belakang kakek,'' sahut Pak Rahman.
''Humm... Nenek ku sayang Aulia sangat lapar,'' ujar Aulia begitu manja kepada neneknya.
''Ya udah ayo tadi nenek, udah masak buat kamu,'' ujar Bu Lilis.
Setelah selesai makan, Aulia pergi ke belakang rumahnya sendiri. Dia menatap lurus kearah hutan yang ingin sekali Dia kunjungi itu.
''Aulia kamu ngapain? disini sendirian?'' tanya Pak Rahman mendekati cucunya itu.
''Sekedar duduk saja kek, cari angin,'' sahut Aulia tersenyum.
__ADS_1
''Kek, apa kakek pernah pergi ke sana?'' tanya Aulia menunju ke arah hutan.
Pak Rahman melihat ke arah yang di tunjuk oleh Aulia.
''Tidak kakek tidak pernah pergi ke sana, kata orang tempat itu sangat berbahaya tidak ada seorang pun yang berani untuk pergi ke sana,'' sahut Pak Rahman.
''Kalau Aulia pergi ke sana apa kakek mengizinkan?'' tanya Aulia menatap kakeknya menunggu jawaban darinya.
''Tidak kakek tidak akan mengizinkannya, karena tempat itu sangat berbahaya,'' sahut pak Rahman sambil berjalan meninggalkan Aulia sendiri di belakang rumah itu. Mata Aulia masih fokus ke arah hutan tersebut.
''Maaf kakek, tapi Aulia sangat penasaran sama tempat itu, sebab Aulia sering bermimpi tempat itu, bagaimana pun Aulia tetap akan pergi ke sana untuk mencari ada apa di tempat itu,'' batin Aulia. Dia pun berdiri dari tempat duduknya berjalan masuk ke dalam rumah.
****
Malam pun tiba, seperti biasa selesai salat Aulia selalu menyepatkan diri untuk membaca Qur'an dan berzikir. Dia berharap malam itu tidak ada lagi mimpi aneh yang menganggunya.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VOTE HADIAH FAVORIT
__ADS_1
HANYA CERITA FIKSI