Harimau Aulia

Harimau Aulia
Gua tujuh


__ADS_3

''Kita berdua harus segera pergi ke. Gua tujuh, itu pesan dari kakek mu,'' ujar Gantala.


''Gua tujuh?'' tanya Aulia sambil menatap Gantala.


Gantala hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


''Ada apa di. Gua tujuh itu kenapa kita harus pergi ke sana?'' tanya Aulia.


''Kata guru kita harus mencari pedang pusaka permata putih, pedang itu bersakutan dengan Elang itu,'' ujar Gantala.


''Maksud kamu apa, kenapa kamu menyebut elang itu dia hanya elang biasa saja,'' sahut Aulia.


''Tidak dia memang keliatan elang biasa, tapi kakek kamu bilang elang itu mampu menelan sebuah pedang,'' sahut Gantala.


Aulia lebarkan matanya dia tidak bisa percaya seekor elang mampu menelan sebuah pedang. Elang yang telah di anggapnya sebagai sahabatnya itu memiliki kekuatan yang luar biasa.


''Dahulu elang itu dia memiliki seorang tuan yang baik. Dan elang itu juga sangat setia kepada tuannya, tapi sekarang ini tuanya itu sudah menjadi seorang tabib. Pedang itu di letakkan di. Gua tujuh tersebut,'' ujar Gantala.


''Apa mungkin elang itu jelmaan pedang tersebut atau mungkin pedang itu masih berada di. Gua tujuh tersebut,'' batin Aulia.


''Baiklah terimakasih sudah memberitahu saya,'' ucap Aulia.


Gantala Menganggukkan kepalanya dia pun kembali mengubah wajahnya menjadi Bara.

__ADS_1


''Keliatannya kekuatan kamu lebih hebat dari kekuatan saya,'' ujar Aulia sambil tersenyum.


''Kenapa? kenapa? kamu bicara seperti itu?'' tanya Bara.


''Karena kamu bisa mengubah wajah mu manjadi dua orang,'' sahut Aulia.


''Bagaimana kita bisa pergi ke. Gua itu, sedangkan anak kota itu masih berada di desa ini?'' tanya Aulia.


''Kamu benar, tapi jika kita tidak segera pergi maka para siluman akan lebih dahulu dari kita, karena para siluman pasti akan mengetahui soal pedang itu,'' sahut Bara.


''Sudalah nanti aku akan bicara dengan kakek bagaimana cara kita pergi ke. Gua itu sedangkan kita harus tetap berada di desa ini,'' ujar Aulia.


Mereka berdua tidak tahu harus berjalan ke arah mana, jika mereka pergi maka para siluman akan mengganggu desa.


''Kalau kita tidak pergi maka para siluman akan mendapatkan pedang itu,'' ujar Bara.


"Itu tidak mungkin Aulia, tidak mungkin salah satu dari kita akan tinggal. kita harus pergi bersama itu kata kakek mu," sahut Bara.


Aulia hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa meninggalkan desa karena desa adalah tanggung jawabnya.


"Aku akan menggunakan ajian pelindung... Aku akan mencoba melindungi desa," ujar Aulia.


"Bagaimana dengan desa seberang itu juga tanggung jawab kita," sahut Bara.

__ADS_1


Dari kejauhan terdengar suara elang.


"Sepertinya itu langit mungkin dia juga bisa menjadi teman kita pergi ke. Gua tujuh tersebut dia juga mengetahui letak pedang itu," ucap Bara.


Elang itupun mendekati Aulia dan Bara, Aulia berjalan mendekati elang tersebut yang berdiri di atas pohon yang tidak terlalu tinggi.


''Siapa kau sebenarnya, apakah kau seekor elang kutukan kenapa? kau berbeda dengan elang lainnya,'' batin Aulia.


Malam harinya Aulia dan Bara dan juga neneknya sudah berada di rumah, mereka makan malam bersama.


''Tadi kenapa Naura pergi sama nenek?'' tanya Aulia.


''Dia hanya ikut sama nenek ke pasar,'' sahut Bu Lilis.


''Apa dia ada bicara sama nenek kapan mereka akan pergi dari desa ini?'' tanya Aulia. Bara menatap Aulia.


''Iya katanya dua hari lagi mereka akan pulang ke kota karena pekerjaan mereka juga sudah selesai,'' sahut Bu Lilis.


Aulia hanya menganggukkan kepalanya.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG...


__ADS_2