
Mendengar keributan di rumah penginapan tersebut, beberapa warga mendatangi penginapan itu.
"Ada keributan apa disana Pak?" tanya warga.
"Gak tahu Pak, sebaiknya kita lihat saja, apa yang terjadi di sana." warga pun segera pergi ke penginapan tersebut untuk melihat apa yang sudah terjadi di dalam sana.
Bayu keluar dari penginapan itu sambil memegang lengannya yang sudah berdarah-darah dia berjalan tertatih-tatih untuk mencari bantuan kepada warga sekitar.
"Tolong! siapapun tolong!" teriak Bayu darah terus mengalir di belakang dan lengannya.
Dengan cepat warga tadi pun segera menghampiri Bayu.
"Apa yang terjadi?!" tanya warga kepada Bayu.
"Tolong Pak, saya dan teman-teman saya di serang harimau jadi-jadian!" ujar Bayu meringis kesakitan.
Warga pun mulai merasa takut mendengar ucapan Bayu, dan mereka pun segera membawa Bayu ke penginapan.
"Ceritakan kepada kami apa yang terjadi di sini?" tanya warga.
"Pak kami diserang oleh harimau jadi-jadian! Untung kami tidak mati di habisi oleh mereka!" ucap anak buah Bayu.
"Kenapa makhluk itu kembali lagi ke desa kita ini?" tanya warga.
"Mungkin karena kalian sudah membunuh seekor harimau putih di hutan itu, jadi mereka kembali untuk membalaskan atas perbuatan kalian. Kami sudah bilang sama kalian segeralah pergi dari desa kami. Kami tidak mau desa ini kembali terancam sebab harimau itu!" Ujar warga.
"Apa kalian tidak tahu siapa harimau jadi-jadian itu!" ujar Bayu.
Warga saling memandang satu sama lain. Mereka juga ingin mengetahui siapa harimau jadi-jadian itu.
"Dari dulu kami belum tahu siapa harimau jadi-jadian itu. Sampai saat ini kami tidak mencari tahu tentang mereka, karena bagi kami mereka adalah pelindung desa ini. Dari siluman ular!" ujar warga.
"Siluman ular?" tanya Bayu, "sebenarnya ini desa apa sih? Kenapa masih ada saja cerita seperti itu, ini bukan zaman dahulu!" ujar Bayu yang terus meringis kesakitan.
DI TEMPAT LAIN
__ADS_1
Aulia mendekati Naura dan kaila yang sedang ngobrol.
"Naura, bisa kita bicara," ucap Aulia.
Naura menganggukkan kepalanya.
"Saya mau minta maaf, atas perkataan saya tadi siang sama kamu." Aulia hanya berdiri di samping Naura.
"Nggak apa-apa kok, ini semua bukan salah kamu, ini salah suami aku. Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu," sahut Naura tersenyum, "baiklah aku pergi dulu," ucap Naura sambil memegang tangan Kaila dan pergi.
"Aduh... Lembut banget sih dia, andaikan saja dia belum menikah pasti saat ini dia sudah bersama dengan kau," ucap Bara melihat Naura dan kaila pergi.
"Bicara apa kau barusan? manusia seperti kita ini tidak bisa menikah dengan manusia biasa!" ujar Aulia.
"Iya aku tahu, kamu ini di pancing dikit saja langsung marah!" sahut Bara.
Setibanya Naura di penginapan dia sangat terkejut melihat Bayu terluka bersama dengan teman-temannya. Saat ini warga sedang mengobati meraka.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Naura mendekati Bayu sambil melihat yang luka.
"Kau mau tahu siapa harimau jadi-jadian itu!" Ujar Bayu.
"Iya gue sangat ingin tahu siapa harimau jadi-jadian tersebut," sahut Kaila.
"Aulia! dialah harimau itu, dialah yang telah menyerang kami seperti ini!" ujar Bayu.
Naura dan kaila saling tatap mereka bingung. Sebab mereka baru saja bertemu Aulia di warung mana mungkin Aulia pelakunya. Mungkin itulah yang ada dalam pikiran mereka.
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya," ucap Bayu.
"Bukan tidak percaya, karena dari tadi kami bersama Aulia di warung Gadis" jawab Naura.
"Iya benar, saat kami pergi kesana, Aulia sudah berada disana bersama Bara juga," sahut Kaila.
"Kalau memang benar yang dikatakan oleh, Nak Naura, Jangan-jangan ada siluman yang menyerupai wajah Aulia!" ujar warga.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus wajah Aulia? Apa siluman itu mengenali Aulia?" tanya warga kepada warga lainnya.
"Itu karena Aulia lah harimau itu, kalau bukan dia dari mana dia tahu. Kalau saya lah yang telah menghabisi harimau tersebut!" ujar Bayu.
Warga mulai sedikit curiga kepada Aulia. Sebab menurut mereka apa yang di katakan oleh Bayu adalah kebenarannya. Di mesjid Aulia dan Bara bertemu dengan ustadz Karim meraka menepati janji meraka, kepada sang ustadz siang itu.
"Kalian sudah datang?" tanya ustadz Karim.
"Iya ustadz kami berdua sudah datang," Jawab Aulia.
Ustadz Karim pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Bara dan Aulia. Tanpa basa-basi Sang ustadz memegang wajah Aulia dan Bara, dia memegang wajah anak muda yang saat ini berdiri di depannya. Bara menoleh ke Aulia, meraka merasa ustadz Karim sedikit aneh dengan sikapnya.
"Kenapa kalian berdua merahasiakan hal ini kepada saya? saya sudah mengetahui siapa sebenarnya kalian.'' Ustadz Karim menatap dua anak muda itu.
"Apa maksud perkataan ustadz?" tanya Aulia.
"Iya ustadz apa maksud perkataan ustadz barusan kita tidak mengerti," ujar Bara.
Ustadz Karim membalikkan badannya membelakangi Aulia dan Bara, " Saya melihat malam itu kalian berdua berubah menjadi harimau putih! Sebenarnya waktu itu saya masih tidak percaya bahwa kalianlah harimau yang di tugaskan untuk menjaga desa ini. Tapi saya tetap memastikan bahwa itu benar-benar kalian," ujar ustadz Karim menoleh kembali ke arah Aulia dan Bara.
"Lalu jika ustadz sudah mengetahui tentang kami berdua, apa yang akan ustadz lakukan? Apa ustadz akan memberitahu kepada warga desa tentang kami?" tanya Aulia.
"Jangan pernah berprasangka buruk terhadap saya, saya tidak akan memberitahu kepada siapapun tentang kalian," ucap ustadz Karim.
Aulia dan Bara menatap ustadz Karim, mereka tidak bisa percaya kepada manusia biasa, sekali pun dia adalah seorang ustadz.
"Maaf ustadz, kami berdua tidak bisa percaya dengan siapapun. Jika salah satu dari warga mengetahui siapa kami. Maka itu sangat berbahaya untuk kami dan bangsa kami," ucap Aulia.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan? Dan jika salah satu dari warga mengetahui bahwa kalian adalah harimau apa yang akan terjadi?" hardik ustadz Karim.
"Maka kami akan pergi dan tidak akan pernah kembali ke desa ini sampai kapan pun. Jika penduduk desa ini sudah mengetahui siapa sebenarnya kami!" ujar Aulia.
.
.
__ADS_1
Bersambung