
Siang hari itu, Aulia dan Bara, bertemu di perkebunan, Aulia yang berkerja menanam sayur yang baru. Sedangkan Bara hanya menyaksikan saja tanpa membantunya.
"Aulia, bagaimana dengan luka kau itu apa sudah baikan?" tanya Bara.
"Sudah baikan, tapi masih belum kering," jawab Aulia sambil terus menanam sayur di kebunnya.
"Kalau gitu, kita pergi ke balai desa saja, disana lagi ada dokter," ajak Bara.
Aulia sedikit berpikir tentang ajakan Bara.
"Sudah ngak, usah banyak pikir ayok kita pergi." Bara menarik pergelangan tangan Aulia. Mereka ke balai desa untuk menemui dokter.
"Buat apa kita kesini, kan? di rumahku ada obat rempah-rempahan alami," ujar Aulia.
Bara tidak menjawab perkataan Aulia, dia terus berjalan mendekati seorang dokter wanita di balai desa itu.
"Dokter, tolong obatin sahabat saya ini, dia terluka parah," ujar Bara.
"Mana temannya? silahkan duduk," jawab dokter itu.
Bara kembali menarik tangan Aulia dan menyuruhnya duduk di depan sang dokter, dokter cantik itu melihat luka di punggung Aulia, yang cukup parah itu. Terlihat juga luka tersebut sudah mengnganga. Sang dokter bergidik melihat luka tersebut.
"Kenapa kalian baru datang sekarang?" tanya sang dokter.
"Teman saya ini gak mau, Buk dokter, ini saja harus di paksa," jawab Bara.
"Ini lukanya sudah cukup parah, kalau terlambat bisa-bisa lukanya membusuk!" ujar sang dokter.
Bara hanya mengangguk-anggukkan kepala. Sang dokter pun selesai mengobati luka Aulia, dan membalutnya menggunakan perban.
"Luka kamu, cukup aneh!" ujar Sang dokter.
Bara dan Aulia saling pandang.
"Maklumlah Dok, teman saya ini cukup lasak orangnya, dia suka manjat pohon terus jatuh, terkena ranting pohon," jawab Bara agar sang dokter tidak bertanya lebih jauh.
"Tapi kelihatannya tidak seperti terkena ranting pohon, seperti cakaran." Dokter terus memperhatikan luka Aulia yang telah di perban itu.
"Masa sih Buk Dokter," ujar Aulia.
Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter kalau begitu kita berdua pergi dahulu," ucap Bara.
Aulia dan Bara pergi meninggalkan balai desa. Mereka kembali ke perkebunan.
"Kau mau berkerja lagi?" tanya Bara.
"Iyalah kalau aku gak kerja mau makan apa aku nanti, kau," ujar Aulia.
"Amit-amit, dagingku pahit kau gak akan suka," jawab Bara.
Beberapa jam setelah menanam sayur, kini hanya Aulia, yang tinggal di kebun itu, karena Bara sudah pulang ke rumahnya. Aulia berdiri lurus menatap hutan, tempat dimana dia akan bertarung melawan Aidan, nantinya untuk mendapatkan kembali pedang itu. Tidak lama Aulia pulang ke rumahnya dia ingin melepaskan Elang tersebut ke hutan.
"Sepertinya kau sudah pulih, aku akan kembalikan kau ke hutan." Aulia melepaskan Elang tersebut. Elang itupun, terbang menjauh meninggalkan Aulia.
"Aku harus memmulihkan tenagaku juga, agar nanti aku bisa melawan Aidan," batin Aulia.
Malam harinya Aulia pergi ke mesjid tanpa Bara, Aulia melihat ke luar mesjid melirik kiri kanan. Dia tidak melihat Bara, sama sekali.
"Ke mana Bara? kenapa dia tidak datang ke mesjid?" batin Aulia.
"Keu mencari siapa?" Kejut ustadz Karim.
"Benar juga saya juga tidak melihat Bara, dari tadi, nanti kita coba datang ke rumahnya saja," ucap sang ustadz.
Aulia menganggukkan kepala, mereka pun kembali masuk ke dalam mesjid. Aulia, merasa khawatir dengan Bara sebab tidak datang ke mesjid.
Aulia dan ustadz Karim keluar dari mesjid bersama, tiba-tiba saja seseorang berteriak memanggil Ustadz Karim, orang itu terengah-engah berlari mendekati sang Ustadz dan Aulia.
"Pak ustadz, tunggu." Teriak orang itu.
"Ada apa Pak?" tanya Ustadz Karim cemas.
"Tolong Ustadz, Anak tetangga saya kerasukan, kami tidak tahu harus berbuat apa sebab dia berteriak seperti kerasukan jin Kera!" ujar orang itu.
"Baiklah ayo kita kesana." Ustadz Karim dan Aulia pergi ke rumah orang itu.
Sampainya di rumah orang tersebut, Ustadz Karim dan Aulia begitu terkejut melihat wajah pemuda itu, matanya merah menyala, lingkaran matanya hitam pekat. Semua orang yang berada di rumah itu merasa takut, untuk mendekati Anak muda yang sedang kerasukan itu.
"Apa yang terjadi sama pemuda itu Pak?" tanya ustadz Karim.
"Kata keluarganya, dia pergi ke hutan bersama dengan teman-temannya. Dan mereka bersenang-senang di hutan tersebut, itu aja sih yang saya tahu Ustadz," ujar orang itu.
__ADS_1
Ustadz Karim hanya menganggukkan kepalanya. Dia berjalan mendekati pemuda yang kerasukan itu.
"Tolong Bapak-bapak pegang pemuda ini!" perintah sang ustadz kepada orang yang berada di rumah itu.
Orang itu menganggukkan kepala mereka, dan segera memegang tangan sang pemuda. Ustadz Karim membacakan beberapa ayat al Qur'an, agar jin yang berada di dalam tubuh pemuda itu bisa segera pergi.
Aulia, masih disana berdiri bersama keluarga si pemuda itu, dan juga warga mereka hanya menyaksikan sang ustadz mengobati pemuda tersebut. Satu jam berlalu pemuda itu kembali sadar. Dia mencoba menceritakan semua yang terjadi kepada dirinya saat di hutan bersama teman-temannya.
"Waktu itu, saya dan beberapa teman saya mandi di sebuah sungai di hutan itu, semuanya terlihat baik-baik saja, tidak ada yang aneh disana, orang-orang tua juga ada di hutan itu. Bukan hanya kami saja. Tapi tiba-tiba saya melihat ada sebuah lorong yang cukup gelap di seberang sungai itu, Karena penasaran saya dan teman saya, pergi mendekati lorong tersebut." cerita sang pemuda.
FLASHBACK
Berjalan menuju lorong gelap di seberang sungai.
"Sebaiknya kita jangan masuk ke sana, takutnya ada binatang buas yang sedang bersembunyi di tempat itu," ujar seorang Pria. Mereka ada berempat saat itu, meraka melihat ke dalam lorong gelap. Yang di penuhi oleh semak-semak belukar dan akar-akar pohon menjuntai menutupi lorong itu, menambah kesan semakin gelap.
"Kalian bertiga kenapa? menjadi penakut gini sih!" ujar pemuda ke empat.
"Bukan penakut, kau lihat tidak di dalam sana begitu gelap, kita juga tidak membawa apa-apa sebagai penerang jalan," jawab pemuda ke dua.
"Benar, sebaiknya kita pergi saja dari sini," sambung pemuda ke tiga.
"Ahh..! kalian semua penakut! biar saya aja yang masuk ke sana, tapi kalian tunggu disini jangan ke mana-mana." Hardik pemuda ke empat.
Pemuda tersebut segera masuk ke dalam lorong gelap itu, dia begitu penasaran ada apa di dalam sana, dia menyalakan korek api untuk menerangi jalannya. Saat dia menyalakan korek tersebut, pemuda itu sangat terkejut melihat seekor anak kera, pemuda itu merasa marah. Dia langsung memukul anak Kera tersebut hingga mati. Pemuda itu segera keluar dari tempat itu.
Sedangkan teman-temannya masih setia menunggunya diluar sana.
"Lama banget kau di dalam sana, untung kita gak pergi," ujar temannya.
"Iya kenapa kau lama sekali di dalam sana? apa kau menemukan sesuatu?" tanya orang kedua.
"Tidak ada apa-apa di dalam sana, semuanya kosong," jawab pemuda yang baru keluar dari lorong itu.
Mereka pun segera pergi dari sana mereka kembali menyeberangi sungai. Untuk kembali ke hutan.
Setelah beberapa jam di rumah sanag pemuda kerasukan itu, Aulia dan ustadz Karim pun kembali pulang ke rumah masing-masing.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1