Harimau Aulia

Harimau Aulia
kicauan burung


__ADS_3

"Kemarin malam kau ke mana? kenapa tidak datang ke mesjid?" tanya Aulia.


"Aku gak bisa datang karena Ayahku sakit," jawab Bara.


"Apa! Paman sakit! kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Aulia mengerutkan keningnya.


"Aku tidak sempat memberitahumu, sebab tiba-tiba saja Ayahku jatuh sakit, jadi aku harus menemaninya di rumah," sahut Bara.


"Sepertinya aku tidak bisa memberitahu Bara, tentang rencanaku menemui Aidan," batin Aulia.


"Ada apa? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Bara.


Aulia hanya menggelengkan kepalanya.


"Oh iya, tadi pagi aku sempat mendengar pembicaraan warga, bahwa ada pemuda kerasukan jin Kera, apa itu benar?" tanya Bara.


"Iya, tadi malam aku dan ustadz Karim pergi ke rumah pemuda itu, dia memang kerasukan jin Kera, sebeb dia membunuh seekor kera di hutan," ucap Aulia.


"Aneh sekali orang sekarang, binatang yang tidak bersalah di bunuh! pantas saja dia kerakusan," Ujar Bara sambil menyeruput minumannya.


"Aulia, sepertinya itu Pak kades? mau apa dia di warung ini?" tanya Bara melihat ke arah Pak kades yang hendak mendekati mereka.


Aulia, pun memutar badannya menoleh ke arah Pak kades, benar saja Pak kades mendekati mereka di warung itu.


"Pak kades," sapa Aulia.


"Untung kau ada di sini," ucap Pak kades.

__ADS_1


"Ada apa Pak? Kenapa bapak mencari saya?" tanya Aulia.


Pak kades pun duduk di samping Aulia, Pak kades mulai menceritakan tujuan menemui dirinya.


"Dari tadi saya mencari kamu, untuk menyampaikan, bahwa Bayu, dan Naura, sudah mengembalikan tanah itu kepada kamu," ujar Pak kades.


Aulia sedikit bingung, tapi juga sangat bersyukur karena Bayu, telah mengembalikan tanah peninggalan kakeknya itu.


"Tapi kenapa Pak? kok orang kota itu berubah pikiran? untuk mengembalikan tanah itu kepada Aulia, bukannya mereka sangat menginginkan tanah tersebut?" tanya Bara.


"Saya juga kurang tahu, tapi katanya mereka ingin segera kembali ke kota, Karena istrinya sedang mengandung," sahut Pak kades.


Mendengar itu wajah Aulia langsung berubah, Bara melihat perubahan wajah Aulia.


Di perjalanan Aulia, hanya diam saja dia masih mengingat tentang ucapan Pak kades bahwa Naura sedang mengandung, mungkin itulah yang sedang dipikirkan oleh Aulia saat ini.


Aulia menghentikan langkah kakinya, begitu juga dengan Bara.


"Aku tidak memikirkan apa-apa," sahut Aulia. Meskipun, dia tidak berkata jujur tapi, Bara, tetap mengetahuinya.


"Sudahlah Aulia, kau tidak perlu menutupi perasaan kau itu dariku. Kau selalu mengajariku untuk tidak mengingat tentang Gadis lagi, tapi kau sendiri masih saja memikirkan tentang Naura!" Bara kembali berjalan, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya lagi, "dan kau harus ingat bahwa Naura berhak mendapatkan itu, dan dia juga berhak mengandung dan punya Anak, karena dia memiliki suami!" Bara kembali berjalan meninggalkan Aulia.


Aulia, pergi ke arah bukit dia melamun di atas batu besar sendirian disana, dia tidak tahu harus membawa perasaannya ke mana, di lubuk hatinya yang terdalam dia masih menginginkan Naura. Cintanya kepada Naura tidak pernah berkurang.


"Akhh!... Apa yang harus aku lakukan, kenapa dia datang lagi ke desa ini di saat aku, sudah mencoba untuk melupakannya, tapi sekarang apa yang harus aku perbuat, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri bahkan aku masih sangat mencintai manusia itu!" teriak Aulia.


Aulia, masih tetap duduk di bukit itu, hingga matahari terbenam sedikit pun dia tidak beranjak dari sana. Matahari sudah terbenam langitpun, sudah berubah warna Aulia, kembali ke desa. Saat mendekati rumah, tidak sengaja Aulia melihat Naura dan Bayu yang sedang bercanda mereka tampak bahagia Aulia, terus berjalan tanpa mempedulikan mereka meskipun, hatinya begitu hancur. Tapi dia mampu menahan semua itu agar terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


WILAYAH BAGASKARA


disana para siluman kera menundukkan kepala mereka saat Bagaskara memarahi mereka, karena tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Bodoh!.. kalian para siluman yang hebat, tapi tidak mampu menghabisi bocah harimau itu, bahkan mengambil kitab harimau itu saja kalian tidak bisa!" bentak Bagaskara.


"Mohon maaf tuan, bocah harimau itu memiliki kemampuan yang luar biasa, kami tidak bisa mengalahkannya," jawab seorang siluman kera.


"Itu karena kalian bodoh! kalian itu lemah! melawan satu bocah saja kalian tidak bisa, jika kalian tidak bisa mendapatkan kitab itu. Saya yang akan menghabiskan kalian semua!" Bagaskara benar-benar sangat marah kepada para siluman itu.


"Ayahanda, izinkan saya dan Gavar untuk turun ke desa itu, saya sudah siap untuk menyerang mereka lagi!" ujar Aidan.


"Kau harus tahu, Putraku musuh kita bukan hanya warga desa itu, tapi juga dua harimau putih itu. Mereka berdua sentiasa menjaga desa tersebut jika, kau ingin menyerang mereka gunakan saja pedang itu agar mereka tahu kitalah yang berkuasa di hutan ini dan juga desa itu!" Bagaskara menatap Aidan tersenyum puas.


"Baik Ayah, saya pasti akan mendapatkan kitab itu, dan memberikannya kepada Ayah," ujar Aidan.


Malam itu Aulia, memulihkan tenaga dalamnya dia duduk bersila mulai berkonsentrasi di dalam kamarnya. Malam itu suana sudah begitu sunyi, Aulia memang mencari waktu yang tepat untuk berkonsentrasi agar konsentrasinya tidak terganggu meskipun, di luar sana terdengar suara hewan-hewan kecil seperti jangkrik dan hewan-hewan kecil lainnya. Karena desa ini sangat dekat dengan pegunungan dan hutan sebab itu banyak hewan-hewan kecil yang berbunyi.


Aulia terus berkonsentrasi tanpa terganggu sedikit pun, saat ini tubuhnya mengeluarkan bayangan putih pertanda ilmunya semakin bertambah dan tubuhnya semakin kuat. Satu jam bahkan sampai dua jam Aulia masih berkonsentrasi di tempat duduknya dia tidak bergerak sama sekali. Tiba-tiba saja malam itu burung-burung diluar sana berbunyi seperti kicauan di pagi hari, tapi cukup berbeda suara burung-burung itu tidak seperti biasanya seakan ada pertanda buruk yang akan terjadi di desa itu. Seketika itu juga Aulia, terjaga dari konsentrasinya dia menoleh ke arah jendela kamar, dia menajamkan pendengarannya dia mendengar burung-burung itu seperti sedang bertengkar Aulia, pun berdiri berjalan mendekati jendela kamar itu, dia tahu burung-burung itu berada di pegunungan tapi pendengaran Aulia sangat tajam. Aulia membuka jendela tersebut, dia melihat ke arah pegunungan disana terlihat begitu gelap karena cahaya bulan tertutup awan membuat suasana semakin mencekam.


"Ada apa dengan burung-burung itu? tidak seperti biasanya mereka berbunyi seperti ini?" gumam Aulia, dia pun kembali menutup jendela kamarnya berjalan mendekati tempat tidur dia pun segera membaringkan tubuhnya disana.


Aulia tidak bisa memejamkan matanya, dia masih mendengar bunyi-bunyian burung itu di pegunungan itu, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2