
Aulia bangkit dari tempat tidurnya dia menaruh kembali kitab harimau 🐯 putih itu ke tempatnya, Aulia keluar dari kamar dan mengejar seseorang yang melewati rumahnya. Ternyata itu adalah Bara.
''Itukan Bara kenapa? dia keluar malam-malam seperti ini,'' batin Aulia dia segera mendekati Bara.
''Bara ada apa?'' tanya Aulia.
''Ada yang ingin merebut kitab harimau putih itu dari mu,'' ujar Bara tanpa menoleh ke arah Aulia.
''Siapa?'' tanya Aulia.
''Bangsa harimau 🐯 kuning berhati-hatilah kamu, karena mereka sangat licik, jangan sampai mereka berhasil mengambil kitab itu,'' ujar Bara.
Aulia menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun kembali pulang dari gunung itu, Aulia tidak mengerti kenapa? Bara bisa lebih mengetahui, bahwa ada bangsa harimau 🐯 kuning yang datang dan ingin mengambil kitab itu darinya.
"Dari mana kamu tahu? bahwa kitab itu ada padaku?" tanya Aulia.
"Aku ini bukan Bara, aku hanya di tugaskan untuk berada di tubuh ini, tapi kamu jangan khawatir Bara tetap ada, jadi aku mengetahui kalau bangsa harimau 🐯 kuning itu sangat menginginkan kitab itu," ujar Bara.
"Apa aku tetap bisa memanggil kamu sebagai Bara?" tanya Aulia.
"Tentu saja, Bara tetap ada, ini tubuh dia," sahut Bara.
"Apa aku boleh tahu siapa nama kamu?" tanya Aulia.
"Gantala, bisa di sebut dengan sebutan Bara," sahutnya sambil tersenyum.
Mereka berdua duduk di kaki gunung itu sambil bercerita tentang dua dunia yang harus mereka jalani.
"Sebaiknya kamu pulang ke rumah nanti orang tua mu khawatir jika kamu tidak ada di rumah,'' ujar Aulia.
''Baiklah aku akan pulang, hari juga sudah mulai pagi,'' sahut Bara dia pun berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan Aulia di gunung itu.
Aulia pun pulang sendiri, dia menoleh ke belakang melihat sekeliling gunung dia merasa ada makhluk lain yang sedang mengitainya. Tapi Aulia tidak mempedulikannya dia segera pulang.
.
.
Pagi harinya, Aulia sedang sarapan pagi bersama sang nenek.
''Nek, pagi ini Aulia mau ke makam
kakek, apa nenek mau ikut,'' ujar Aulia.
__ADS_1
''Iya nenek akan ikut sama kamu,'' sahut Bu Lilis.
Pagi itu mereka pergi berdua ke makam Pak Rahman. Sampainya di sana Aulia duduk di samping makam Pak Rahman dia masih merasa begitu kehilangan seorang kakek yang telah merawatnya dari kecil.
"Kakek Aulia datang, maaf Aulia baru datang sekarang, Aulia baru menjalankan tugas yang begitu berat, cuba saja kakek masih ada pasti Aulia akan ceritakan semua beban ini kek, Aulia rasa dunia ini tidak adil kepada Aulia kek. Kakek bagaimana cara Aulia untuk menghadapi semua ini, Aulia juga merasa Aulia ini sudah menjadi seorang siluman," batin Aulia dia tidak bisa menahan air matanya sendiri jika berhadapan dengan kakeknya meskipun Pak Rahman sudah meninggal tapi bagi Aulia kakeknya selalu ada di dekatnya.
"Ayo Aulia kita pulang," ujar Bu Lilis.
"Iya nek," sahut Aulia.
Mereka pun pulang kerumah Aulia langsung masuk ke dalam kamarnya dia menoleh ke arah Lemari dimana kitab itu di simpannya. Dia berjalan mendekati lemari itu dan membukanya, Aulia memegang kitab tersebut. Dia merasa tidak kuat harus menjaga kitab itu apa lagi jika sampai bangsa harimau 🐯 kuning mendatangi rumahnya, Aulia juga sangat khawatir kepada neneknya.
"Aku harus kembalikan kitab ini kepada Kakek Agra, aku tidak bisa mempelajari kitab ini terlalu jauh lagi ini akan membahayakan warga dan juga nenek," batin Aulia.
Aulia memanggil kakeknya melaui panggilan batin, tidak butuh berlama-lama sang kakek sudah berada di kamarnya.
"Ada apa? cucuku?" tanya sang Kakek.
Tanpa berkata-kata Aulia langsung memberikan kitab itu kepada kakeknya.
"Kenapa?" tanya sang kakek.
"Aulia tidak bisa mempelajari kitab ini kek, Aulia tidak mau membahayakan warga desa apa lagi Aulia masih punya nenek yang harus Aulia jaga," ujarnya.
"Maksud kakek?" tanya Aulia sambil mengerutkan keningnya.
"Kamu harus tahu, semua makhluk siluman menginginkan kitab itu, jika kamu tidak mempelajarinya maka kamu sendiri yang akan menyesal!" ujar sang Kakek menatap Aulia tajam.
"Tapi, Kek...''
"Aulia cuman kamu yang berhak menjaga kitab ini yang lain tidak bisa kakek percaya, meskipun kakek memiliki murid yang sangat kakek percayai, tapi sekarang dia tinggal di dalam raga sahabat kamu, jika kakek memberikan kitab itu kepada Gantala maka raga Bara akan hancur selamanya," ujar sang Kakek panjang lebar.
Aulia hanya bisa diam, dia sudah tidak mampu berkata-kata jika sudah menyangkut sahabat dan warga. Desa apa lagi sang nenek yang harus dia jaga seumur hidupnya.
"Ya sudah kakek pergi dahulu, jaga lah kitab itu sebaik-baiknya agar tidak jatuh kepada tangan ✋ yang salah," ujar sang kakek. Raja Agra pun pergi meninggalkan Aulia.
"Apa yang harus hamba lakukan Ya Allah, bantulah hamba untuk menjalankan tugas ini," batin Aulia sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
.
.
Sore harinya Aulia melamun di kebunnya sang nenek menyuruhnya berkebun sore itu, tapi dia malah melamunkan soal kitab itu. Tanpa sepengetahuannya, sang nenek datang membawakan dia makanan.
__ADS_1
"Aulia-Aulia," panggil sang nenek.
"Nenek," ujar Aulia terkejut melihat sang nenek sudah berada di sampingnya.
"Kamu lagi memikirkan apa? nenek datang pun kamu tidak tahu," ujar Bu Lilis.
"tidak ada nek, nenek membawakan Aulia makanan ya?'' tanya Aulia mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya nenek sengaja membawakan kamu makanan, mungkin kamu sudah lapar jadi nenek bawakan buat kamu," sahut Bu Lilis.
Aulia membuka rantang nasi yang telah di bawa neneknya.
"Ayo nek kita makan berdua," ajak Aulia.
"Kamu makan sendiri saja, nenek sudah makan tadi," sahut Bu Lilis.
Aulia pun mulai menyedokkan nasi ke mulutnya dia begitu lahap memakan masakan sang nenek yang begitu lezat di lidahnya.
Berapa jam berlalu Aulia dan neneknya pulang ke rumah sambil membawa berapa jenis sayuran untuk dijual kepasar, dan yang lainnya untuk di makan di rumah.
"Aulia nenek pergi kepasar dahulu ya, untuk menjual sayur-sayuran ini," ujar Bu Lilis.
"Iya nek, nenek hati-hati ya," sahut Aulia.
Saat sang nenek pergi kepasar Aulia membersihkan rumah dia tidak bisa melihat neneknya lelah pulang dari pasar.
Setelah semua bersih, Aulia melanjutkan kewajibannya yaitu salat asar meskipun dia begitu lelah tetapi dia tidak pernah meninggalkan salatnya dia membutuhkan Tuhan untuk menjalani hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
...BERSAMBUNG JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT TIPS HANYA CERITA FIKSI...
__ADS_1