Harimau Aulia

Harimau Aulia
sungai seberang


__ADS_3

"Untuk apa kita ke sungai ini?" tanya Bara.


"Kata berapa orang warga, siluman ular itu muncul di sungai ini," jawab Aulia.


"Hemm. Sepertinya siluman ular, bukan hanya sekali muncul di tempat ini, tapi sudah berapa kali. Kau masih ingatkan? waktu kita menghabisi anak Ratu Sanca," ujar Bara.


Aulia menganggukkan kepalanya, dia juga tidak bisa melupakan tempat itu, dimana sang kakek juga meninggal di tempat tersebut.


DI KERAJAAN RATU SANCA.


Ghani meminta izin untuk kembali ke desanya dia ingin menghacurkan desa itu, Ghani sakit hati kepada warga tersebut karena orang-orang desa itu, yang telah menghabisi orang tuanya dengan sadis.


"Silahkan hancurkan mereka yang telah menghabisi orang tua mu!" ucap sang Ratu tersenyum miring, dia merasa puas telah menguasai seorang Ghani yang bisa dia perintahkan kapan saja.


Ghani pun segera pergi dengan wujud ularnya dia melesat dengan cepat melalui hutan dan sungai -sungai di hutan tersebut.


DESA SEBERANG


"Sampai kapan? Kita terus di sini?" tanya Bara menatap sungai tanpa mengalihkan pandangannya.


"Sampai Ghani datang!" Jawab Aulia.


Bara hanya menganggukkan kepalanya. Dua orang warga desa itu, berjalan melintasi jembatan dan melihat keberadaan Aulia dan Bara di tepian sungai tersebut.


"Pak bukannya anak muda itu orang desa Indah?" tanya seorang warga yang melintasi jembatan tersebut.


"Benar Pak, mau apa mereka di sungai itu," ujar orang kedua.


"Ayo kita tanya sama mereka mau apa mereka disini." Ajak orang pertama.


Sampainya meraka di dekat Aulia, mereka langsung bertanya kepada Aulia untuk apa mereka di sungai tersebut.


"Kalian anak muda, untuk apa kalian di sungai ini?" tanya seorang warga yang tidak terlalu tua itu.


"Kami berdua penasaran Pak sama siluman itu," jawab Bara.


"Kalian jangan macam-macam dengan manusia siluman ular itu, nanti kalian berdua bisa di habisinya. Seperti warga kami," ujar orang pertama.


"Lebih baik kalian berdua tinggalkan tempat ini, apa lagi cuaca sudah mulai gelap," ucap orang kedua.


"Tidak apa-apa kok Pak, kami hanya penasaran saja, nanti kita akan pergi kok dari sini," sahut Aulia.

__ADS_1


"Terserah kalian saja! Ayo Pak kita pergi dari sini. Biarkan saja mereka mati di mangsa ular itu!" warga tersebut pun pergi meninggalkan Bara dan Aulia di sungai tersebut.


"Kejam sekali ucapan Bapak itu," ujar Bara tersenyum.


"Mereka bukan kejam, tapi khawatir sama kita," jawab Aulia.


"Hari juga udah mau Maghrib nih, apa kita sholat disini saja," ujar Bara.


Aulia menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun melaksanakan shalat mereka di tepian sungai tersebut.


Di tempat lain dua orang warga tadi masih mengintai Aulia, dan Bara, di sungai itu. Mereka masih penasaran apa yang akan dilakukan oleh Aulia, dan Bara, jika siluman ular itu muncul di permukaan sungai.


"Anak muda itu pasti bukan orang sembarangan! tidak mungkin kan? mereka berani untuk melihat siluman ular itu," ujar orang pertama.


"Sepertinya begitu Pak, tapi kita juga tahukan kalau orang-orang desa indah rata-rata memiliki ilmu seperti dukun," ucap orang kedua.


"Sekarang kita lihat saja, sampai kapan anak muda itu bertahan di sungai itu," ujar orang pertama.


Warga berdua itu, duduk di balik semak-semak yang berada di teping sungai untuk melihat apakah ular itu muncul atau tidak.


Hari sudah semakin gelap, Aulia, dan Bara, masih bertahan di sungai tersebut. Begitu juga dengan dua orang warga itu, masih bertahan di balik semak-semak.


"Sampai kita melihat apa yang akan mereka lakukan," jawab orang pertama.


Di tepi sungai Bara, menyalakan api unggun untuk menerangi mereka. Tiba-tiba tidak jauh dari mereka Aulia melihat air sungai berombak seperti ada mahkluk yang sedang melintas.


"Kau sedang melihat apa?" tanya Bara.


"Lihat itu! pasti siluman itu akan muncul." Aulia menuju ke arah sungai tersebut.


Warga berdua tadi pun melihat ke arah tunjuk Aulia, mereka merasa ketakutan melihat air sungai yang begitu besar hingga membuat air sungai keruh.


"Apakah siluman ular itu muncul?" tanya orang kedua.


"Sepertinya," jawab orang pertama, "kita tetap disini saja melihat mereka," ujar orang pertama.


Orang kedua menganggukkan kepalanya, meskipun dia terlihat ketakutan.


"Akhirnya kau muncul juga sekian lama saya menunggu kedatangan kau." Aulia menatap ular itu dari dekat.


Ghani yang berwujud ular itu mendekatkan wajahnya di depan Aulia, sedikit pun Aulia tidak merasa takut melihat ular besar itu, bisa saja Gahni menelan Aulia bulat-bulat karena wujudnya yang besar.

__ADS_1


"Anak muda itu sudah gila apa? dia begitu berani menantang siluman ular yang begitu besar di depannya," ujar warga itu.


"Mengerikan sekali ular itu benar-benar sangat besar!" jawab orang kedua sambil bergidik ketakutan.


"Sudahlah Ghani, sebaiknya jangan lagi kau mengganggu desa ini, semua itu adalah kesalahan kau sendiri. Kenapa kau harus menyakiti orang-orang di desa ini," ucap Bara begitu entengnya tidak ada rasa takut sama sekali.


Ghani mengubah dirinya menjadi manusia, dia berdiri berhadapan dengan Aulia. Dua orang warga yang bersembunyi di balik semak-semak tersebut, meraka sangat terkejut melihat Ghani berubah menjadi manusia. Baru kali ini mereka melihat Ghani yang berubah ular dan menjadi manusia.


"saya benar-benar penasaran siapa mereka sebenarnya," ujar orang pertama.


"Saya juga begitu penasaran Pak, siapa dua anak muda itu. Meskipun kita tahu mereka berasal dari desa. Indah, tapi keberanian mereka menantang siluman ular seperti Ghani, mereka tidak ketakutan sedikit pun," sahut orang kedua.


Ghani, Aulia, dan Bara, masih berdiri berhadapan menatap dengan tajam.


"Saya tidak sejahat itu Aulia, meskipun sejujurnya kalian adalah musuhku, tapi untuk warga desa ini sudah membuat saya marah! jika mereka tidak menuduh saya dan menjelekan orang tua saya, maka saya tidak mungkin sejahat ini!" Hardik Ghani.


"Ini semua salah kau! bukan salah warga desa, kalau kau tidak menunjukkan wujud asli kau itu, maka semua ini tidak akan terjadi!" bentak Bara.


"Kalian berdua tidak akan pernah merasakan, apa yang sedang saya rasakan saat ini, meraka sudah membakar rumah dan orang tua saya!" jawab Ghani.


"Sebelum kau merasakan semua ini, kita duluan yang merasakannya! sekarang apa yang ingin kau lakukan kepada warga itu?" tanya Bara mendekati Ghani.


"Saya akan menghancurkan desa ini, sebagai mana, mereka menghancurkan hati saya, dan orang tua saya!" Ghani pun melangkahkan kakinya pergi.


Dengan cepat Aulia menarik baju Ghani, mereka pun mulai bertarung di tepian sungai itu. Dua warga tersebut hanya menyaksikan pertarungan tersebut. Seperti melihat pertandingan yang akan di kalahkan oleh anak muda.


"Sepertinya kalian berdua, tidak bisa di ajak bicara baik-baik!" Ghani terus menyerang Aulia satu lawan satu.


Bara tidak ingin mengganggu pertarungan mereka berdua.


Ghani mengeluarkan ilmu sihirnya, dia mengarahkan ilmu tersebut ke arah Aulia, hingga membuat Aulia terhempas ke dalam sungai. Dengan cepat Ghani mengubah wujudnya menjadi ular besar dia langsung melompat ke dalam sungai, Dan hingga membuat air sungai itu, berhamburan saat mereka bertarung di dalamnya, Aulia mengeluarkan sihirnya mengarahkan ilmu tersebut ke arah Ghani, Ghani pun kembali terpental ke tepi sungai, dengan cepat Aulia mengubah wujudnya menjadi harimau.


Warga yang bersembunyi tersebut terlonjak kaget setelah melihat sosok Aulia yang seorang harimau, "Astaghfirullah, ternyata pemuda itu adalah seorang harimau putih!."


"Ini benar-benar luar biasa! saya akan memberitahu kepada warga lainnya kalau kita sudah melihatnya!" ujar orang kedua.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2