Harimau Aulia

Harimau Aulia
Aulia


__ADS_3

"Ghani kau ke mana saja? dari semalam ibu tidak melihat kau di rumah?" tanya sang ibu.


"Tadi malam Ghani ketemu sama kawan," jawab Ghani tersenyum sambil berjalan menuju kamarnya.


"Baiklah, ayok kita makan dulu dari semalam kau belum makan," ujar sang ibu.


"Iya buk sebentar lagi," jawab Ghani dari dalam kamarnya.


"Bagaimana buk? Apa Ghani sudah pulang?" tanya Ayah Ghani.


"Sudah pak, sekarang dia ada di kamarnya," jawab sang Istri sambil menyiapkan makanan pagi itu.


"Ada apa pak? sepertinya ada yang bapak pikirkan?" tanya sang istri membuyarkan lamunan sang suami.


"Bapak masih memikirkan tentang perkataan warga, buk," jawab sang suami.


"Tentang apa pak?" tanya istri.


"Tentang Anak kita Ghani yang berubah ular, apa benar ya buk? ucapan orang-orang itu?" tanya sang suami sambil mengambil gelas air dan meneguknya.


"Sudahlah pak, jangan dengarkan perkataan warga. Mana ada sih manusia berubah ular, kalau pun ada itu hanya siluman," ujar sang istri.


Di lain tempat Ghani mendengar ucapan orang tuanya, tentang dirinya yang berubah ular. Dia begitu marah kepada warga yang menceritakan tentang dirinya.


"Benar yang ibu katakan, kalau pun ada itu hanya siluman yang bisa berubah ular, bukan manusia seperti anak kita," ujar suami.


"Ya sudah jangan di pikiran lagi, ayo kita makan, ibu akan panggil Ghani biar kita sarapan bersama," ucap sang istri.


DI TEMPAT LAIN.


Aulia dan Bara masih berada di hutan, mereka berhasil menemukan Elang tersebut yang sudah tidak berdaya, Aulia memberikan ilmu tenaga dalamnya untuk mengobati Elang itu agar dia kembali sembuh, Bara hanya menatap Aulia.


"Kau memegang pantas di sebut sebagai harimau putih, kau sangat baik kepada siapapun. Kepada seekor hewan pun kau sekhawatir ini," batin Bara.


Setelah Elang itu sedikit bertenaga mereka membawanya pergi dari hutan tersebut.


"Apa kita akan membawanya ke desa?" tanya Bara.


"Iya kita akan membawanya ke desa untuk beberapa hari. Setelah dia sembuh kita akan mengembalikan dia ke hutan," jawab Aulia.


Setelah berjalan jauh akhirnya mereka pun tiba di desa indah.


"Sepertinya aku akan berbohong lagi kepada Ayahku," ucap Bara.


"Bilang saja kalau aku sakit, dan kau menemaniku," ujar Aulia.

__ADS_1


"Wah! Ternyata kau sudah pintar untuk berbohong ya," ujar Bara tertawa.


"Bukankah kau mengajariku berbohong," hardik Aulia.


"Iya, mau bagaimana lagi, itulah cara satu-satunya agar kita tidak ketahuan oleh warga," sahut Bara.


"Cuma itu saja yang tahu, berbohong dan berbohong," jawab Aulia.


Mereka pun terus berjalan menuju pendesaan, Aulia kembali ke rumahnya begitu pun dengan Bara mereka kembali ke rumah masing-masing.


Sampainya dirumah, Aulia segera memasuki Elang tersebut ke dalam tempatnya.


Bara melihat Ayahnya duduk di halaman rumahnya. Dia takut sang Ayah mengetahui dirinya karena tidak pulang ke rumah semalam, Bara pun berjalan berlahan-lahan memasuki rumahnya. Agar tidak ketahuan oleh sang Ayah.


"Bara." Panggil sang Ayah.


Bara menutup matanyan sejenak karena terkejut, sanag Ayah mengetahui dirinya pulang. Bara, membalikkan badannya menoleh kepada sang Ayah.


"Kau dari mana saja?" tanya sang Ayah.


"Aku baru pulang dari rumah Aulia, Yah sebab dia lagi sakit jadi aku menemani dia dirumahnya," jawab Bara berbohong.


"Apa sakitnya parah?" sang Ayah terlihat khawatir.


Pak Sury hanya menganggukkan kepalanya.


"Bara masuk dulu, mau istirahat." Bara pun berjalan menuju kamarnya.


"Kasihan sekali Aulia, dia tinggal sendiri dan sekarang dia sakit, bagus Bara menemani dia," batin Pak Sury.


DI TEMPAT LAIN


Bayu dan anak buahnya pergi ke rumah pak kades untuk membicarakan tentang tanah yang akan di kembalikan kepada Aulia.


"Baik saya akan memberitahukan kepada Aulia bahwa tanah itu akan dikembalikan kepadanya," ujar pak kades," apa kalian ingin kembali ke kota?" tanya pak kades.


"Rencana kami memang ingin kembali ke kota, tapi.." ucapan Bayu terhenti.


"Tapi apa?" tanya pak kades mengerutkan keningnya.


"Saya masih penasaran dengan cerita siluman di desa ini, apakah benar-benar ada atau hanya omongan belaka saja," ucap Bayu.


"Kalian jangan pernah bicara besar di desa ini, kalau kalian tidak ingin terjadi sesuatu kepada kalian!" ujar pak kades.


"Apakah Anda sudah pernah melihat siluman itu?" tanya salah satu anak buah Bayu.

__ADS_1


"Jelas saya sudah pernah melihatnya, seperti harimau jadi-jadian dan siluman ular," jawab pak kades.


Bayu dan anak buahnya saling tatap satu sama lain, mereka sedikit percaya dengan apa yang dikatakan oleh pak kades Budin.


"Bisakah Anda menceritakan tentang kejadian-kejadian itu pak, karena kami benar-benar penasaran dengan cerita yang ada di desa ini," ujar Bayu.


"Kejadian itu sudah cukup lama, tapi sampai sekarang siluman itu masih berkeliaran di desa ini," ujar pak kades.


Istri pak kades pun menyahut sambil membawa minuman," Benar! apa yang dikatakan suami saya, apa lagi kakek Aulia lah yang sudah menjadi korbannya."


Bayu mengerutkan keningnya dia masih tidak mengerti dengan perkataan istri pak kades itu.


"Maksud ibu bagaimana? saya masih tidak mengerti," ujar Bayu.


"Beberapa tahun yang lalu, kakek Aulia yang bernama pak Rahman itu, meninggal gara-gara di terkam harimau jadi-jadian itu. Korbannya juga sudah banyak, iyakan Pak?" tanya sang istri.


Pak kades hanya mengangguk-angguk kepalanya dia pun mengambil sebuah gelas yang berisi kopi dan menyeruputnya.


"Apakah harimau jadi-jadian itu, harimau putih?" tanya Bayu yang masih begitu penasaran dengan harimau jadi-jadian tersebut.


"Bukan, harimau putih tidak pernah mengganggu desa ini!, bahkan harimau putih di percaya melindungi desa ini," jawab ibu kades.


"Sudah kalian orang kota tidak usah mencari tahu, tentang harimau jadi-jadian itu. Nanti malah kalian sendiri yang kena patuknya, lebih baik kembalilah ke penginapan, cuaca juga sudah mulai gelap," ujar Buk kades.


"Baiklah kalau begitu kami pergi dahulu." Bayu dan anak buahnya segera pergi dari rumah Pak kades.


Di penginapan Naura dan kaila menunggu kedatangan Bayu karena sudah cukup lama mereka pergi.


''Naura duduklah, sebentar lagi Bayu juga pulang," ucap Kaila melihat Naura berjalan mondar-mandir.


"Aku belum bisa tenang kalau Bayu dan teman-temanya belum pulang, aku takut terjadi sesuatu sama mereka. Kamu tahukan desa ini bagaimana!" ujar Naura.


Tidak lama sebuah mobil datang menuju penginapan, Naura nampak tersenyum setelah melihat Bayu dan anak buahnya baik-baik saja. Mereka pun segera masuk ke dalam penginapan tersebut.


''Kenapa kamu lama banget sih perginya, aku khawatir," ucap Naura.


''Tadi aku di rumahnya Pak kades, kan aku sudah beritahu kamu,'' jawab Bayu sambil memegang wajah Naura.


Tidak sengaja Aulia melihat Bayu yang sedang memeluk Naura, karena pintu rumah penginapan itu terbuka, untungnya Naura tidak melihat Aulia. Hanya saja Kaila melihat semua itu.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2