
"Pedang ini luar biasa," ucap Bara dengan kagum. "Pantas saja para siluman mengincarnya.''
"Kamu Benar Bara, sambung Aulia. "Karena itu kita harus menyimpannya di tempat yang aman.'' "Sebaiknya kita bawa ke hutan terlarang di tempat kakek, biar kakek yang menjaganya," usul Aulia.
Bara menyambut ide Aulia dan mengangguk.
"Langit kamu harus ikut dengan kami ke hutan terlarang," ucap Aulia.
Elang itu langsung terbang ke luar Gua Tujuh, Aulia dan Bara mengubah wujud menjadi harimau agar lebih cepat sampai ke hutan terlarang. Pedang tersebut diletakkan di punggung Aulia dengan tali yang melingkar di punggungnya.
Namun di tengah jalan Gavar dan Aidan mengehentikan mereka. Aulia dan Bara kembali mengubah wujud manusia.
''Kenapa kalian selalu saja mengganggu perjalanan kami?'' tanya Bara.
"Kami ingin pedang itu," jawab Aidan. Dan nyawa kalian juga."
Bara menatap tajam ke arah Aidan dan Gavar.
''Hei, manusia lemah! kau jangan ikut campur dalam urusan kami dengan Aulia!'' ucap Gavar.
''Gavar kenapa kau bicara seperti itu, kepada dia, bukankah dia juga manusia harimau!'' ucap Aidan tertawa cekikikan di depan Bara dan Aulia.
''Tapi kau benar juga, dia menjadi harimau gara-gara ada harimau putih yang merasuki tubuhnya, dan iya harimau putih itu tidak tahu malu memasuki tubuh manusia biasa!'' ucap Gavar.
__ADS_1
Gavar mengolok-olok Bara menjadi harimau karena dirasuki harimau putih, Bara ingin menyerang Gavar. Aulia melarang Bara untuk maju menyerang dan meminta tahu apa yang mereka inginkan selain pedang.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, jangan mengganggu perjalanan kami. Aku tidak punya urusan dengan kalian,'' ucap Aulia.
''Kami sudah bilang kami menginginkan pedang itu!'' jawab Aidan.
''Apa tidak ada yang lain, yang kalian inginkan selain pedang ini?'' tanya Aulia.
Ternyata Gavar dan Aidan sudah mengetahui bahwa pedang itu sudah berada di tangan Aulia, dan mereka juga tahu bahwa pedang tersebut akan mereka bawa ke hutan terlarang.
''Kalian berdua ini sungguh tidak tahu malu! menginginkan milik orang lain,'' ucap Aulia.
''Jangan banyak tingkah kau Aulia, serahkan saja pedang itu kepada kami!'' ucap Aidan memaksa.
''Kurang ajar!'' ucap Aidan.
Mereka pun mulai berkelahi untuk merebut pedang itu, saling mengubah wujud dan mengeluarkan ilmu tenaga dalam masing-masing. Elang datang membantu Aulia dan Bara, lalu mereka mengambil kesempatan untuk melarikan diri menuju hutan terlarang, Gavar dan Aidan terus bertarung dengan elang tersebut.
Tidak butuh lama bagi Aulia dan Bara untuk sampai ke hutan terlarang. Sesapampainya mereka di sana, mereka langsung di sambut oleh penduduk desa terlarang.
''Selamat datang Aulia dan Bara,'' ucap orang-orang disana.
Bara dan Aulia hanya mengangguk dan tersenyum kepada mereka.
__ADS_1
''Salam kakek,'' sapa Aulia kepada Raja Agra.
''Selamat datang murid dan cucuku.''
Raja Agra mempersilahkan mereka masuk ke pondok bambu untuk pertemu.
''Kakek kami datang kemari untuk menyerahkan pedang ini,'' ucap Aulia melepaskan pedang itu dari punggungnya dan memberikannya kepada Raja Agra.
Sang kakek mengambil pedang yang di serahakan oleh Aulia, Raja Agra menatap pedang itu dengan kagum.
''Dimana elang itu?'' tanya Raja Agra menatap Aulia dan Bara.
Belum sempat mereka menjawab pertanyaan dari sang kakek, elang itu sudah berbunyi duluan di luar sana.
''Itu pasti dia,'' ucap Bara.
.
.
.
. BERSAMBUNG jangan lupa dukungannya.
__ADS_1