
Aulia mengeluarkan gerak gerik ciri khas manusia harimau membuat bangsa. Harimau kuning itu mati di tangannya, hanya satu yang tersisa, Aulia sengaja membiarkan satu harimau itu pergi.
...PAGI HARINYA..
"Aulia-Aulia," panggil Bu Lilis sambil mengetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban dari dalam kamar, Bu Lilis pun membuka pintu kamar Aulia dia melihat tidak ada Aulia di kamarnya.
"Kemana? perginya Aulia," batin Bu Lilis.
Bu Lilis kembali menutup pintu kamar. Dia pergi ke makam suaminya berharap Aulia ada di sana. Tapi di sana juga tidak ada, Bu Lilis pergi ke rumah Bara dia. Berharap Aulia ada di rumah Bara.
"Assalamualaikum," ucap Bu Lilis.
"Waalaikumsalam," jawab Bara.
"Nenek, ada apa? kok nenek bisa sampai kesini?" tanya Bara.
"Nenek mencari Aulia apa dia tidur di rumah kamu semalam?" tanya Bu Lilis.
"Tidak nek Aulia gak ada disini, Emangnya Aulia pergi kemana nek?" tanya Bara mengerutkan keningnya.
"Nenek juga tidak tahu, dia pergi kemana dari semalam dia ngak ada di rumah," sahut Bu Lilis semakin khawatir.
"Kamana? Aulia pergi apa ke bukit itu," batin Bara, "ya sudah sebaiknya nenek pulang saja dulu, biar Bara yang mencari Aulia," ujar Bara.
Bu Lilis menganggukkan kepalanya dia kembali pulang ke rumah, Bara pun segera pergi mencari Aulia.
........
Dua orang pemancing lewat di sekitar jembatan mereka melihat Aulia tergeletak di sana orang itu pun langsung berlari mendekati Aulia.
"Inikan cucunya Pak Rahman orang yang di terkam harimau semalam?" tanya Orang pemancing itu.
"Iya ngapain dia ada disini" sahut temannya.
"Mas-mas," panggil mereka berharap Aulia sadar. Tidak lama Aulia membuka matanya dia melihat sudah ada orang di dekatnya.
"Kamu kenapa? ada disini?" tanya mereka.
"Maaf Pak saya harus pulang," ujar Aulia. Tanpa menjawab pertanyaan dua orang Bapak-Bapak itu, Aulia terus berjalan meninggalkan mereka di atas jembatan.
"Kenapa? dengan dia? aneh sekali anak muda jaman sekarang," ujar orang itu mereka pun kembali memancing.
Akhirnya Aulia sampai ke. Desanya di perjalanan dia bertemu dengan Bara.
"Aulia kamu dari mana saja?" tanya Bara.
"Kamu tidak perlu tahu!" sahut Aulia sambil terus berjalan.
"Aulia rambut kamu kenapa?'' tanya Bara. Melihat rambut Aulia berubah putih.
"Kenapa? dengan rambut kk?'' tanya Aulia karena dia tidak bisa melihat.
__ADS_1
"Rambut mu berubah putih," sahut Bara.
"Apa? apa? semua rambutku memutih?" tanya Aulia.
"Tidak, hanya sedikit saja tapi keliatan sangat bagus," ujar Bara
Mereka sudah berada di rumah Bara, Bara memberikan sebuah cermin kepada Aulia agar dia bisa melihat rambutnya yang putih.
"Kenapa? rambutku bisa putih seperti ini ya, Apa aku benar-benar seorang harimau seperti yang di katakan oleh Bara" batin Aulia.
"Bara aku pulang dulu ya, mungkin nenek sudah menunggu ku di rumah," ujar Aulia.
"Iya hati-hati," sahut Bara.
Aulia segera pulang ke rumahnya, Sampainya di rumah dia melihat sang nenek sedang duduk di kursi meja makan dia hanya melamun menunggu Aulia pulang.
"nenek," panggil Aulia mendekati sang nenek.
"Aulia kamu dari mana saja? nenek sangat khawatir sama kamu," ujar Bu Lilis.
"Maaf nek sudah membuat nenek khawatir, sekarang Aulia udah pulang ayo kita makan," ujar Aulia.
"Aulia kenapa? dengan rambut mu?" tanya Bu Lilis.
Aulia pun menghentikan makanya.
"Ngak tahu nek," sahut Aulia kembali menyedokkan nasi ke mulutnya.
"Nenek Aulia mau tanya? sama nenek?" tanya Aulia.
"Mau tanya apa," sahut Bu Lilis menatap cucunya itu.
"Siapa Aulia sebenarnya?" tanya Aulia.
Degg...
"Maksud kamu apa?" tanya Bu Lilis.
Meskipun dia tahu siapa Aulia sebenarnya tapi dia tetap merahasiakannya.
"Nenek pasti tahu semuanyakan, tolong ceritakan semuanya nek, dari mana Aulia berasal," ujar Aulia berharap sang nenek menceritakan semuanya.
"Pak Bagaimana cara ibu menceritakan semuanya kepada Aulia, kenapa Bapak harus pergi secepat ini Ibu tidak tahu harus menjawab apa," Batin Bu Lilis.
"Maksud nenek kenapa? kamu bertanya seperti itu kamu itukan cucunya nenek," ujar Bu Lilis.
"Bukan itu nek, Aulia sering bermimpi soal hutan terlarang itu bahakan Aulia bisa memasuki hutan tersebut. Bukankah kakek dulu pernah cerita bahwasannya tidak ada seorang pun yang bisa datang ke tempat itu," ujar Aulia.
Bu Lilis terkejut mendengar perkataan Aulia bawah dia juga pernah bermimpi tentang. Desa Terlarang tersebut. Tapi Bu Lilis tidak ingin menceritakannya dia takut Aulia juga akan pergi meninggalkan dirinya.
"Nenek tidak bisa menjelaskannya sama kamu lebih baik kamu tahu sendiri," ujar Bu Lilis berdiri dari duduknya pergi menuju kamar.
"Nek bagaimana Aulia bisa tahu kalau nenek tidak menceritakannya!" sahut Aulia.
__ADS_1
Sang nenek tidak mendengarkannya.
..........
Pagi harinya, Aulia bangun dari tidurnya dia mendekati sabuah cermin yang ada di kamarnya itu. Dia mulai memperhatikan rambutnya yang belum berubah juga.
"Rambut ini membuat aku menjadi aneh semalam apa yang harus aku lakukan dengan rambut ini, Kenapa? rambut ini tidak lagi berubah hitam?, Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya dengan ku," batin Aulia sambil mengacak-acak rambutnya.
Siang itu Aulia pergi berkebun bersama sang nenek karena Pak Rahman sudah tidak ada Aulia hanya tinggal bersama neneknya.
"Nenek istirahat saja dulu biar Aulia saja yang mengerjakannya," ujar Aulia.
Bu Lilis menganggukkan kepalanya sambil berjalan menuju pondok yang ada di kebun itu, Aulia terus berkerja menanam sayur dan yang lain-lainnya.
Bu Lilis melihat ke arah hutan yang menuju. Desa Terlarang itu. Dia tahu kalau Aulia berhak mengetahui siapa dirinya tapi dia sudah berjanji dengan tuan harimau itu bahwa Aulia sendirilah yang akan mengetahui siapa jati dirinya nanti.
Tidak sengaja Aulia melihat sang nenek melihat ke arah hutan tersebut.
"Kenapa? nenek melihat ke arah hutan itu," batin Aulia.
Berapa jam berlalu Aulia dan sang nenek sudah berada di rumah mereka, Aulia membantu sang nenek memasak untuk makan malam mereka.
"Nenek ayo kita salat magrib dulu," ajak Aulia.
"iya," sahut Bu Lilis, berjalan menuju sumur mengambil air wudhu.
Setelah salat magrib Aulia dan Bu Lilis makan malam berdua. Tiba-tiba saja Bu Lilis menangis. ðŸ˜
"Nenek kenapa menangis �'' tanya Aulia.
"Nenek teringat sama kekek kamu," sahut Bu Lilis.
"Udah sekarang nenek makan dulu, pasti kakek sudah bahagia di sana," ujar Aulia, dia sendiri pun tidak bisa melupakan sang kakek yang telah merawatnya dari kecil.
"Oh iya, nek nanti Aulia mau pergi ke mesjid nenek ngak apa-apakan kalau Aulia tinggal sendiri di rumah," ujar Aulia.
"Iya ngak apa-apa nenek juga mau istirahat," sahut Bu Lilis.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG JANGAN LUPA LIKE NYA DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT
HANYA CERITA FIKSI
__ADS_1