
"Aulia, kenapa kau tiba-tiba pergi dari sana? Kitakan belum selesai makan," ujar Bara mengikuti langkah Aulia.
"Aku sudah kenyang," jawab Aulia yang terus berjalan.
"Apa kau cemburu melihat Naura sama Bayu? Apakah kau masih mencintainya?" tanya Bara serius.
"Jangan pernah kau mengungkit masa itu, aku sudah melupakannya," ucap Aulia.
"Baiklah aku tidak akan bicara lagi." Bara terus berjalan mengikuti Aulia.
Di perjalanan Aulia dan Bara melihat cahaya mata di dalam semak-semak menuju pendesaan. Bara dan Aulia segera mengejar yang berada di dalam semak-semak tersebut.
"Siapa mereka?" Tanya Bara.
"Siluman harimau mereka murid Bagaskara. Yang ingin memata-matai kita," ucap Aulia.
"Apa lagi yang mereka inginkan? Apa mereka tidak kapok berurusan terus dengan kita," hardik Bara.
"Sebelum mereka mendapatkan kitab ini, maka mereka tidak akan pernah berhenti mengganggu kita, dan juga warga desa!" ujar Aulia.
Bara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ayo ikut aku," ujar Aulia. Bara pun mengikuti ajakan Aulia untuk mengikuti murid Bagaskara menuju hutan. Mereka segera mengubah wujudnya, sampainya di hutan itu, ternyata Aidan dan Gavar sudah menunggu kedatangan mereka.
"Akhirnya kalian berdua terpancing juga untuk hadir kemari." Aidan berjalan mengelilingi Aulia dan Bara yang masih berwujud harimau itu.
Aulia dan Bara pun segera mengubah wujud mereka menjadi manusia.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Aulia.
"Saya tidak perlu menjelaskannya, kau pasti tahu apa yang kami inginkan," hardik Aidan.
"Apapun itu, saya tidak akan memberikannya kepada siluman seperti kalian ini!" ucap Aulia.
"Jika kau tidak memberikannya, akan saya pastikan kalian berdua akan mati! Di tempat ini!" ujar Aidan.
"Beraninya kau bicara seperti itu kepada kami, sudah pasti kalian dulu yang akan mati di tempat ini!" ucap Bara menatap Aidan.
Aidan tertawa cekikikan mendengar ucapan Bara bawah merekalah yang akan mati lebih dulu di tempat itu.
"Bagaimana dengan ini? Apa kalian berani menghadapinya." Aidan menutup matanya sejenak tidak lama dia membuka matanya kembali dia mengeluarkan pedang pusaka permata putih dari dalam tubuhnya, sama seperti Aulia, Menyimpan kitab itu di dalam tubuhnya mereka berdua memiliki kesamaan hanya saja berbeda bangsa.
"Dari mana kau mendapatkan pedang itu, itu adalah milikku!" ucap Aulia begitu terkejut melihat pedang tersebut berada di tangan Aidan.
"Berteriaklah sekuat tenagamu, teman hewan kau itu tidak akan datang. Karena dia sudah mati, sekarang pedang ini sudah menjadi milikku!" ujar Aidan.
"Tidak Langit tidak akan mati. Dia Elang yang kuat," ucap Aulia.
"Siapa bilang, buktinya pedang ini, sudah jatuh ke tanganku." Aidan menghayunkan pedang tersebut.
"Aidan jangan sampai kau mengunakan pedang itu disini, bukan hanya kami yang akan mati, kau dan teman-temanmu juga akan ikut mati!" Ujar Bara dia begitu khawatir melihat Aidan menggunakan pedang tersebut.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan pedang itu?" tanya Aulia.
FLASHBACK
__ADS_1
"Kau bisa mengubah wajah Aulia, lebih baik dengan wajah itu, kita bisa mengambil pedang tersebut dari Elang itu!" ujar Gavar.
"Kau benar, tapi bagaimana caranya? saya tidak tahu siapa nama hewan itu," ucap Aidan.
"Aku pernah mendengar, kalau Aulia sering memanggilnya dengan sebutan Langit kepada Elang tersebut," jawab Gavar memberitahu kepada Aidan bahwa nama Elang itu adalah Langit.
Aidan tersenyum licik, dia segera mengubah wujuhnya menjadi Aulia. Dengan cepat mereka berdua pergi ke hutan disana meraka mencoba memanggil Elang tersebut. Benar saja elang itu langsung datang menemui Aidan yang berwajah Aulia, Gavar bersembunyi dibalik pohon agar Elang tersebut tidak curiga bahwa mereka adalah siluman harimau kuning.
Setelah Elang itu berada di tangan Aidan dia langsung mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya untuk menarik pedang tersebut dari dalam tubuh sang Elang. Elang itu berteriak kesakitan, Elang itu tidak mengetahui bahwa yang berwajah Aulia adalah Aidan. Dia tidak melawan bahkan dia tidak mengeluarkan ilmunya dia menahan kesakitan karena pedang tersebut di tarik paksa darinya.
Setelah pedang itu dimiliki oleh Aidan tiba-tiba saja dia terjatuh dan tidak sadarkan diri karena kekuatan pedang membuat dirinya tidak berdaya, Gavar yang melihat Aidan tidak sadar, dia langsung menghampirinya dan membawanya pergi dari sana.
"kurang ajar kau, kembalikan pedang itu!" Aulia begitu marah kepada Aidan.
Dengan cepat Bara melarang Aulia untuk mendekati Aidan karena dia khawatir Aidan akan menggunakan pedang itu, untuk menghabisi Aulia.
"Sudahlah Aulia, kau jangan terpancing emosi dia hanya ingin memancing kau saja, aku takut dia akan menggunakan pedang itu," ujar Bara.
"Ternyata pedang ini sangat luar biasa, manusia harimau putih, seperti kalian bisa begitu takutnya dengan benda ini!" hardik Aidan tersenyum kemenangan.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1