
Setelah orang kota itu pergi dari desa, Aulia, dan Bara, kembali ke bukit malam itu mereka, tidak kembali ke rumah.
Dua harimau putih itu membaringkan tubuhnya di atas batu besar tersebut Aulia, menatap langit yang masih di penuhi oleh bintang-bintang sedangkan Bara, sudah tertidur lelap.
"Gue mencintai Lo Aulia," kata-kata itu yang terus bersarang di di telinga Aulia.
"Kenapa Kaila bisa bicara seperti itu ya? sejak kapan dia menyukaiku?" batin Aulia terus bertanya-tanya tentang ucapan Kaila.
Matahari sudah keluar dari ufuk timur bahkan Aulia, tidak memejamkan matanya dia hanya duduk di atas batu itu.
"Aulia apa kau tidak tidur dari semalam?" tanya Bara," oh-iya Aulia apa kau yakin dan percaya dengan ucapan Kaila semalam bahwa dia tidak akan memberitahu siapa pun, tentang kita kepada orang lain?" tanya Bara.
"Sepertinya tidak," jawab Aulia singkat.
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Bara.
"Aku tidak tahu, sudahlah ayuk kita pergi dari sini," ajak Aulia.
Aulia dan Bara pergi dari bukit itu. Menuju desa, warga-warga desa sudah beraktivitas pagi itu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Beberapa warga sedang berbicara mengenai ke pergian orang kota itu, yang pergi di tengah malam.
"Bara, Aulia," panggil seorang warga.
"Iya Paman ada apa," sahut Aulia.
"Apa kalian berdua tidak tahu? kalau orang kota itu, sudah meninggalkan desa semalam?" tanya warga tersebut.
"Kita berdua tahu kok Paman bahwa mereka sudah pergi, sebab semalam kita bersama dengan mereka," jawab Aulia tersenyum.
"Syukurlah kalau kalian bersama dengan mereka, sewaktu mereka pergi," ujar warga itu.
"Memangnya ada apa Paman?" tanya Aulia.
"Karena semalam ada orang mendengar suara teriakkan seorang wanita, di jalan ujung desa." Warga itu memberitahu bahwa ada suara teriakkan setelah mereka kembali ke bukit.
"Suara teriakkan!" jawab Aulia dan Bara, serempak.
Setelah mendengar cerita warga itu, Aulia, dan Bara, pun segera pergi ke tempat kejadian tersebut. Sampainya di tempat itu, Aulia dan Bara tidak melihat apapun hanya ada pohon-pohon besar dan daun-daun kering yang berserakan dan juga di kelilingi oleh pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi.
"Tidak ada apapun di sini," ucap Bara.
Tapi Aulia, tidak mendengarnya dia terus melihat jalan tersebut Aulia, berjalan mendekati pohon bambu yang menjulang tinggi itu, di sana dia mencum sesuatu seperti bau amis yang sangat menyengat penciumannya.
"Semalam siluman ular melintasi jalan ini!" ucap Aulia.
__ADS_1
"Apa!" Bara terkejut.
"Iya ular itu muncul di tempat ini," jawab Aulia.
Bara, mengerutkan keningnya," Tapi kenapa siluman itu, tiba-tiba muncul di tempat ini?"
"Entahlah Bara, aku sendiri pun belum tahu apa tujuannya," jawab Aulia.
"Apa jangan-jangan! Kaila dan Naura." Ucapan Bara terhenti.
"Kau jangan menakutiku Bara, jelas-jelas kita berdua melihat mereka selamat melintasi jalan ini," ujar Aulia.
"Lalu kalau mereka selamat, suara siapa yang berteriak itu?" tanya Bara.
Aulia menggelengkan kepalanya bahwa dia juga tidak mengetahui suara tersebut.
ISTANA RATU SANCA
Ratu sanca memerintahkan kepada Ghani, untuk mencarikan dia seorang anak laki-laki yang berusia 17 tahun, karena dia ingin menjadikan anak tersebut sebagai putranya yang sudah mati dan dia juga akan memberikan permata ular hitam kepada anak tersebut.
"Kenapa Ratu ingin memberikan permata itu kepada orang lain?" tanya Ghani.
"Saya ingin menghidupkan kembali permata ini melalui tubuh orang lain, agar dia bisa menjadi pesuruhku! dan menggantikan putraku, yang telah di habisi oleh manusia harimau itu!" ujar sang Ratu.
Ratu sanca tersenyum mendengar jawaban dari Ghani, dia pun segera pergi dari hadapan sang Ratu, dia melesat dengan cepat menelusuri hutan.
"Aku akan menguasai desa itu lagi, sebagai mana mestinya desa itu adalah milikku dahulu dan putraku juga di habisi di desa itu!" gumam sang Ratu.
"Bagaimana? apa kalian menemukan sesuatu?" tanya seorang warga paruh baya itu.
"Tidak Paman kami tidak menemukan siapapun di sana, kami juga sempat bertanya kepada warga setempat, mereka juga tidak mendengar suara teriakkan itu," jawab Aulia.
Bara menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Aulia.
"Apa jangan-jangan orang itu berbohong?" tanya orang tua itu.
Aulia, dan Bara, hanya diama saja mendengar ucapan orang tua tersebut.
"Baiklah Paman kalau gitu kita pergi dulu," ucap Aulia.
Orang tua itu, menganggukkan kepalanya. Aulia dan Bara, kembali ke rumah mereka masing-masing. Sampainya di rumah, Bara melihat Ayahnya sedang duduk di halaman rumahnya.
"Bara kau dari mana saja? semalam kenapa kau tidak pulang ke rumah?" tanya sang Ayah.
"Maaf Ayah, semalam Bara di rumah Aulia, kita berdua menemani orang kota itu pergi dari desa ini," jawab Bara.
__ADS_1
"Jadi orang-orang kota itu, sudah kembali ke kota mereka?" tanya sang Ayah.
Bara menganggukkan kepalanya.
"Baguslah kalau mereka sudah kembali ke kotanya, agar tidak terjadi sesuatu kepada mereka," ucap sang Ayah.
WILAYAH BAGASKARA
Di sana para murid berlatih dengan keras begitu juga dengan Aidan, dan Gavar, untuk menyerang desa indah, Bagaskara menatap para muridnya sambil tersenyum dia begitu yakin bahwa murid-muridnya akan mengalahkan, harimau putih.
"Kalian semua harus berhasil menghancurkan desa itu, kalau perlu kalian habisi murid dari Raja Agra, itu!" ucap Bagaskara kepada murid-muridnya.
"Baik Tuan Guru." Jawab mereka serempak.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat cucu dan murid-murid kau hancur Raja Agra!" batin Bagaskara sambil senyum menyeringai.
DI HUTAN TERLARANG
Raja Agra, dan para muridnya sedang berkumpul di dalam sebuah pondok bambu. Mereka sedang membicarakan tentang bagaimana untuk melawan bangsa harimau kuning yang akan turun ke desa indah.
"Guru, beritahu kami apa yang harus kami lakukan, untuk menghadapi mereka?" tanya seorang murid.
"Kita cukup berdoa, saja dan pelatih dengan giat. Semuanya kita serahkan kepada Allah," jawab Raja Agra, menyemangati para muridnya,
Para murid pun menganggukkan kepala mereka serempak.
Hari, dan sang kakak, pun datang menghampiri Raja Agra, di dalam pondok tersebut.
"Kakek apakah temanku Aulia, juga ada di sana?" tanya Hari, anak laki-laki itu.
"Benar cucuku, Aulia juga berada di sana," jawab Raja Agra, sambil tersenyum.
"Kalau begitu bolehkah aku, keluar dari hutan ini? aku ingin menemuinya di sana," ucap Hari.
Raja Agra, tersenyum mendengar permintaan Hari, yang ingin keluar dari hutan tersebut, dia menyuruh anak Laki-laki itu, untuk duduk di sampingnya. Anak itu pun duduk.
"Kau harus mendengarkan apa yang kakek katakan, kita semua tidak bisa keluar dari hutan ini, itu akan membahayakan kamu dan kita semua," ujar Raja Agra, dengan penuh kelembutan.
"Tapi kakek, kenapa Aulia, dan yang lainnya bisa keluar dari hutan ini sesuka mereka?" tanya Hari.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1