
''Aulia kenapa? dengan tangan mu?'' tanya seorang warga yang berdiri tidak jauh darinya.
Aulia memegang tangannya,''Ini jatuh kemarin Pak pas buat atap pondok di kebun bocor,'' sahut Aulia berbohong.
''Hmmm, Kirain kenapa,'' ujar warga itu.
''Coba lihat,'' ucap Bara sambil memegang tangan Aulia. Membuat Aulia sedikit teriak karena kesakitan.
''Sakit tahu gak,'' ujar Aulia.
Bara tersenyum melihat sahabatnya itu kesakitan.
''Ketawa aja terus nanti kalau kamu yang seperti ini. Aku ketawai balik,'' ujar Aulia.
''Anak muda kok cengeng,'' sahut Bara tersenyum.
''Bukan masalah anak mudanya, ini benar-benar sangat sakit tahu gak,'' sahut Aulia sambil mengusap-usap lengannya.
''Ya udah maaf,'' ujar Bara.
''Aku mau pulang dahulu,'' ujar Aulia sambil turun dari pondok itu.
Bara menganggukkan kepalanya.
Sampainya di rumah, Aulia tidak melihat neneknya.
''Nenek kemana? biasanya jam segini dia udah ada di rumah,'' batin Aulia dia berjalan menuju kamar sang nenek membuka pintu tapi tidak ada siapa-siapa di kamarnya Aulia menjadi khawatir neneknya tidak pernah seperti itu sebelumnya.
Aulia pun keluar dari rumah mencari sang nenek ke rumah warga mungkin saja dia ada disana.
''Bu, apa ibu melihat nenek saya?'' tanya Aulia.
''Iya tadi nenek kamu bilang dia mau ke makam Pak Rahman,'' sahut Ibu-ibu itu.
''Terima kasih Bu kalau seperti itu saya pergi dahulu,'' ucap Aulia.
Aulia pun pergi ke makam Pak Rahman disana dia melihat sang nenek sedang membaca doa. Dia berjalan mendekati sang nenek di makam tersebut.
''Aulia kamu disini?'' tanya Bu Lilis setelah selesai berdoa.
''Iya nek, mengapa? nenek gak ajak Aulia pergi?'' tanya Aulia.
''Tidak nenek hanya ingin pergi sendiri saja,'' sahut Bu Lilis tersenyum.
1 jam berlalu Bu Lilis dan Aulia pulang ke rumah.
''Apa? tangan kamu sudah sebuah?'' tanya Bu Lilis.
__ADS_1
''Udah nek tangan ku udah sembuh,'' sahut Aulia.
......................................
Malam harinya. Raja Agra datang, saat itu Aulia sedang melaksanakan Salat Isya Raja Agra duduk disampingnya menunggu Aulia selesai salat. Setelah selesai salat Aulia duduk di depan Raja Agra.
''Ada apa? kakek datang kemari? kenapa? kakek gak suruh Aulia yang datang ke sana, tidak perlu kakek yang datang kesini,'' ujar Aulia sambil mencium punggung tangan sang kakek.
''Kakek kesini ingin membicarakan tentang kitab itu apa kamu sudah mempelajari semua nya?'' tanya sang kakek menatap Aulia tajam.
''Belum Kek,'' sahut Aulia menundukkan kepalanya.
''Kamu harus mempelajari kitab itu secepatnya mungkin sebelum para siluman mengambilnya karena siluman ular sudah bersekutu dengan Bagaskara,'' ujar sang kakek.
''Bagaskara, siapa dia kek?'' tanya Aulia.
''Dia adalah musuh, keturunan harimau putih dia adalah guru dari harimau kuning yang selalu menyerang desa ini,'' ujar sang kakek.
Aulia mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka bahwa. Harimau yang sering menyerangnya adalah murid dari Bagaskara.
''Jika mereka mendapatkan kitab itu mereka akan menguasai desa ini dan juga hutan-hutan terlarang dan hutan-hutan lainnya maka manusia tidak bisa pergi kemana-mana,'' ujar sang kakek.
''Baik kek aku akan mempelajari kitab itu secepatnya,'' sahut Aulia.
''Baiklah kakek pergi dahulu,'' ujar sang kakek meghilang.
''Apakah seburuk itu jika aku tidak mempelajari kitab ini aku tidak ingin terlalu jauh menjadi siluman. Tapi jika ini menyangkut tentang warga desa, aku tidak bisa melawan takdir ku. Ini adalah takdir ku aku akan melawannya sendiri,'' batin Aulia. Dia mengucapkan bismillah agar kitab itu terlihat olehnya, Aulia mengeluarkan kitab itu. Dia berjalan ke arah pintu dan menguncinya agar tidak ada orang yang melihatnya.
Aulia duduk bersila di lantai kamar membuka kitab itu tidak lupa membaca bismillah dia menutup matanya mempelajari kitab itu dan mulai menyerap kekuatan dari dalam kitab tersebut. Sangking kuatnya ilmu itu membuat mulut Aulia mengeluarkan darah tapi Aulia tidak pernah menyerah dia terus menyerap ilmu itu.
...........................
Hingga subuh tiba Aulia masih duduk di depan kitab itu dia terus menyerap ilmu itu wajahnya semakin pucat. Diluar sana terdengar ayam berkokok lantang membuat konsentrasinya buyar dia pun membuka matanya perlahan.
Aulia langsung menghapus darah kental yang mengalir dari mulutnya dia kembali menyimpan kitab tersebut ditempat semula.
''Hari sudah subuh sebaiknya aku salat sekarang,'' batin Aulia. Dia berjalan keluar kamarnya menuju sumur yang ada di luar rumah.
Saat Aulia mengambil air wudhu tiba-tiba sebuah bayang hitam melewatinya dengan cepat.
''Siapa disana!'' ucap Aulia dengan suara keras, Aulia mengejar sampai ke belakang rumahnya tapi, setibanya disana tidak ada siapa-siapa.
''Siapa? bayangan hitam itu?'' batin Aulia bertanya-tanya. Karena tidak ada siapa-siapa Aulia membalikkan badannya tiba-tiba makhluk itu sudah berdiri di depannya tapi Aulia tidak merasa takut dia menatap makhluk itu dengan tajam ke arah matanya bayangan hitam itu langsung menembus tubuh Aulia dia tahu bahwa bayangan hitam itu merasuki tubuhnya mata Aulia menjadi memerah dengan kilau yang menakutkan.
Aulia mencoba membaca ayat kursi dan ayat Qur'an lainnya agar bayangan itu keluar dari tubuhnya.
''Allahu Akbar,'' ucap Aulia.
__ADS_1
Bayangan hitam itu seketika hilang dari tubuhnya Aulia merasa tubuhnya lemah dia kembali berjalan sempoyongan menuju sumur untuk kembali berwudhu.
Selesai salat subuh Aulia selalu menyepatkan diri untuk berzikir agar hatinya kembali tenang, matahari sudah menyinari pagi itu, Aulia masih duduk di atas sajadahnya, diluar sana terdengar ketukan pintu Aulia pun membuka matanya.
''Aulia ayo sarapan dahulu,'' ujar Bu Lilis berdiri di balik pintu kamar Aulia.
''Iya nek sebentar,'' sahutnya.
Aulia segera keluar dari kamarnya menuju meja makan di sana sudah tersaji makanan buatan sang nenek yang terlihat begitu lezat. Aulia memakan sarapannya dengan lahap hingga habis karena dia sangat menyukai masakan neneknya.
''Nenek duluan ya,'' ujar Bu Lilis.
''Iya nek,'' sahut Aulia.
Aulia keluar dari rumahnya sambil mengunci pintu.
''Aulia, kamu mau kemana?'' tanya Bara.
''Biasa pagi hari harus kekebun membantu nenek,'' sahut Aulia sambil tersenyum.
''Kamu kenapa? sepertinya ada yang mau kamu bicarakan?'' tanya Bara sangat mengerti dengan raut wajah sahabatnya itu.
''Iya, memang ada yang ingin aku ceritakan sama kamu tapi tidak disini Takutnya ada yang mendengar,'' ujar Aulia.
Sampainya di perkebunan Aulia dan Bara duduk di pondok sebuah, Aulia melihat sang nenek agar tidak melihat ke arahnya.
''Kamu mau cerita apa?'' tanya Bara.
''Tadi pagi aku melihat sosok bayangan hitam,'' ujar Aulia.
Deg...
''Bayangan hitam seperti apa dia?'' tanya Bara semakin penasaran dengan sosok hitam itu.
Aulia hanya menggelengkan kepalanya dia pun belum tahu sosok bayangan hitam itu dia hanya melihat bayangan saja.
.
.
.
.
...BERSAMBUNG... JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT TIPS NYA.. HANYA CERITA FIKSI....
ayo dukung terus agar cerita nya di lanjutkan
__ADS_1