
''Bos kita ini terlalu gila,'' upat Kenzo sambil menggeser-geserkan ponselnya.
''Emang ada apa lagi dengan bos kita itu, apa dia menyuruh kita mencari sesuatu yang aneh-aneh lagi?'' tanya Sadam.
Naura dan Kaila mendekati teman laki-lakinya itu.
''Kalian lihat deh, permintaan dari bos, dimana kita mencarinya coba, kita juga harus pulang besok gak mungkin kita mencarinya sekarang,'' ucap Kenzo.
''Sepertinya tumbuhan ini, tidak ada di penggunungan ini, kecuali di hutan mungkin ada,'' sahut Naura.
''Coba deh lo telepon si bos, bilang sama dia kalau tanaman itu tidak ada,'' ujar Kaila.
Kenzo menganggukkan kepalanya. Dia pun segera menghubungi bos mereka.
''Halo bos, tanaman yang seperti ini, tidak ada ada di desa ini bos, kami juga harus pulang besokkan,'' ucap Kenzo kepada bosnya.
''Bokonya kalian berempat harus mencari tanaman itu, tanaman itu sangat penting untuk kita. Sebelum kelian mendapatkannya jangan harap kalian bisa pulang dan juga gaji kalian saya potong,'' ucap bos mereka dan mematikan ponselnya.
''Bos kita benar-benar sudah gila! padahal besok kita sudah harus pulang ke kota. Tapi dia masih saja menyuruh kita mencari tanaman inilah itulah, gue jadi pusing mikirinnya!'' ucap Kenzo meremas rambutnya.
''Kalau seperti itu kita cari sekarang aja, dari pada gaji kita di potong,'' ujar Sadam.
''Lo udah gila apa, lo sama si bos sama saja gilanya. Lo gak lihat hari sudah mau sore!'' Marah Kaila.
''Justru itu karena masih siang, ayo kita cari di penggunungan itu saja pasti ada kok,'' ujar Sadam yang terus mengajak teman-temannya.
''Kita jangan pergi, biarin aja gaji kita di potong sama si bos, dari pada kita kenapa-napa nanti,'' sahut Naura.
''Gue gak mau gaji kita di Potong sama si bos, kita ini udah capek-capek pergi ke desa ini sudah hampir dua bulan, sekarang dia malah mau potong gaji kita,'' ujar Sadam.
Sadam pun pergi meninggalkan teman-temannya di ruang tamu Sadam mengemaskan barangnya yang akan di bawanya ke penggunungan tersebut senter dan yang lain-lainnya.
''Sadam lo mau kemana?'' tanya Kaila.
__ADS_1
''Kan gue udah bilang gue mau pergi ke penggunungan itu gue gak mau kalau gaji gue di potong,'' sahutnya sambil terus berjalan.
''Gue ikut sama lo,'' ucap Kaila.
Akhirnya mereka berempat pun pergi ke penggunungan tersebut untuk mencari satu tanaman lagi yang di perintahkan oleh bos mereka.
Salah satu warga melihat mereka pergi dan warga itupun mengadukan kejadian tersebut kepada Aulia yang tengah duduk di halaman rumahnya bersama dengan Bara.
''Aulia,'' panggil warga itu.
''Iya pak ada apa?'' tanya Aulia sambil berdiri.
''Itu Aulia, anak-anak kota itu pergi ke penggunungan apa mereka tidak memberitahu kamu?'' tanya warga.
''Mereka benar-benar keras kepala,'' batin Aulia.
''Sebaiknya kamu ikuti mereka takutnya nanti terjadi sesuatu sama mereka,'' ucap Warga itu dia pun segera pergi.
''Ayo Bara kita pergi mencari mereka, meraka akan berbuat ulah lagi jika kita mencari mereka!'' ujar Aulia.
''Pergi kemana mereka Aulia?'' tanya Bara.
''Aku juga tidak tahu kemana mereka pergi,'' sahut Aulia sambil terus berjalan.
''Lihat itu langit. Pasti dia tahu sesuatu ayo kita ikuti dia,'' ucap Aulia.
Aulia dan Bara mengikuti elang tersebut untuk mengetahui dimana keberadaan orang kota itu. Setelah mereka menemukan anak kota itu, elang tersebut hinggap berdiri di lengan Aulia.
''Aulia, Bara kalian tahu dari mana kami ada di sini?'' tanya Kenzo.
''Berapa kali kami dan warga kami melarang, kalian untuk tidak pergi malam-malam seperti ini, kalau kalian mau mati jangan menyusahkan kami!'' ujar Aulia dia benar-benar marah kepada anak kota tersebut.
Naura dan yang lainnya hanya bisa melihat Aulia marah karena mereka tidak pernah melihat Aulia marah seperti itu.
__ADS_1
''Kasar sekali ucapan mu Aulia,'' sahut Kaila.
''Perkataan yang seperti ini yang kalian mau, kami sudah mengingatkan kalian untuk jangan pergi, dan kalian juga tidak memberitahu kami,'' ujar Aulia.
''Kalau kami kasih tahu lo, lo akan melarang kami untuk pergi,'' ucap Sadam.
''Tentu saja kami akan melarang kalian karena ini sangat berbahya untuk kalian. karena kalian juga akan memasuki hutan!'' sahut Aulia.
Bara hanya bisa diam sambil menepuk-nepuk punggung Aulia agar dia berhenti marah.
''Aulia kamu jangan marah seperti ini, kita harus tenang menghadapi mereka,'' ucap Bara berbisik.
''Apanya yang berbahaya sih, hutan ini biasa saja seperti hutan-hutan tropis lainnya yang membuat bahaya itu kalian, yang begitu percaya kepada mitos yang belum tentu adanya!'' ucap Sadam.
''Naura dan yang lainnya sebaiknya pulang, besok kalian boleh kesini lagi saya dan Bara yang akan menemani kalian,'' ujar Aulia dengan lembut.
''Kami tidak bisa pulang sebelum kami menemukan tanaman itu!, karena besok kami harus kembali ke kota,'' ucap Sadam.
''Iya Aulia kami tidak bisa pulang, kalau kami belum menemukan tanaman itu,'' Kalia menyahut.
''Saya mohon pulanglah ke desa sebelum terjadi sesuatu kepada kalian,'' ucap Aulia sampai-sampai dia bermohon kepada anak kota itu agar anak kota itu mengerti kalau hutan tersebut sangat berbahya untuk mereka.
Bara sangat terkejut mendengar Aulia permohon kepada anak kota tersebut karena dia tidak pernah seperti itu.
''Chi!... Gue tahu lo bermohon seperti itu kepada kami, karena lo menyukai Naura kan dara manusia aneh!'' ucap Sadam.
Aulia menatap Sadam dengan tanjam rasanya dia begitu ingin menghabisi Sadam saat itu juga, tapi Bara segera menenangkan Aulia agar tidak terjadi yang tidak di inginkan.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG...