
Ustadz Karim masih setia menunggu jawaban dari Pak Sury tentang Bara.
"Berapa bulan yang lalu, saat Aulia, dan Bara, kembali dari hutan itu, sikapnya sedikit berubah kepada saya dan almarhum istri saya," ucap Pak Sury.
"Maksud bapak berubah bagaimana? apa Bara sering marah atau menyakiti bapak sama almarhum istri bapak?" tanya Ustadz Karim.
"Tidak Bara, tidak pernah menyakiti kami maupun marah kepada kami, hanya saja dia sering melamun dan menundukkan kepala tatapannya juga kosong, tapi setelah beberapa setelah itu sikapnya kembali seperti biasa, seperti Bara yang kami kenal," ujar Pak Sury.
Ustadz Karim hanya menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa Ustadz?" tanya Pak Sury.
"Enggak, saya hanya ingin bertanya saja cuma itu," jawab ustadz Karim tersenyum, "kalau seperti itu, saya pulang dahulu, assalamualaikum," ucap ustadz Karim.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Sury.
Ustadz Karim pergi meninggalkan rumah Pak Sury.
"Sepertinya ustadz Karim mengetahui sesuatu, tapi apa," gumam Pak Sury, dia pun segera masuk kedalam rumah.
Pak Sury masuk kedalam kamarnya dia segera berbaring di tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamar itu, dia masih memikirkan ke mana anaknya itu pergi.
"Bara, kau pergi ke mana? Kenapa setiap kamu pergi tidak pernah memberi tahu Ayah lebih dulu," gumam Pak Sury.
Pagi hari itu, Pak Sury masuk ke dalam kamar Bara. Dia berharap Bara sudah pulang dan tidur di kamarnya. Tetapi harapan itu tidak ada sama sekali Bara tidak pulang dari semalam.
"Sepertinya desa kita kembali tidak aman," ucap dua orang tetangga Pak Sury, yang sedang ngobrol di depan rumah mereka. Pak Sury hanya mendengarkan saja obrolan tetangganya itu.
"Tidak aman bagaimana Pak? Kan satu bulan ini desa kita cukup aman," ucap salah satu tetangga itu.
"Kita semua berharap begitu pak, desa kita ini tetap aman. Tapi tadi malam saya sempat mendengar ada seseorang berlari di belakang rumah saya, sepertinya mereka pergi menuju pegunungan yang tidak jauh dari desa ini," ucap tetangga itu.
__ADS_1
"Yang bener pak?" tanya tetangga yang berada di sampingnya.
Tetangga itu hanya menganggukkan kepalanya.
DI RUMAH PAK KADES
Bayu menceritakan semua kejadian dimana dia tidak sengaja membunuh seekor harimau putih. Pak kades dan istrinya sangat terkejut mendengar pernyataan Bayu yang telah menghabisi seekor harimau putih di hutan.
"Apa!... Kalian menghabisi seekor harimau?" tanya Pak kades masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Benar pak, tapi saya benar-benar tidak sadar saya tidak sengaja. Sebab saat itu, harimau tersebut melompat ke arah kami," ujar Bayu.
"Bukannya itu bagus Pak kades. Setidaknya harimau itu tidak mengganggu desa ini lagi," ucap salah satu anak buah Bayu.
Pak kades Budin, tampak marah kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan.
"Setelah apa yang kalian lakukan, desa ini tidak akan aman lagi, warga kami sudah lelah menghadapi para harimau jadi-jadian itu. Dan sekarang kalian malah membuat masalah baru lagi. Bagi warga kami!" Bentak pak kades.
"Pak, sebaiknya suruh saja mereka pergi dari desa kita ini. Gara-gara mereka! Harimau itu pasti akan kembali dan membalas dendam kepada warga kita!" Ujar istri Pak kades.
DI HUTAN TERLARANG
Sampainya di gerbang gaib hutan terlarang Aulia mengubah wujudnya menjadi manusia dia kembali menggendong Bara, Aulia semakin khawatir dengan kondisi sahabatnya itu detak jantungnya kembali tidak normal, Aulia segera berlari memasuki gerbang gaib menuju desa terlarang tersebut. Disana dia melihat para harimau putih berkumpul semua, Aulia masih belum mengerti apa yang terjadi disana. Salah satu manusia harimau mendekati Aulia dia tahu bahwa Bara sedang sekarat.
"Silahkan Anda bawa dia kedalam temui guru disana," ucapnya.
Aulia menganggukkan kepalanya dia pun segera pergi meninggalkan kerumunan orang-orang itu.
"Kakek!" Pekik Aulia memanggil Kakeknya Raja Agra. Aulia pun segera membaringkan tubuh Bara di atas anyaman bambu yang seperti tempat tidur itu.
Raja Agra segera mengobati Bara dengan ilmu tenaga dalamnya, Aulia kembali keluar tempat tersebut dia mencari keberadaan Gantala di desa terlarang.
__ADS_1
Disana dia melihat Gantala sedang menangis Aulia juga melihat teman sebangsanya terbaring tidak bernyawa Aulia segera mendekati Gantala.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Aulia menatap wajah saudara sebangsanya itu.
"Orang kota itu sudah menghabisi nyawa saudaraku dia adalah adikku." Air mata Gantala terus mengalir menatap wajah adiknya yang terbaring kaku.
Berapa jam kemudian pemakaman sudah siapa di laksanakan satu persatu warga desa terlarang meninggalkan pemakaman tersebut Aulia dan Gantala masih berada di pemakaman.
"Saya juga pernah merasakan kehilangan orang-orang yang saya cintai bahkan saya sendiri tidak sanggup menatap wajah mereka. Tetapi bagaimana pun juga saya harus mengikhlaskan kepergian mereka," ucap Aulia, dia berharap dia bisa menguatkan Gantala atas kepergian adiknya itu.
"Tapi ini benar-benar, menyakitkan hati saya, saya melihat tiga peluru bersarang di tubuhnya, bagaimana pun saya akan membalas berbuatan orang kota itu!" Gantala menatap kuburan adiknya.
"Saya tidak akan melarang kau untuk membalaskan dendammu, karena saya juga pernah membalaskan dendam kepada siluman yang telah menghabisi nenek dan kakek saya," ucap Aulia, "tetapi perbedaannya adalah kau dendam kepada manusia biasa, bukan kepada siluman, bangsa kita melarang menyakiti manusia, jika kau menghabisi manusia maka bangsa kita tidak ada bedanya dengan bangsa harimau kuning." Aulia pun bangkit dari tempat duduknya dia berjalan meninggalkan Gantala di makam itu.
"Aulia, bagaimana keadaan Bara sekarang?" tanya Gantala tanpa menoleh ke arah Aulia.
Aulia menghentikan langkah kakinya dia membalikkan badannya menoleh ke arah Gantala.
"Seperti biasa, saat kau keluar dari tubuhnya dia merasakan sakit yang luar biasa bahkan dia bisa kehilangan nyawanya, jika kau ingin menemuinya pergilah ke tempat kakek," ucap Aulia.
Aulia sangat mengerti dengan keadaan Gantala, maka dari itu dia tidak memaksakan Gantala untuk kembali ke dalam tubuh Bara. Meskipun dia tahu bahwa Bara sangat membutuhkan Gantala, Aulia pun kembali berjalan pergi meninggalkan Gantala.
"Kakek, bagaimana keadaan Bara? apa dia masih bisa bertahan selagi Gantala belum kembali," ucap Aulia dia melihat sahabatnya itu tidak bergerak lagi. Dia merasa takut kehilangan Bara.
"Insya allah dia akan bertahan," jawab Raja Agra menyakinkan Aulia.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung