Harimau Aulia

Harimau Aulia
Ancaman


__ADS_3

Di rumah kepala desa, disana orang kota itu sudah berkumpul orang tersebut menanyakan tentang desa ini.


"Pak, ceritakan kepada kami tentang desa ini. Sebab tadi malam salah satu anak buah saya, mendengar suara harimau," ucap Bayu menatap lurus kepada Pak kades.


"Ahh!.. Itukan biasa Pak, di desa seperti ini memang banyak binatang buasnya. Ya salah satunya harimau itu pak," jawab Pak kades.


"Jujur saja Pak, kepada mereka kalau di desa kita ini memang ada silumannya," sahut istri Pak kades sambil membawa napan minuman.


"Siluman? Siluman apa pak?" tanya anak buah Bayu dia merasa terkejut.


"Gak ada kok pak, istri saya memang suka bercanda dan ngomong aneh-aneh," ujar Pak kades," ibu jangan menakuti mereka buk." Pak kades menatap istrinya.


"Saya tidak peduli tentang desa ini mau siluman apapun itu saya tidak peduli, yang saya mau adalah tanah itu. Saya tidak ingin berlama-lama di tempat ini, hari ini juga bapak harus membawah saya ke tempat itu agar Saya bisa melihat seluas apa tanah peninggalan kakek Aulia itu!" ujar Bayu


Saat ini Aulia berada di kebunnya disana dia sedang bersantai di dalam pondok kebun itu. Matanya tertuju ke arah hutan.


"Sudah lama sekali aku tidak pergi menemui kakek disana, begitu juga yang lainnya. Aku juga sangat merindukan teman kecilku itu, Hari," Gumam Aulia.


"Nak Bayu, inilah tanah itu," ucap Pak kades. Mereka sudah berada di tempat tersebut.


Bayu melihat tanah itu cukup luas dan bisa mendirikan beberapa tempat penginapan disana.


"Bos, tempat ini cukup indah Bos, apalagi kalau Bos akan mendirikan penginapan disini dan juga ada berapa kaffe, pasti akan viral," Ucap salah satu anak buah Bayu.


"Tidak! akan ada penginapan di tempat ini!" Aulia menyahut dari belakang.


"Aulia!, Bagus kau ada disini, saya akan mengubah desa kuno! ini menjadi tempat yang bagus. Apa kau tidak ingin perubahan disini." Bayu berjalan mendekati Aulia, kini mereka saling bertatapan.

__ADS_1


"Tidak!" Jawaban yang singkat.


Pak Budin mendekati Aulia dan Bayu," Aulia, kau harus memikirkannya lagi tentang semua ini, ini demi kebaikan desa kita!" Ujar Pak kades.


"Kebaikan apa yang bapak katakan! Kebaikan untuk Anda." Aulia menatap pak kades tajam.


Membuat pak kades menelan ludahnya dia merasa takut manatap Aulia seperti itu.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu! Kau harus tahu tempat ini bukanlah milik mu dan pak Rahman juga bukan kakek mu, siapa kau ini? kau buka siapa-siapa di desa ini!" Bentak Pak kades.


"Hanya karena uang kau merampas milik orang lain, meskipun mereka bukan kakek dan nenek ku setidaknya mereka lah yang telah menjaga ku selama ini, dan sekarang aku akan menjaga milik mereka dari orang-orang seperti kalian!" Aulia semakin Marah.


"Aulia," panggil Bara dari kejauhan. Dia sangat khawatir Aulia akan marah besar hingga membuat orang tahu siapa dirinya, Bara berlari mendekati Aulia dan juga orang kota itu.


"Pak kades sebaiknya Anda kembalikan uang itu kepada mereka, biar secepatnya mereka pergi dari desa ini! Gara-gara berbuatan mereka desa kita ini bisa hancur!" Bara menuju mereka satu-persatu.


Bara berdiri di depan Bayu dengan menatapnya tajam," Jangan pernah membawa-bawa orang tua ku di tempat ini! Kau tidak tahu siapa kami, jika kau dan anak buah kau tidak pergi dari desa kami, maka saya pastikan satu-persatu kau dan anak buah kau akan mati!" Bara berbisik dan mengancam Bayu.


"Kau pikir saya takut dengan ancaman kekanakan kau itu!" Bayu mengeluarkan senjata api dari belakang pinggangnya. Ternyata Bayu sudah menyiapkan senjata api itu jauh-jauh hari sebelum mereka datang ke desa indah. Bayu menodongkan senjata tersebut di kelapa Bara.


Semua anak buah Bayu dan juga Pak kades begitu juga dengan Aulia. Mereka semua sangat terkejut melihat Bayu menodongkan senjata api itu di kepala Bara.


"Apa apaan ini! Kenapa kalian membawa senjata seperti itu di desa ini?" Tanya Pak kades bergidik ketakutan melihat semua itu.


"Jika kalian berani mengancam saya maka peluru ini akan menembus kepala bocah ini!" Ancam Bayu.


Anak buah Bayu tidak mengetahui bahwa Bayu membawa senjata api seperti itu. Mereka merasa takut sebab mereka tahu Bayu tidak akan main-main jika ingin bertindak.

__ADS_1


"Bos, lepaskan mereka Bos, takutnya nanti ada yang melihat kita," ucap salah satu anak buahnya.


Bayu pun tersenyum miring melihat Bara ketakutan dengan senjatanya, Bayu segera menyimpan senjata itu kembali.


"Kalau kalian seperti ini, maka saya akan kembalikan uang tersebut dan segeralah kalian pergi dari desa kami," ucap pak kades.


"Tidak! saya tidak akan pergi dari sini sebelum saya mendapatkan apa yang saya mau!"


Tiba-tiba sebuah panggilan telepon berdering nyaring di sakunya Bayu dia segera mengambil ponselnya.


"Iya sayang ada apa?" Tanya Bayu setelah mengangkat ponselnya.


Yang menelepon adalah istri Bayu yang tinggal di kota.


"Apa urusan kamu sudah selesai? Kapan kamu akan pulang?" tanya yang istri dari sebrang ponsel.


"Berapa hari lagi sayang aku akan pulang setelah semuanya selesai," jawab Bayu.


"Bagaimana kalau aku kesana? sebab aku juga sudah lama gak pergi ke desa itu, aku juga ingin ketemu sama kamu," ucap sang istri manja.


"Apa! Kamu mau pergi ke tempat ini, Naura sebaiknya jangan," ujar Bayu.


Mendengar nama Naura membuat Aulia menatap Bayu, nama itu tidaklah asing baginya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2