
Aulia yang masih berdiri tegak lurus menatap Naura yang berada di depannya, dia masih belum sadar kalau jari-jarinya masih masih mengeluarkan kuku tajam itu, dengan rambut putih yang berjuntai rapi, Kaila yang melihat itu merasa terpesona dengan ke tampanan Aulia. Mulutnya terbuka dengan mata yang melebar.
Dengan cepat Aulia pergi meninggalkan orang-orang kota itu di pegunungan di ikuti oleh Bara.
"Saya benar-benar tidak menyangka bahwa Aulia seorang harimau putih!" ujar seorang anak buah Bayu.
DI PENGINAPAN
Naura memanggil dokter untuk mengobati Bayu, dokter tersebut mengobati Bayu dengan alat-alatnya kedokterannya. Dia menempelkan perban di bagian wajah Bayu yang terkena goresan kuku itu.
"Dokter bagaimana dengan suami saya, kapan dia akan sadar?" tanya Naura begitu khawatir.
"Dia sudah baik-baik saja, untuk beberapa saat biarkan dia beristirahat dulu, setelah dia sadar nanti suruh dia meminum obat ini agar rasa sakitnya sedikit berkurang," ujar sang dokter.
"Baik dokter terimakasih sudah mau datang, ayo dokter saya antar sampai ke luar," ucap Naura.
Beberapa jam berlalu Naura masih menemani Bayu di ruangan itu.
"Naura kenapa Bayu masih belum sadar juga?" tanya Kaila dengan suara pelan.
Naura hanya menggelengkan kepalanya, " Aku tidak tahu Kaila."
"Kita harus menghabisi Aulia itu, lihat dia sudah mencelakai Bos kita!" ujar anak buah Bayu.
"Hei!.. kalian tidak berpikir apa? bagaimana bisa kita menghabisi Aulia, kita sudah tahu siapa dia. Bahkan bisa-bisa kita yang akan dihabisi olehnya!" Sahut Kaila, "lagian ini semua kesalahan Bayu, sendiri! coba saja kalau tadi dia tidak ngomong seperti itu kepada Aulia, pasti semua ini tidak akan terjadi," ujar Kaila menatap satu persatu anak buah Bayu.
Mendengar perkataan Kaila yang menuduh suaminya yang bersalah Naura pun berjalan mendekati Kaila.
"Kenapa sekarang kamu malah membela Aulia, kau lihat tadi kan? seperti apa dia menyakiti suamiku!" ujar Naura menatap Kaila.
"Gue tahu dan gue melihat semua kejadian itu, tapi yang mencari masalah itu adalah suami lo sendiri, coba aja tadi kalau Bayu ngak ngomong begitu kepada Aulia, dan Bara, semua ini tidak akan terjadi. Dan lo juga harus tahu siapa pun pasti marah kalau ada orang berkata kotor seperti itu!" Hardik Kaila.
DI HUTAN TERLARANG
Aulia, dan Bara, pergi ke hutan itu untuk menenangkan diri, tapi sampai di sana mereka malah di marahi oleh Raja Agra sang kakek.
"Seharusnya kau tidak melakukan itu, kepada mereka. Bagaimana jika mereka memberitahu kepada semua orang tentang siapa kalian ini. Dan kau Aulia seharusnya kau bisa menahan diri untuk tidak melakukannya!" Cecar Raja Agra.
Aulia, dan Bara, hanya bisa menundukkan kepala mereka, sambil mendengar amarah sang kakek.
"Jika terus seperti ini bagaimana kalian bisa menghadapi para siluman, kalian tidak bisa menjernihkan pikiran kalian itu." Sang kakek berdiri di dekat jendela yang terbuat dari bambu itu.
__ADS_1
"Mohon maaf kakek, tapi mereka sudah keterlaluan sekali. Bagaimana bisa mereka berkata seperti itu kepada kami," jawab Aulia yang masih menundukkan kepalanya.
"Baiklah kali ini kakek akan memaafkan kalian berdua, dan sekarang apa rencana kalian untuk desa itu. Karena kalian pasti sudah tahu tentang kejadian malam itu. Para harimau kuning akan datang ke desa itu," ujar Raja Agra.
"Kita berdua membutuhkan saudara harimau yang lain, untuk membantu menghalangi para harimau kuning menuju desa, hanya itu rencana kami saat ini kakek," jawab Aulia.
"Baiklah kakek akan perintahkan beberapa murid untuk membantu kalian," ucap Raja Agra.
Aulia, dan Bara, kembali ke pendesaan Aulia, sama sekali tidak bicara saat di perjalanan Bara, hanya terus mengikuti Aulia yang berada di depannya Bara, hanya sibuk melihat hutan sekitarnya dan pohon-pohon yang besar. Hingga dia tertinggal jauh di belakang.
"Aulia tunggu aku!" teriak Bara sambil berlari mendekati Aulia.
"Kenapa kau lambat sekali jalannya?" tanya Aulia.
"Bolehkah aku bertanya," ujar Bara.
"Tumben sekali kau bicara seperti itu, bisanya kau langsung, sat set sat set. Aja," jawab Aulia tersenyum.
"Apa yang akan kau lakukan jika berhadapan dengan Naura? Nanti, Mungkin saat ini dia sudah mengetahui siapa dirimu. Bukan hanya dia, tapi yang lain juga termasuk Bayu, dan Kaila," ujar Bara.
"Aku tidak tahu," jawab Aulia singkat, Aulia pun berjalan menuju perbukitan dia tidak langsung menuju desa.
"Kau mau ke mana? kenapa kau pergi ke arah sana?" tanya Bara yang mengikuti langkah Aulia.
DI PENGINAPAN
"Kalia kamu kenapa?" tanya Naura. Melihat Kaila, yang tidak bersemangat untuk kembali ke kota.
"Gue gak mau kembali ke kota!" jawaban Kaila. Membuat Naura terkejut mendengarnya.
"Kenapa? bukannya kamu ingin cepat-cepat pergi dari sini?" tanya Naura duduk di samping Kaila.
"Iya itukan beberapa Minggu yang lalu, sekarang gue pengen tinggal di desa ini. Untuk beberapa hari lagi," ucap Kaila.
"Lihat aku, katakan yang sebenarnya apa kamu, menyukai Aulia?" tanya Naura, sambil menatap Kaila.
Kaila menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Naura, bahwa dia menyukai Aulia.
"Apa! sejak kapan kamu menyukai Aulia?" tanya Naura terkejut.
Kaila pun bangkit dari tempat duduknya dia berjalan mendekati jendela kamar yang terbuat dari bahan kayu itu.
__ADS_1
"Gue gak tahu kapan gue jatuh cinta sama Aulia, yang pastinya gue cinta sama dia," jawab Kaila, membalikkan badannya menoleh ke arah Naura.
"Aku tidak setuju jika kamu, menyukai Aulia!" hardik Naura.
"Kenapa? jangan ngomong kalau lo, masih menyimpan perasaan terhadap Aulia?" tanya Kaila.
"Bukan seperti itu, kamu tahukan bahwa Aulia, bukan manusia biasa. Dia manusia harimau, dan kamu melihat semua itu, kamu lihat sekarang Bayu hampir mati karena ulah Aulia itu!" ujar Naura meumpahkan semua tuduhan itu kepada Aulia.
"Lo, jangan menuduh semua ke salahan itu, kepada Aulia seorang. Lo, harus ingat bahwa suami lo yang duluan mencari masalah!" cecar Kaila.
"Kaila!" Bentak Naura.
"Apa? kenapa lo bentak Gue!" sahut Kaila.
"Maaf bukan aku, bermaksud untuk membentak kamu, tapi kamu harus sadar kalau Aulia itu bukan manusia seperti kita, dia siluman.
"Jangan pernah lo katakan bahwa Aulia itu siluman Naura, dan lo harus tahu siapa pun dia gue tetap cinta!" Kaila pun keluar dari kamar itu.
Naura juga keluar dari kamar tersebut, Naura, pergi ke kamar di mana Bayu berada. Saat ini wajah Bayu masih di balut perban dia melihat Naura, mendekatinya.
"Naura kenapa kamu masih belum siap-siap juga?" tanya Bayu.
"Apa tidak sebaiknya kita pergi besok saja, hari juga sudah malam takutnya terjadi sesuatu kepada kita," ucap Naura.
"Tidak bisa Naura, kita semua harus pergi malam ini juga, aku sudah tidak ingin lagi berada di desa ini. Sekarang kamu harus bersiap-siap," sahut Bayu.
"Tapi Bayu."
"Tapi, apa lagi? jika kamu terus bicara kita akan terlambat!" ujar Bayu.
"Kaila tidak ingin pergi dari sini!" jawab Naura.
"Apa?"
"Iya Kaila bilang dia tidak ingin pergi dari desa ini. Karena dia menyukai Aulia," ucap Naura berterus terang.
Bayu tersenyum miring mendengar perkataan Naura, bahwa Kaila, menyukai Aulia, Bayu juga tidak habis pikir kenapa Kaila bisa menyukai seorang harimau jadi-jadian seperti Aulia.
"Kita harus bagaimana Bayu? kita tidak bisa membiarkan Kaila tinggal di sini, apa yang harus kita katakan kepada orang tuanya nanti kalau Kaila tidak kembali bersama dengan kita?" tanya Naura.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG