Harimau Aulia

Harimau Aulia
Kitab Harimau putih


__ADS_3

Aulia tampak berdiri di luar Pondok itu, dia menatap ke. Desa terlarang, dia teringat dengan. Desanya dan juga sang nenek yang sudah lama dia tinggalkan sendiri.


"Maaf cucu guruku kakek Anda memanggil," ujar Seorang murid yang berdiri belakang Aulia.


Aulia pun menghampiri sang kakek yang memanggilnya.


"Ada apa kek?" tanya Aulia.


Sang kakek yang berdiri menghadap timur, "Sudah saatnya kakek memberikan kamu kitab turun-menurun dari bangsa kita ini kepada kamu," ujarnya.


"Kitab apa kek?" tanya Aulia.


sang kakek pun membuka peti yang berwarna keemasan itu. Tempat penyimpanan kitab harimau putih. Dia menarik nafas panjang dan mengambil kitab itu dari delam peti.


"Pelajarilah isi kitab ini, jangan sampai Kitab ini jatuh ke tangan makhluk lain seperti harimau bangsa kuning ataupun makhluk lainnya," ujar Sang Kakek.


"Sahabat kamu itu juga bisa mempelajarinya kitab ini, jika dia sanggup menerima kekuatan itu dalam tubuhnya," ujar Sang kakek.


"Kakek, tolong dengarkan Aulia, sampai kapan pun, aku tidak akan membuat Bara menjdi bagian dari bangsa kita, tidak akan pernah!," sahut Aulia.


"Itu semua tergantung sama kamu jangan sampai nanti kamu menyesalinya jika terjadi sesuatu kepadanya," ujar sang Kakek.


Aulia benar-benar merasa delema dia ibaratkan sebuah simalakama dia tidak tahu harus berbuat apa jika terjadi sesuatu kepada Bara, yang jelas dia tidak ingin Bara menjdi seperti dirinya Aulia merasa bersalah karena telah membawa Bara ke tempat ini. Tempat yang membuat dia tidak bisa lagi kembali kepada orang tuanya.


''Ini semua salah Aulia kek, Aulia yang telah membawa Bara kesini,'' ujar Aulia merasa bersalah.


''Ini bukan salah kamu ini adalah jalan takdirnya sendiri,'' sahut Sang kakek.


''Kakek mau bertanya? tentang Pak Rahman bagaimana kabarnya?'' tanya sang kakek.


Aulia terdiam sejenak menarik nafas dan melepaskannya, ''Kakek Rahman sudah meninggal kek, dia di bunuh oleh bangsa kuning harimau,'' ujar Aulia.


''Apa...?'' tanya sang kakek membulatkan matanya dia tidak percaya kalau orang yang telah menolong anaknya, dan yang sudah membesarkan cucunya. Meninggal di bunuh oleh harimau Kuning.


''Iya kek, mereka sudah menghabiskan kakek Rahman maka dari itu Aulia datang kemari untuk bertemu sama kekek, karena Aulia ingin membalas berbuatan mereka kepada kekek Rahman,'' ujar Aulia.


''Aulia kamu tidak boleh emosi dan marah, jika ilmu harimau putih kamu pakai dengan keadaan emosi, itu akan membahayakan diri kamu sendiri,'' sahut sang kakek.


.


.


''Aulia harus pulang sekarang kek, nenek pasti sedang menunggu Aulia pulang,'' ujar Aulia.


''Baiklah jagalah nenek mu itu baik-baik karena dia sangat berjasa dalam hidup mu,'' sahut Sang kakek.

__ADS_1


Aulia mencium punggung tangan sang kakek begitu pun dengan Bara, setelah bersalaman mereka pergi meninggalkankan hutan terlarang tersebut.


Saat mereka sudah jauh dari. Desa itu, sang kakek memperintahkan kepada murid terpercayanya untuk menjaga Aulia dan Bara makhluk lain.


"Kamu awasi mereka sampai ke desa mereka, jika terjadi sesuatu kepada sahabat cucuku itu, masuklah kamu ke dalam tubuhnya agar dia bisa pulang dengan selamat, tapi ingat setelah kamu masuk ke dalam tubuhnya kamu tidak bisa keluar lagi jika kamu keluar maka dia akan mati," ujar sang Guru.


"Baik guru aku akan terima apa pun yang akan terjadi," sahut sang Murid yang baik hati itu.


"Baiklah, pergilah sekarang semoga kamu bahagia dengan keluarga baru mu, jadilah seorang Bara yang baik," ujar sang Guru.


Sang murid menganggukkan kepalanya dan mencium punggung tangan sang Guru lalu pergi meninggalkan hutan Terlarang.


Sang guru menangis melihat Murid kesayangannya dan cucunya pergi meninggalkan hutan.


.


.


Aulia dan Bara telah keluar dari hutan Terlarang itu. Kini mereka kembali berjalan melewati hutan terlarang tersebut sebagaimana mereka pergi begitu juga pulang.


"Bara apa kamu merasa sesuatu dengan diri mu?" tanya Aulia begitu khawatir kepada sahabatnya itu.


"Tidak aku merasa baik-baik saja, memangnya kenapa?" tanya Bara.


Aulia merasa legah karena tidak terjadi apa-apa kepada Bara.


"Udah kamu tidak perlu khawatir sama aku kalau aku jatuhkan ada kamu buat gendong aku dan kamu akan berubah seperti ini," ujar Bara memperlihatkan gayanya yang lucu.


Aulia hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya itu.


"Aku tidak bisa membayangkannya jika aku harus kehilangan sahabat seperti kamu," batin Aulia.


"Hutan ini semakin gelap tadi waktu kita masih di. Desa itu, masih ke adaan terang ini cahaya pun gak ada," ujar Bara sambil melihat ke atas pohon-pohon.


"Udah jalan aja terus kita ini masih di tengah hutan jangan terlalu banyak bicara," sahut Aulia.


Mereka pun terus berjalan. Allahu Akbar suara Adzan berkumandang di tengah hutan terlarang. Menandakan bahwa salat Zuhur sudah waktunya.


"Aulia apa sebaiknya kita kita berhenti disini untuk melaksanakan salat Zuhur," ujar Bara.


"Baik, kita salat disana aja karna disana ada sungai kecil kita bisa berwudhu di situ," sahut Aulia.


Mereka berdua pun berjalan menuju sungai itu.


"Ternyata di hutan ini banyak sungai juga ya?" tanya Bara.

__ADS_1


"Jelaslah, inikan hutan, di gunung-gunung biasa juga banyak sungai," sahut Aulia. Mereka mulai berwudhu dan melaksanakan salat Zuhur di tepian sungai itu.


Berapa menit berlalu mereka kembali berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba di perjalanan Bara merasa sakit di sekujur tubuhnya sakit yang luar biasa seperti tercabik-cabik oleh pisau tajam menghantam tubuhnya Bara terjatuh ke tanah karena tidak tahan dengan rasa sakit yang ada di dalam tubuhnya.


''Bara kamu kenapa?'' tanya Aulia.


''Tubuh ku terasa sakit semua,'' sahut Bara. Dengan napas tersedak. Mulut Bara mengeluarkan darah kental dari hidung dan dari telinganya.


''Ini tidak boleh terjadi,'' ujar Aulia.


Aulia mencaba mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya untuk diberikan kepada Bara. Tapi itu tidak membuat Bara membaik malah membuat keadaan semakin buruk.


''Aulia aku akan mati, sampai kan rindu ku kepada orang tua ku,'' ujar Bara.


''Tidak kamu tidak akan mati kita pasti akan sampai ke desa, naiklah ke pundak ku,'' ujar Aulia. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya 😭 melihat sahabatnya meregang nyawa.


Mulut Bara terus mengeluarkan darah tidak hentinya, Aulia mengendong Bara di punggungnya dia terus berjalan.


''Turunkan dia,'' ujar seseorang.


Aulia menoleh ke arah Sumber suara tersebut dia sangat mengenali orang yang berdiri di sampingnya itu, dia adalah murid dari kakeknya.


''Izinkan saya untuk masuk ke dalam tubuhnya,'' ujar orang itu.


''Tidak akan, saya tidak akan mengizinkan!,'' sahut Aulia.


.


.


.


.


.


.


.


.


...BERSAMBUNG... JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT TIPS HANYA CERITA FIKSI...


Bagaimana selanjutnya ikuti terus cerita nya?

__ADS_1


__ADS_2