Harimau Aulia

Harimau Aulia
ke marahan Aulia


__ADS_3

Pagi itu. Warga desa mulai ricuh membicarakan tentang kejadian semalam dimana burung-burung pada ribut seperti memberitahu sesuatu pertanda buruk. Mereka warga itu saling sahut menyahut menceritakan burung-burung tersebut. Mereka begitu khawatir tentang desa ini mereka takut jika kejadian beberapa puluh tahun itu akan terulang lagi.


"Aku tidak mengerti apa maksud burung-burung itu? apakah mereka memberi pertanda buruk. Atau sebaliknya? semua ini sudah tidak seperti biasanya," ujar seorang warga.


semua orang yang berada di tempat itu, tidak ada yang menjawab pertanyaannya, mereka hanya terdiam memikirkan apa yang akan terjadi.


Dari kejauhan Aulia, dan Bara, melihat para warga yang sedang berkumpul di sebuah pondok di jalanan desa. Aulia, dan Bara, pun mendekati Mereka para warga itu.


"Lagi ngobrol apa Pak?" tanya Bara tersenyum.


"Kami sedang membicarakan tentang kejadian semalam, tentang burung-burung yang berteriak-teriak itu, apa kau tidak mendengarnya?" tanya seorang warga yang duduk berjuntai di tepi pondok.


"Jelaslah Pak, saya mendengarnya," jawab Bara.


"Apa lagi saya Pak, rumah saya kan? dekat sekali dengan pegunungan itu. Saya jadi ketakutan semalam," sahut Aulia.


"Memangnya ada apa? Dengan burung-burung itu Pak, kan? burung-burung emang suka berbunyi tiap malam," ujar Bara.


"Bukan masalah burungnya, tapi tadi malam burung-burung itu bersahutan dengan burung gagak, ini cukup aneh. Kejadian ini sama seperti beberapa puluh tahun yang lalu!" ujar seorang warga.


Bara, dan Aulia, begitu penasaran dengan cerita itu, meraka pun mendengar cerita tersebut.


"Aku mau dengar ceritanya Pak, aku suka cerita-cerita seperti ini," ucap Bara.


"Kejadian ini sama seperti zaman itu, sebuah pertanda buruk yang akan terjadi di desa ini, sebab harimau jadi-jadian itu akan datang ke desa ini untuk menuntut balas atas perbuatan orang-orang dulu!" ujar warga itu.


"Kok ngak masuk akal pak, kita kan? membicarakan tentang burung, kenapa jadinya malah ke harimau jadi-jadian," jawab Bara.


"Benar kata Bara, Pak kita kan cerita tentang burung semalam, kenapa larinya malah ke harimau jadi-jadian," sambung Aulia.


"Kalian ini anak kemarin sore, mana tahu tentang cerita itu," jawab warga lainnya.


"Terus apa hubungannya dengan harimau-harimau itu?" tanya Bara.


Warga pun mulai menceritakan semua kejadian yang mereka tahu waktu itu, dimana para harimau kuning turun dari hutan menuju desa Indah, hanya untuk membalaskan kematian saudara harimau meraka, karena para warga dulu pernah membunuh salah satu dari mereka. Bahkan harimau betina yang di sebut sebagai istri dari harimau jadi-jadian itu pun mati, karena ulah pemburu harimau kuning. Sejak itulah siluman harimau kuning menuntut balas atas kematian saudara mereka.


"Bahkan harimau jadi-jadian itu, masih menuntut balas sampai hari ini," ujar warga.


"Dulu desa ini tempatnya para siluman. Bahkan sampai sekarang pun siluman itu masih ada, tapi..."


"Tapi apa Pak?" tanya Aulia memotong perkataan orang tua itu.


"Tapi dulu orang-orang desa ini memiliki banyak ilmu seperti ilmu Kanuraga dan banyak memiliki ilmu sakti lainnya, maka dari itu para siluman tidak pernah lagi kembali ke desa ini. Tapi sekarang, sepertinya mereka akan kembali."


"Mungkin saja mereka kembali, karena mereka tahu ke saktian orang-orang di desa ini sudah tidak ada," sambung yang lainnya.


Di rumah Bara, Aulia duduk melamun di halaman rumah itu, dia masih memikirkan tentang perkataan warga desa.


"Aulia," panggil Pak Sury.

__ADS_1


Aulia pun terjaga dari lamunannya.


"Iya Paman, Paman sudah sembuh?" tanya Aulia. Melihat Pak Sury mendekatinya.


"Alhamdulillah Paman sudah sembuh, Paman lihat kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Pak Sury.


"Tidak ada Paman, aku tidak memikirkan apapun," sahut Aulia tersenyum.


Bara pun datang sambil membawa ceret yang terbuat dari tanah liat yang sudah terisi air dan segera menuangkan air itu ke dalam gelas.


"Untuk beberapa hari ini kalian berdua jangan pergi ke mana-mana dulu," ucap Pak Sury sambil meletakkan gelasnya.


"Memangnya ada apa Ayah? Kenapa kami tidak boleh pergi ke mana-mana?" tanya Bara.


"Apa kalian tidak mendengar kicauan burung-burung tadi malam? itu adalah memberi sebuah pertanda buruk! Akan ada bencana!" ujar Pak Sury.


"Astagfirullahaladzim apa Ayah percaya semua itu?" tanya Bara.


"Betul Paman kita tidak boleh percaya begitu saja dengan apa yang kita dengar, semua itu kan? belum terjadi. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja dan semoga Allah melindungi kita semua dari keburukan itu," ucap Aulia.


"Bukan seperti itu, kan lebih baik kita semua berhati-hati karena kita hidup di desa seperti ini. Takutnya para harimau kuning akan datang ke desa ini," ujar Pak Sury.


"Ayah juga percaya dengan manusia siluman atau manusia harimau?" tanya Bara.


"Iya tentu saja, dulu waktu kau masih kecil saat Ayah pergi ke pegunungan untuk mencari rotan waktu itu rotan-rotan sangat banyak di pegunungan itu, dan Ayah melihat mereka dengan mulut berlumuran darah. Mungkin saja waktu itu mereka habis memakan hewan buruan mereka," ujar Pak Sury.


"Sepertinya harimau jadi-jadian yang sempat Paman lihat itu harimau kuning. Paman juga sempat melihat waktu mereka berubah wujud menjadi manusia. Setelah melihat kejadian itu Paman langsung buru-buru pergi karena merasa takut. Tapi pas di perjalanan Paman juga sempet mendengar mereka seperti sedang bertarung!" ucap Pak Sury.


Aulia dan Bara, hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka.


"Apa Ayah tidak melihat dengan siapa mereka pertarung di pegunungan itu?" tanya Bara begitu penasaran dengan cerita sang ayah.


Pak Sury menggelengkan kepalanya bahwa dia tidak melihat kejadian petarungan tersebut.


"Mengerikan! sekali ceritanya," kata Bara.


"Ada satu lagi yang lebih mengerikan, tapi kali ini Ayah hanya mendengar ceritanya saja dari warga-warga setempat, bahwa dulu jika ada orang yang hendak pergi ke hutan atau ke pegunungan tidak boleh bicara besar. Jangan sampai kita bicara kalau kita tidak takut kepada mereka, jika itu terjadi maka mereka tidak segan-segan akan menghabisi orang itu," ujar Pak Sury.


"Apa semua itu pernah terjadi Paman. Harimau jadi-jadian itu memangsa manusia?" tanya Aulia.


Pak Sury menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Aulia," Maka dari itu kita harus berhati-hati," ucap Pak Sury.


Aulia, dan Bara, menganggukkan kepala mereka serempak


Siang menjelang sore Aulia, dan Bara, pergi ke arah pegunungan mereka ingin melihat apa yang terjadi disana semalam. Namun, di perjalanan Aulia dan Bara melihat Bayu bersama Naura dan juga anak buah Bayu, meraka juga berada di pegunungan itu.


"Aulia, lihat bukakah itu Naura dan Bayu? mau apa mereka di tempat ini?" tanya Bara.


Aulia, dan Bara, berjalan mendekati orang kota itu.

__ADS_1


"Aulia, Bara, sedang apa kalian disini?" tanya Naura.


"Iya sedang apa kalian disini," sambung Kaila yang juga berada di pegunungan tersebut.


"Seharusnya kita yang bertanya, sedang apa kalian semua di pegunungan ini!" tanya Aulia sedikit khawatir dengan keadaan Naura yang sedang hamil itu.


"Ya, suka-suka kitalah mau pergi ke mana, bukan urusan Anda!" hardik Bayu.


"Semua ini memang bukan urusan saya, tapi kau harus tahu ini pegunungan tidak baik jika Anda membawa istri Anda yang sedang hamil ke pegunungan seperti ini, apa lagi sore begini. Apa lagi tempat seperti ini pasti ada mahkluk halus, apa Anda tidak kasihan sama istri dan anak Anda jika terjadi sesuatu!" cecar Aulia.


"Iya-iya mahkluk halus itu adalah kalian berdua, dari tadi kami baik-baik saja, dan secara tiba-tiba kalian datang untuk mengganggu kami, seperti mahkluk halus!'' ujar Bayu menjengkelkan.


"Bayu, kenapa kamu bicara seperti itu kepada Aulia, mereka hanya mengingatkan kita, apa itu salah," ujar Naura.


"Kenapa kamu selalu membela dia? haa.." Bayu dengan ekspresi tajam menatap Naura.


"Bukan aku mau membela Aulia, tapi apa yang dia katakan itu benar, lebih baik kita kembali ke penginapan saja," ajak Naura.


Naura memegang tangan Bayu yang ingin mengajaknya pergi. Namun Bayu menepis tangan Naura hingga Nuara hampir jatuh, dengan cepat Aulia menangkap tubuh Naura.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Aulia.


Naura hanya menganggukkan kepalanya.


Bayu mendorong tubuh Aulia, "Lepasin istri saya!"


"Bayu! kamu hampir saja mencelakai Naura, tahu gak!" bentak Kaila.


"Kalian adalah pasangan laki-laki yang menjengkelkan bagi saya!" Bayu memukul wajah Aulia hingga bibirnya berdarah.


Tanpa basa-basi Bara menarik pundak Bayu dan memukulnya sama seperti Bayu memukul Aulia.


"Bicaralah dengan sopan terhadap kami!" Bentak Bara, beberapa pukulan mendarat di wajah Bayu.


"Sudah hentikan!" Hardik Naura, Memegang tangan Bayu.


"Kalau kalian bukan pasangan laki-laki apa namanya? kalian selalu berdua seperti orang berpasangan! apa kalian berdua sudah melakukan hubungan terlarang itu, pantas saja desa ini menakutkan!" Bayu terkekeh menertawakan Aulia, dan Bara, di depan Naura, dan anak buahnya.


Aulia yang begitu marah menarik kerah baju Bayu, Aulia mendorong tubuh Bayu ke tanah dan memukulnya tanpa ampun.


"Kami tidak sekotor yang Anda katakan, maka berhati-hatilah bila mengucapkan sesuatu!" Aulia sudah tidak sanggup menahan amarahnya, tangan Aulia berubah menjadi kaki harimau dengan kuku tajamnya dia menampar wajah Bayu dengan kuku itu.


"Aulia, sudah hentikan!" Bara menghentikan Aulia yang terus memukuli Bayu.


Naura sangat ketakutan melihat ke marahan Aulia, Naura segera mendekati Bayu suaminya yang sudah tidak sabarkan diri itu Naura, melihat wajah Bayu, penuh dengan luka cakar. Naura, melihat ke arah tangan Aulia yang berlumuran darah itu, dia berdiri menatap Aulia. Begitu juga Aulia yang menatap Naura, dia tidak sadar bahwa kuku itu masih terlihat oleh Naura.


"Aulia siapa kamu sebenarnya!?" tanya Naura.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2