
Berapa hari berlalu Naura sudah tidak berada lagi di desa tersebut, Aulia melamun di kebunnya saat itu sang nenek sedang memetik sayur yang siap untuk di jual ke pasar.
''Sudahlah jangan kamu pikirkan terus. Dia sudah tidak ada lagi di desa ini,'' ucap Bu Lilis.
''Maksud nenek apa?'' tanya Aulia.
Bu Lilis tersenyum sambil berkata. ''Kamu lagi memikirkan tentang Naurakan?.''
''Tidak nek, Aulia hanya memikirkan tentang desa ini jika nanti aku pergi bagaimana dengan desa ini,'' ucap Aulia.
Sang nenek mendekati Aulia yang duduk di dalam pondok.
''Kamu mau pergi kemana?'' tanya Bu Lilis.
''Saya tidak bisa menceritakan semua ini sama nenek tentang Gua tujuh itu,'' batin Aulia, '' Aulia gak kemana-mana kok nek. Mana tahu nanti aku harus pergi ke hutan,'' ucap Aulia.
''Nenek juga merasa takut jika kau dan Bara harus pergi, karena desa ini sangat membantuhkan kalian berdua untuk menjaga desa ini,'' sahut Bu Lilis.
''Apa petik sayurnya sudah selesai nek?'' tanya Aulia.
''Sudah,'' sahut Bu Lilis.
__ADS_1
''Kalau sudah mari kita pulang, waktu juga sudah mulai sore,'' ajak Aulia.
..MALAM HARINYA..
Malam itu hujan turun sangat lebat Aulia dan sang nenek ingin pergi ke mesjid untuk salat magrib. Tapi karena hujan sangat lebat mereka pun tidak bisa pergi.
..DI DESA SEBERANG..
Ada kejadian yang mengerikan terjadi di desa itu. Tiga orang warga sedang mencari ikan dengan menggunakan pancingan mereka. Mereka bersorak-sorak karena pancingan meraka menghasilkan banyak ikan malam itu.
''Pak hasil tangkapan ikan kita malam ini cukup lumayan banyak sebaiknya kita pulang sekarang hujan juga sudah turun takutnya nanti semakin lebat,'' ucap temannya.
''Sebentar lagi pak pancingan saya masih belum di makan ikan,'' sahut warga satunya.
''Pak ayo kita pulang pak, air sungai sudah mulai tinggi nanti kita bisa hanyut pak!'' teriak teman mereka yang berdiri di atas tebing.
Teman-temannya tidak mempedulikan perkataan temannya yang berdiri di atas tebing tersebut mereka terus saja melempar pancingan mereka ke sungai itu.
Air sudah mulai tinggi dan deras teman yang di atas tebing tersebut masih setia menunggu teman-temannya untuk segera naik.
Salah satu temannya yang ikut memancing melihat air sungai yang berombak aneh.
__ADS_1
''Pak lihat air itu pak kenapa ombaknya begitu aneh? seperti ada sesuatu yang melintas,'' ucap salah satu temannya.
''Mungkin itu ada pohon tumbang terus hanyut biarkan saja pak. Itukan sudah biasa!'' sahut temannya yang terus saja memegang pancingannya.
Temannya sudah tidak mempedulikan pancingannya dia hanya fokus menatap air sungai yang berombak aneh tersebut.
''Pak itu bukan pohon yang hanyut pak, tapi itu ular besar cepat lari pak!'' ucap temannya.
Mereka pun segera berlari meninggalkan pancingan mereka di sungai tersebut. Salah satu dari mereka di telan oleh ular itu dan temannya yang satunya jatuh kedalam sungai hingga mereka berdua tidak terlihat lagi. Temannya yang berada di atas tebing tersebut hanya bisa menyaksikan dua temannya di telan oleh ular itu.
Dadanya berdegup dengan kencang tubuhnya bergetar menyaksikan semua itu, dia mencoba berlari menjauhi sungai tersebut ikan-ikan yang mereka tangkap di tinggalkan begitu saja. Hujan semakin deras melihat pandangan siapapun menjadi buram, di jalanan tidak ada siapapun yang melintas karena hujan begitu deras membuat warga-warga berdiam diri di rumah mereka masing-masing.
Untung saja warga tersebut selamat sampai di rumahnya malam itu istrinya tidak mengerti kenapa suaminya begitu ketakutan dia tidak menceritakn apapun kepada istrinya.
''Ada apa? kenapa bapak diam saja sejak pulang dari sungai itu?'' tanya istrinya yang sedang menyajikan makan malam untuknya. Tapi suaminya hanya diam saja tanpa menyentuh makanan itu.
.
.
.
__ADS_1
. BERSAMBUNG.