
''Bara, apa kau tahu siapa nama dari Siluman ular itu?'' tanya Aulia sambil menyenderkan tubuhnya di sebuah kursi di ruangan tersebut.
Bara menggelengkan kepalanya.
''Terus kenapa dia bisa kenal sama kamu?'' tanya Aulia.
Bara pun menceritakan semua kejadian berapa minggu yang lalu, saat Ghani dan teman-temannya mendatangi warung Gadis. Dan berbuat tidak senonoh kepada Gadis, dan Bara pun menolong Gadis dari Gahni. Mungkin saat itu Ghani menjadi dendam kepada Bara.
Aulia mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Bara tentang Ghani.
''Berarti pemuda itu balas dendam sama kamu dan Gadis, lalu kenapa dia bisa menjadi manusia ular. Kita harus mencari tahu siapa pemuda ini,'' ucap Aulia.
Bara menganggukkan kepalanya.
''Baiklah kalau seperti itu, aku harus pergi sekarang Ayahku pasti akan khawatir lagi sebab semalam aku tidak pulang ke rumah,'' ucap Bara sambil berdiri dari tempat duduknya.
Aulia menganggukkan kepala, Bara pergi memakai ilmu menghilangnya.
Wilayah hutan baringinsakti itu adalah wilayah Harimau kuning kerajaan Bagaskara, Bagaskara sangat terkejut mendengar perkataan dari murid dan anaknya Aidan bahwa pedang yang mereka incar adalah seekor elang.
''Saya masih tidak percaya kalau elang itu ada adalah jelmaan pedang tersebut, bagaimana kalian bisa tahu?'' tanya Bagaskara.
''Iya, guru kami semua melihat itu, saat Aulia menggunakan pedang tersebut, dia hanya memanggil seekor elang,'' ujar Gavar.
''Betul guru kami melihatnya!'' sahut para murid Bagaskara bersamaan.
''Baik kalau seperti ini kita harus mencari dan menangkap elang itu!'' ujar Bagaskara menatap satu-persatu murid-muridnya.
''Tidak Ayah, kita tidak bisa menangkap elang itu bahkan untuk memanggilnya pun kita tidak bisa!'' sahut Aidan.
''Kenapa?'' tanya Bagaskara mendekati Aidan.
''Elang itu akan datang jika Aulia yang memanggilnya, selain dari Aulia maka siapapun tidak akan bisa,'' ucap Aidan, ''tapi Ayah aku menginginkan pedang pusaka itu bagaimana pun caranya aku harus mendapatkannya.'' Aidan sangat menginginkan pedang itu dia akan melakukan apapun untuk pedang pusaka permata putih tersebut.
''Guru kenapa bukan guru saja, untuk mengambil pedang tersebut?'' tanya Gavar sang murid.
''Betul Ayah, kenapa bukan Ayah saja yang merebut pusaka itu,'' sambung Aidan.
__ADS_1
''Tidak putraku Ayah, dan Raja Agra sudah berjanji tidak akan ikut campur dalam urusan apapun itu meskipun Ayah juga menginginkan pedang dan kitab harimau putih tersebut.'' Bagaskara membalikkan badannya membelakangi putranya.
''Apa yang akan terjadi Ayah?'' tanya Aidan.
''Jika Ayah ikut campur urusan ini, maka Raja Agra juga akan turun tangan dan bisa saja bangsa mereka akan menghabisi kita, Ayah tidak ingin kalian mati satu-persatu,'' ujar Bagaskara.
''Apa salahnya kita coba, bangsa kita lebih kuat dari bangsa mereka!'' ucap Aidan.
''Tidak putraku sebelum kita memiliki kitab itu maka kita tidak bisa menyerang mereka, Ayah mengizinkan kalau kalian menghancurkan desa indah atau menghabisi penduduk desa itu, tapi tidak untuk desa terlarang itu akan membahayakan kalian.''
Aidan dan Gavar saling tatap, ''Apa yang akan kami dapatkan jika kami hanya menghacurkan desa itu?'' tanya Aidan karena dia tahu Aulia tidak akan menyerahkan kitab itu kepadanya dengan mudah.
''Kalian habisi satu-persatu warga desa itu. Dendam ini masih begitu kuat untuk desa tersebut dengan cara menghabisi mereka pasti Aulia akan memberikan kitab itu kepada kita!''
DI DESA INDAH
Aulia dan Bara pergi ke warung Gadis yang sudah lama tidak mereka kunjungi.
''Tuben amat Gadis perhatian sama kamu, biasanya dia menghampiri aku dulu,'' ucap Aulia tersenyum.
''Gadis, aku mau tanya sama kamu, soal pemuda waktu itu, apa kamu tahu siapa namanya?'' tanya Bara.
Gadis berjalan mendekati Bara dan Aulia yang sedang menikmati makanan di warungnya.
''Iya aku tahu, nama pemuda itu Ghani dia warga desa sebrang. Ada yang bilang bahwa dia sempat menghilang berapa minggu lalu, tapi sekarang dia sudah kembali untungnya dia masih hidup,'' jawab Gadis.
''Maksud kamu? Dia hilang ke mana?'' tanya Aulia yang masih penasaran dengan pemuda yang bernama Ghani itu.
''Kalau soal itu aku kurang tahu, tetapi aku sempat dengar kalau dia hilang di hutan,'' sahut Gadis.
''Gadis terimakasih ya, kami pergi dahulu.'' Bara dan Aulia meninggalkan warung tersebut mereka pergi menuju desa sebrang.
''Apa harus sekarang kita mencari tahu tentang Ghani itu?'' tanya Bara.
''Iya tentu saja kita harus mencarinya sekarang, kalau menunggu waktu lagi bisa-bisa mahkluk itu menyerang kita dan warga desa lagi,'' jawab Aulia.
Di perjalanan mereka melihat para warga desa seberang sedang bersantai-santai di sebuah pondok di desa itu, Aulia dan Bara pun mendekati mereka.
__ADS_1
''Hai! Lihatlah bukannya mereka warga desa indah, mau apa mereka kesini?'' tanya salah satu warga setempat.
''Assalamualaikum Pak,'' ucap Aulia dan Bara serempak kepada warga itu.
''Waalaikumsalam, kalian berdua dari mana?'' tanya sang warga.
''Maaf Pak, kita mau bertanya rumahnya Bang Ghani di mana ya, kita mau ketemu dia,'' ucap Aulia.
Warga pun saling tatap satu sama lain, ''Sebaiknya kalian berdua tidak usah bertemu dengan Ghani itu,'' ujar warga.
''Kenapa Pak?'' tanya Aulia.
''Saat dia menghilang di hutan, dia menjadi aneh, sikapnya juga berubah. Tapi orang tuanya tidak mau mengakui itu kalau Ghani memang aneh sejak dia pulang ke desa ini,'' ujar warga.
''Betul. Nak, apa lagi saat malam itu saya sempat melihat dia memakan ayam hidup, tetapi saat saya memberitahu kepada warga. Mereka tidak percaya dengan apa yang saya lihat,'' sambung seorang warga.
''Tolong Pak, beritahu kami bagaimana bapak melihat kejadian itu agar kami bisa percaya dengan apa yang bapak katakan,'' ucap Bara.
FLASHBACK
Beberapa warga sebrang yang juga berjaga-jaga setiap desa. Saat itu seorang warga sudah tidak tahan ingin membuang air besar di sungai desa itu.
''Ahh!... Akhirnya terbuang juga semua kotoran ini,'' gumam warga itu. Namun, di perjalanan langkahnya terhenti saat melihat semak-semak bergerak tanpa adanya angin yang berhembus dia pun berjalan mendekati semak-semak tersebut untungnya orang tua itu tidak sempat berteriak. Tetapi dia sangat jelas melihat wajah orang yang sedang memakan seekor ayam hidup tersebut dia adalah Ghani.
Semua orang yang berada di dalam pondok itu mengangguk-anggukkan kepala mereka begitu juga dengan Aulia dan Bara. Mereka pun percaya dengan penjelasan warga tersebut.
''Tapi saat itu kenapa bapak tidak menjelaskannya secara detail kepada kami, mungkin saja kami bisa percaya,'' ujar seorang warga.
''Saya ingin menjelaskannya, tapi kalian lebih dulu tidak percaya, bagaimana saya bisa menjelaskannya kepada kalian,'' jawab orang itu.
''Wah! Apa itu jangan-jangan bukan Ghani ya, bisa jadi ada mahkluk lain yang menyerupai wajah Ghani,'' ujar warga lainnya.
.
.
Bersambung
__ADS_1