
Pagi ini Ustadz Karim mengunjungi rumah Bara dia begitu penasaran siapa Bara sebenarnya, dan kenapa dia bisa menjadi makhluk yang mengerikan seperti itu.
"Abang mau ke mana, pagi-pagi seperti ini?" tanya Aliya istri ustadz Karim.
"Abang mau ke rumah Pak Sury ada yang mau Abang bicarakan sama dia, Abang pergi dulu ya." Ustadz Karim mengulurkan tangannya, sang istri mencium punggung tangan sang suami.
Ustadz Karim menghayunkan tungkai kakinya pergi.
"Assalamualaikum," ucap ustadz Karim mengetuk pintu rumah Bara. Yang membuka pintu bukanlah Pak Sury melainkan Bara yang telah berdiri di depan pintu.
Ustadz Karim menatap Bara sedikit takut dia menjadi salah tingkah melihat Bara, wajahnya berubah pucat.
"Ustadz ada apa?" tanya Bara, "apa ustadz lagi sakit wajah ustadz begitu pucat ayo masuk dulu ustadz." Bara mempersilahkannya masuk.
"Tidak usah saya, hanya ingin mau bertemu dengan Ayah mu saja, apa Ayah mu ada di rumah?" tanya ustadz Karim dia tidak berani menatap Bara berlama-lama.
"Ayah baru saja pergi ke pasar menjual rotan dan kayu bakar," jawab Bara, dia melihat ustadz Karim begitu aneh tidak seperti biasanya.
Ustadz Karim pun segera pergi meninggalkan Bara tanpa berpamitan dengannya.
"Ada apa dengan ustadz Karim? kenapa dia begitu ketakutan saat melihat ku, apa jangan-jangan dia?.." gumam Bara sambil melihat ustadz Karim yang menjauh.
Bara pun segera pergi ke pasar dimana tempat sang Ayah menjual rotan dan kayu bakar tersebut, di perjalanan hatinya masih terpikir tentang Ustadz Karim.
"Ayah apa semuanya sudah terjual Bara kesini mau bantu Ayah," ucapnya.
"Sudah terjual semua ini Ayah mau pulang," jawab Pak Sury merapikan tempat penjualannya.
Bara membantu sang ayah membawakan tempat penjualan mereka.
Di perjalanan Bara dan Ayahnya melihat dua mobil beriringan menuju desa indah sebelumnya mobil tidak pernah melintas maupun masuk ke desa ini, selain orang kota.
"Siapa mereka?" tanya Pak Sury melihat dua mobil beriringan.
"Apa itu Naura? Apa mereka kembali ke desa ini? Tapi untuk apa," batin Bara.
"Ayah, Bara pergi dahulu ya ke rumah Aulia." Sambil meletakkan barang-barang yang di bawanya dari pasar.
Pak Sury hanya menganggukkan kepalanya, Bara pun segera pergi.
__ADS_1
"Aulia, apa kau ada di dalam," panggil Bara sambil mengetuk pintu.
"Iya aku ada di dalam, masuk aja." Teriak Aulia.
Bara pun segera masuk ke dalam rumah itu dia langsung menemui Aulia yang sedang sarapan.
"Ada apa? Kau seperti tergesa-gesa sekali apa ada masalah?" tanya Aulia tersenyum melihat Bara terengah-engah.
"Minum dulu," ucap Aulia menyerahkan segelas air putih.
Bara segera menegu air itu hingga tandas.
"Tadi pas aku pulang dari pasar, aku melihat ada dua mobil beriringan menuju desa ini. Apa Naura kembali ke desa ini?" Tanya Bara.
Aulia terkejut dan menghentikan sarapannya dia menatap lurus ke arah Bara.
Bara malah mengambil makanan Aulia dan memakannya.
"Apa menurut kamu itu adalah Naura, atau orang lain yang berkunjung ke desa ini?" tanya Aulia.
"Aku tak tahu, sebaiknya kita kesana dan mencari tahu siapa mereka, dan apa motifnya meraka datang ke desa ini." Bara terus menyantap makanan Aulia.
Orang dari kota itu menghampiri warga yang berada di jalanan desa.
''Pak, saya mau bertanya, rumah kepala desa disini dimana?'' tanya salah satu orang kota itu sambil memajukan wajahnya keluar kaca mobil.
''Di sana Pak, tidak begitu jauh lagi, nanti Anda bisa bertanya kepada orang-orang disitu.'' warga yang menjawab pun segera pergi.
Mobil pun segera pergi menuju rumah pak kades Budin.
''Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka ingin pertemu Pak kades?'' tanya warga.
''Entahlah mungkin mereka punya urusan dengan Pak kades,'' jawab warga lainnya.
Orang kota itu sudah tiba di rumah Pak kades, disana juga ada Pak Sury dan ustadz Karim. Pak kades menatap satu-persatu orang-orang kota itu terlihat gagah dan kayak mereka semua di persilahkan duduk oleh Pak kades.
''Bagaimana Pak, kami sudah memberitahu Anda tujuan kami untuk datang ke tempat ini melalui telepon. Apa kami bisa melihat tempat tersebut,'' ucap orang kota itu. Yang bernama Bayu.
''Iya Pak, saya sudah tahu tujuan Anda kemari. Tetapi saya belum memberitahu kepada pemilik tanah itu, apakah dia bersedia menjual tanah itu, atau tidak,'' ujar Pak kades.
__ADS_1
Pak Sury dan ustadz Karim saling tatap, karena mereka tidak tahu apa maksud kedatangan orang kota itu ke desa mereka. Dan apa tujuan mereka.
''Maaf Pak kades. Ini maksudnya tanah apa ya?'' tanya ustadz Karim.
''Begini Pak, orang-orang ini mau membeli tanah yang ada di desa kita ini, untuk berapa tempat saja. Dan mereka ingin membeli tanah peninggalan Pak Rahman dan Bu Lilis,'' jawab Pak kades.
Pak Sury dan ustadz Karim melebarkan mata mereka setelah mendengar penjelasan dari Pak kades.
''Kenapa harus milik mereka Pak. Bukannya tanah itu sudah menjadi milik Aulia. Dan saya yakin Aulia tidak akan mau menjual tanah itu apa lagi tanah itu adalah peninggalan kakek-neneknya,'' ucap Pak Sury.
Ustadz Karim hanya menganggukkan kepalanya dia sangat setuju dengan perkataan Pak Sury.
''Aulia itu siapa Pak?'' tanya Bayu pemuda dari kota itu.
''Dia adalah cucu pemilik tanah tersebut yang ingin Anda beli Pak,'' jawab Pak kades.
''Saya tidak peduli siapa pun dia, yang saya butuhkan adalah tanah itu! Bagaimana pun caranya saya harus memiliki tanah tersebut. Sebab Anda sudah menerima uang dari saya!'' ujar Bayu ketus.
''Saya tidak percaya ini Pak, bahwa bapak sudah menerima uang dari mereka!'' ucap ustadz Karim.
Ustadz Karim dan pak sury pun pergi dari rumah pak kades meninggalkan orang-orang kota itu.
''Saya tidak bisa percaya ini, ustadz. Pak kades menjual tanah milik pak Rahman dan Bu Lilis tanpa sepengetahuan Aulia yang berhak untuk semua itu!'' ucap Pak Sury.
''Sepertinya uang sudah mengubah pak kades menjadi seperti ini. Bagaimana jika Aulia tahu soal ini pasti dia akan sedih dan marah!'' ujar ustadz Karim.
Siang itu Aulia berada di perkebunannya disana dia membersihkan kebun itu sebab sudah lama dia tidak datang untuk sekedar melihat kebunnya.
''Aulia, ayolah kita pergi menemui orang-orang kota itu, aku sangat penasaran kehadiran mereka di desa ini,'' ajak Bara yang duduk di dalam pondok yang ada di kebun Aulia.
''Kalau kau begitu penasaran sebaiknya kau saja yang pergi, aku masih banyak pekerjaan disini,'' sahut Aulia tanpa melihat ke arah Bara.
''Ya sudah kalau begitu aku pulang, nanti malam kita ketemu di mesjid ya.'' Bara pun meninggalkan Aulia di kebunnya.
.
.
Bersambung
__ADS_1