
Mendengar penjelasan Bara Aulia hanya bisa terdiam.
''Tapi itukan hanya mimpi,'' ujar Aulia.
''Iya, kalau cuma mimpi sih ngak apa-apa yang jadi masalahnya ini kamu lihat wujudnya aslinya,'' sahut Bara.
Mereka pun terdiam tanpa bicara satu sama lain.
''Jangan-jangan kamu keturunan Harimau putih?'' tanya Bara menatap Aulia.
''Kamu jangan bicara seperti itu!'' sahut Aulia.
''Aku bicara apa adanya coba kamu dahulu konsentrasi,'' ujar Bara.
''Buat apa?'' tanya Aulia.
''Ya mana tahu kamu akan berubah wujud,'' sahut Bara sambil menatap Aulia.
''Kamu sudah gila! apa, aku ini manusia biasa mana bisa berubah, kalau kamu mau kamu saja yang konsentrasi,'' sahut Aulia.
Bara pun mundur dan mulai duduk bersila di depan Aulia dan mulai konsentrasi, Aulia hanya bisa melihat tingkah lucu sahabatnya itu.
''Kamu mau apa?'' tanya Aulia.
''konsentrasi,'' sahut Bara sambil menutup kedua matanya.
Tiba-tiba Aulia mendengar sesuatu dari dekat Bara.
''Bara kamu kentut ya?'' tanya Aulia sambil menutup hidungnya. Dan memukul sahabatnya itu.
''Iya maaf konsentrasi aku gagal,'' sahut Bara sambil tertawa.
''Kayaknya aku harus pulang nih'' ujar Aulia Sambil turun dari atas pondok.
''Kenapa? pulang?'' tanya Bara yang masih duduk di atas pondok.
__ADS_1
''Kamu gak lihat apa hari sudah mulai magrib,'' ujar Aulia.
''Ya sudah aku juga mau pulang kita pulang bareng saja,'' sahut Bara. Saat hendak melangkah keluar pondok tiba-tiba hujan turun begitu lebat.
''Lah kok tiba-tiba hujan?'' tanya Bara.
''Ya mau bagaimana lagi sudah waktunya hujan turun,'' sahut Aulia.
''Iya sih tadikan gak mendung tiba-tiba saja hujan,'' ujar Bara.
Mereka pun kembali masuk ke dalam pondok.
''Udah jangan di pikirkan sebaiknya kita salat di sini saja,'' ujar Aulia.
Bara menganggukkan kepalanya, mereka pun mengambil air wudhu dengan air hujan yang turun.
...DI RUMAH PAK RAHMAN...
Pak Rahman dan Bu Lilis menunggu Aulia pulang. Mereka sangat khawatir karena Aulia belum pulang juga, sedangkan diluar hujan semakin lebat.
''Bapak juga tidak tahu Bu, tadi katanya dia pergi sama Bara, tapi mereka belum juga pulang,'' sahut Pak Rahman yang berdiri di dekat jendela begitu pun dengan sang istri. Mereka melihat keluar jendela hujan semakin lebat diluar sana, belum terlihat tanda-tanda kapan berhentinya hujan.
''Apa sebaiknya Bapak pergi ke rumah Bara untuk pastikan apa Aulia ada di sana,'' ujar Pak Rahman.
''Jangan pak, hujan sangat lebat Bagaimana cara kita bisa pergi kesana, kita tunggu saja sebentar lagi,'' sahut Bu Lilis.
''Baiklah Bu,'' sahut Pak Rahman.
...DI PONDOK...
''Aduh... bagaimana bisa pulang kalau seperti ini hujannya,'' gumam Bara, Bara berdiri diluar pondok sendirian, karena Aulia selesai salat dia selalu berzikir, Bara melihat sahabat itu sambil tersenyum.
''Saya sangat beruntung punya sahabat seperti dia, udah ganteng soleh juga, kalau saja aku ini, seorang wanita udah pasti aku sudah jatuh cinta sama dia,'' Batin Bara.
Tiba-tiba Bara mendengar suara mengaum tidak jauh dari pondok itu, dia menoleh kiri kanan. Tetapi tidak terlihat siapa-siapa karena cuaca terlalu gelap lagi-lagi dia mendengar seperti suara kayu patah yang di injak, karena takut Bara pun masuk kedalam pondok dan menutup pintu pondok tersebut.
__ADS_1
''Aulia-Aulia,'' panggil Bara dia sudah merasa ketakutan, Aulia segera mengusap wajah nya.
''Ada apa?'' tanya Aulia.
''Aku mendengar suara harimau diluar sana,'' ujar Bara.
''Kamu kalau bicara yang benar, jangan menakutiku,'' sahut Aulia dia sendiri juga merasa takut.
''Sumpah aku tidak bohong aku mendengar suaranya,'' ujar Bara mereka pun diam.
''Aulia-Aulia ini kakek,'' ucap suara itu dari luar.
''Kamu sudah gila! apa, kakek ku kamu bilang harimau,'' ujar Aulia dia pun berjalan menuju pintu pondok.
''Jangan Aulia aku yakin itu bukan kakek kamu, karena kakek Rahman tidak tahu kalau kita ada di sini,'' ujar Bara menghentikan langkah Aulia.
Aulia pun kembali mendekati Bara dia tidak jadi membuka pintu.
Tapi kali ini suara itu berubah seperti, suara orang tuanya Bara.
''Nah, itu suara Bapak aku kok mereka bisa tahu kita ada di sini?'' tanya Bara.
''Aku juga tidak tahu coba kita lihat dulu apa benar itu mereka atau bukan,'' sahut Aulia.
''Aku takut kalau itu bukan mereka bagaimana,'' ujar Bara sambil memegang tangan Aulia, mereka terus berjalan mendekati pintu.
''Kamu jangan takut, nanti aku juga bisa takut,'' sahut Aulia.
Saat mereka sampai di pintu dan mereka membuka pintu betapa terkejut nya mereka sosok itu...
Bersambung
LIKE DAN KOMENTAR JANGAN LUPA KASIH HADIAH VOTE DAN BUNGANYA
Hanya CERITA FIKSI
__ADS_1