Harimau Aulia

Harimau Aulia
warga seberang


__ADS_3

Di tengah malam itu para warga seberang, mendatangi rumah Ghani, orang tua Ghani sedang tertidur lelap, mereka tidak memiliki perasaan apapun malam itu.


"Pak sepertinya desa sudah sepi, apa rencana kita selanjutnya?" tanya salah satu warga yang ingin membakar rumah Ghani.


"Malam ini juga kita harus membakar rumah siluman ini, kalau tidak kita akan terus dalam bahaya," jawab orang kedua.


Mereka berempat segera melakukan rencananya untuk membakar rumah Ghani, warga tersebut menyiramkan minyak ke arah rumah itu. Mereka segera menyalakan api di ujung obor mereka, dan melemparkan obor tersebut. Dengan cepat api menjalar membakar rumah itu. Lalu mereka pun meninggalkan rumah tersebut.


"Pak, bangun Pak rumah kita terbakar!" pekik sang istri.


Suami istri itu segera keluar dari kamar mereka. Namun, di luar api semakin besar hingga mereka tidak bisa kemana-mana para warga membantu untuk memadamkan api, dengan menyiramnya dengan air.


Namun, apa daya warga tidak mampu memadamkan api tersebut yang terus menyala dengan besar, dan orang tua Ghani terbakar di dalam sana.


DI DESA INDAH


warga desa indah mengetahui kabar terbakarnya rumah Ghani, mereka pun berduyun-duyun mendatangi desa seberang.


"Pak mau pada ke mana, malam-malam seperti ini?" tanya Bara yang hendak pulang ke rumah bersama Aulia.


"Apa kalian tidak tahu? kalau ada kebakaran di desa seberang?" tanya seorang warga.


"Terbakar kenapa pak?" tanya Aulia.


"Saya juga kurang tahu, lebih baik kita kesana saja," jawab orang itu.


Aulia dan Bara menganggukkan kepala, mereka mengikuti warga yang ingin pergi ke desa seberang.


Sampainya warga desa indah, meraka melihat orang tua Ghani sudah meninggal. Dan wajah mereka penuh dengan luka bakar.


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," ucap seorang warga desa indah. Mereka begitu ngeri melihat keadaan orang tua Ghani.


"Pak, bukannya mereka orang tua Ghani?" tanya Aulia kepada salah seorang warga seberang.


"Benar Nak," jawab orang tua itu.

__ADS_1


Aulia kembali bertanya kepada orang tua itu, "Apa yang sudah terjadi Pak? Kenapa rumah mereka bisa terbakar?" tanya Aulia.


"Saya juga kurang tahu, sebab kemarin malam Pak kelapa desa kami, ingin mengusir mereka dari desa ini, tetapi secara tiba-tiba malam ini rumahnya terbakar," sahut orang tua itu.


Aulia melihat ke arah rumah yang sudah terbakar itu, dia sangat khawatir kalau Ghani akan menuntut balas untuk semua kejadian ini. Karena Aulia tahu bahwa Ghani adalah seorang siluman ular.


"Kalau boleh tahu Pak, kenapa warga ingin mengusir orang tua Ghani?" tanya Bara.


"Karena Ghani telah menghabisi dua warga, saat itu dia mengubah wujudnya menjadi ular," jawab orang tua itu.


Setelah melihat kejadian kebakaran tersebut, warga desa indah kembali pulang, begitu juga dengan Aulia dan Bara.


"Ternyata Ghani sudah berani menujukan wujud aslinya kepada warga seberang." Bara terus berjalan bersama dengan Aulia.


"Bukan hanya itu, tapi dia juga sudah membunuh warga, tapi kenapa kita tidak mengetahui semua ini!" Ucap Aulia.


"Sudahlah sekarang kita pulang saja dulu, besok kita akan kesana lagi," ujar Bara.


Aulia mengangguk dan mereka pun berpisah di perjalanan desa, karena rumah mereka berjauhan, saat berjalan pulang tidak lupa Aulia, menoleh ke arah penginapan tersebut, di dalam sana sudah begitu gelap dan sunyi. Aulia kembali berjalan menuju rumahnya. Sampainya di kamar Aulia segera membaringkan tubuhnya.


Saat Aulia ingin memejamkan mata. Seekor harimau putih masuk ke dalam kamarnya bersama dengan sang kakek Raja Agra. Harimau tersebut segera mengubah wujudnya menjadi manusia.


"Sudah terjadi sesuatu di sana, Anak dari Bagaskara dia sudah berani menggunakan pedang itu, kakek hanya ingin kau dan Bara mengambil kembali pedang tersebut kalau tidak Bangsa kita akan celaka," ujar sang kakek.


"Baik kakek saya dan Bara akan secepatnya mendapatkan kembali pedang itu," jawab Aulia, " tapi kakek, saya butuh bantuan dari kakek," pinta Aulia.


"Bantuan apa yang kau inginkan?" tanya Raja Agra.


"Saya ingin kakek perintahkan beberapa murid untuk menjaga desa seberang, karena Gahni sang siluman ular itu, sudah berani menampakkan wujudnya kepada warga desa itu." pinta Aulia.


"Baik kakek akan melakukan apa yang kau inginkan, kau dan Bara berhati-hatilah dengan musuh kalian," ucap Raja Agra. Tidak lama mereka pun menghilang dari rumah itu.


"Masalah ini tidak akan pernah habis, rasanya saya ingin sekali untuk hidup tenang, tapi apa boleh buat masalah terus datang kepadaku," gumam Aulia, dia pun kembali membaringkan tubuhnya.


Pagi itu di desa seberang, Pak kelapa desa dan semua warga sudah berkumpul di balai desa mereka. Pagi itu Pak Kelapa desa begitu marah kepada warganya yang sudah berbuat jahat kepada orang tua Ghani. Karena telah membakar rumah tersebut dan membuat suami istri itu meninggal.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian mengakui, siapa yang telah membakar rumah orang tua Ghani! karena ulah kalian kita semua tidak akan bisa hidup tenang, karena Ghani akan menuntut balas kepada kita!" ujar Pak kepala desa saat ini dia benar-benar marah kepada warganya.


Semua orang pun terdiam tidak ada yang mau mengakui atas apa yang terjadi di desa itu.


"Pak apa yang harus kita takutkan, Ghani, tidak akan menyakiti kita dia pasti takut kembali ke desa ini, karena orang tuanya sudah gak ada!" teriak seorang warga.


"Justru itu, dia akan menuntut balas kepada kita, dia akan menghabisi kita atas apa yang terjadi kepada orangnya!" Jawab Pak kelapa desa.


DESA INDAH


Aulia yang hendak pergi, dia melihat Naura dan kaila di luar penginapan tersebut, tapi Aulia tidak mempedulikan mereka berdua, dia terus berjalan menjauh.


"Sepertinya Aulia, marah sama lo deh Naura," ucap Kaila.


"Kenapa dia harus marah sama aku, itukan kesalahan dia sendiri karena sudah melukai kamu," jawab Naura.


"Tapi kok aneh ya? Ra, kenapa Aulia tidak mengakui kesalahannya?" tanya Kaila.


"Maling mana mau ngaku maling sih!" upat Naura.


"Kok kamu ngomongnya gitu? Biasanya kamu yang selalu membela Aulia, tapi kenapa kamu malah membencinya?" tanya Kaila.


"Saat dia menyakiti kamu, sejak itulah aku mulai tidak percaya sama dia, aku pikir dia tidak akan menyakiti seorang wanita, tapi apa sama sajakan," jawab Naura.


"Tapi gue malah kepikiran," ujar Kaila.


"Kepikiran apa?" tanya Naura.


"Jangan-jangan yang ngelakuin ini sama gue, bukan Aulia, tapi siluman. Seperti waktu itu yang sempat Bayu ceritakan yang wajahnya menyerupai Aulia." Kaila menatap Naura.


"Kok kamu baru ngomong sekarang? Kan aku jadi merasa bersalah sama Aulia," jawab Naura.


"kan gue udah ngomong salam lo, jangan gegabah! Tapi lo gak mau dengar," sahut Kaila.


Naura terdiam wajahnya berubah khawatir dia mulai merasa bersalah atas apa yang sudah dia katakan kepada Aulia waktu itu.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2