
"Aulia, apa kita bisa bicara sebentar," ucap Pak Sury.
"Bisa Paman, apa Bara, juga ikut?" tanya Aulia.
"Kita berdua saja biarkan Bara, di sana," jawab Pak Sury.
Aulia menganggukkan kepala, Aulia meninggalkan rotan-rotan itu disana, dia segera mengikuti Pak Sury yang ingin bicara dengannya di tempat lain.
"Paman mau bicara apa?" tanya Aulia.
"Mmm... Paman mau tanya Bara, kan? dekat dengan kau? dia juga sering dengan kamu dari pada dengan Paman, apa kau tahu selama ini Bara, pergi ke mana saja? Sebab kalau dia pergi pasti pulangnya berhari-hari," ujar Pak Sury.
Aulia Masih terdiam dia tidak bisa memberitahu Pak Sury ke mana saja Bara, pergi selama ini Aulia, juga tidak mungkin memberitahu siapa Bara, sekarang. Pastinya Pak Sury akan terluka jika mengetahui putra satu-satunya itu, seorang harimau jadi-jadian.
"Aulia, kenapa kau diam saja? beritahu Paman ke mana saja Bara, pergi," ujar Pak Sury membuyarkan lamunanku.
"Bara sering pergi berkebun Paman, bahkan dia sering tidur di pondok perkebunan. Katanya dia tidak ingin melihat Paman ke lelahan, dia juga sering pergi ke hutan untuk mencari rotan-rotan disana, dan aku juga pergi bersama dengan Bara," jawab Aulia, berharap Pak Sury percaya dengan apa yang di katakan olehnya.
"Ya sudah Paman, kalau gitu saya kembali mengumpulkan rotan tadi," ujar Aulia dia pun segera pergi meninggalkan Pak Sury disana.
"Aulia, kau dari mana saja?" tanya Bara mengerutkan keningnya.
"Biasa dari belakang," sahut Aulia, "Sudah jangan kau pikirkan terus tentang Pria itu," ucap Aulia.
Bara menganggukkan kepala, dia pun segera membantu Aulia mengumpulkan rotan yang akan di bawa pulang.
Sampainya di rumah Bara, Aulia, pun segera berpamitan kepada Pak Sury untuk pulang," Paman saya pulang dahulu ya."
"Baiklah hati-hati dijalan," ucap Pak Sury.
__ADS_1
Aulia menganggukkan kepala, dia pun segera pergi dari rumah itu.
Saat Aulia membuka pintu rumahnya dia begitu terkejut melihat keadaan rumahnya yang seperti kapal pecah. Kursi kayu itu berserakan dimana-mana bahkan meja tempat dia makan selama ini patah berantakan.
"Apa yang terjadi disini? apakah rumahku ke masukkan rampaok?" Aulia berjalan menuju kamarnya disana juga berantakan tempat tidurnya sudah bergeser dari tempatnya. Pakaian juga berserakan dimana-mana. Dengan cepat Aulia berlari ke arah lemari pakaiannya meskipun, disana tidak ada barang-barang yang aneh, hanya saja ada beberapa uang kertas tersimpan di dalam lemari itu, tetapi uang itu sama sekali tidak tersentuh.
"Apa yang sebenarnya, mereka cari?" Aulia masih bingung dengan keadaan rumahnya. Yang berantakan itu.
Aulia, mendengar suara kaki orang berlari di belakang rumahnya, Aulia pun segera berlari melihat siapa yang berada diluar sana.
"Siapa mereka? apa tujuan mereka sebenarnya?" Aulia melihat beberapa orang berlari menjauh menuju pegunungan.
"Aku harus mencari tahu siapa mereka." Aulia segera mengejar orang-orang tersebut.
"Berhenti kalian!" Hardik Aulia.
Orang-orang itupun berhenti mereka semua menoleh ke arah Aulia, yang berada di belakang mereka. Mereka semua menggunakan topeng Kera.
"Siapa kalian? berani sekali kalian masuk ke dalam rumah saya!" Aulia masih menatap lurus ke arah orang-orang yang menggunakan topeng Kera tersebut.
"Serahkan kitab harimau putih itu kepada kami!" gertak orang pertama. Mereka ada berenam orang, kini mereka mengelilingi Aulia.
"Sampai matipun, saya tidak akan pernah menyerahkan kitab ini kepada kalian!" Aulia mulai menyerang mereka satu persatu.
Mereka pun mengubah wujud mereka menjadi kera, yang bertubuh besar dengan gigi taring yang tajam dan kuku hitam yang panjang. Mereka pun mulai menyerang Aulia.
"Ternyata mereka semua adalah siluman Kera, dari mana asal mereka?" batin Aulia.
DI TEMPAT LAIN
Bara, yang tadinya sedang tidur nyenyak tiba-tiba saja dia terbangun, dia merasa ada sesuatu yang terjadi kepada Aulia. Dengan cepat dia berdiri dan menghilang dari kamarnya.
__ADS_1
Bara, dan Aulia, segera mengubah wujud mereka menjadi harimau putih. Dan segera Menyerang siluman itu bersama. Mereka bertarung di pegunungan yang tidak jauh dari desa tersebut, dari kejauhan beberapa murid Raja Agra datang untuk membantu Aulia dan Bara, yang sedang bertarung itu. Mereka bertarung dengan sengit di pegunungan tersebut, mereka saling menyerang dengan ilmu masing-masing. Salah satu dari siluman kera itu terjatuh kesakitan, karena tidak sanggup melawan Aulia, Aulia yang begitu penasaran siapa sosok di balik topeng Kera tersebut. Dia segera berlari mendekati manusia kera itu. Dengan cepat Aulia meraih topeng yang menempel di wajah orang itu.
Betapa terkejutnya Aulia melihat wajah orang tersebut, dia adalah orang yang duduk bersebelahan saat berada di warung Gadis. Pantas saja orang itu bertanya tentang kitab tersebut.
"Kau!" Bentak Aulia.
Siluman itu langsung mendorong tubuh Aulia, hingga Aulia terjatuh ke tanah, siluman itupun segera pergi melompati pohon-pohon dan bergelayutan di dahan pohon. Di pegunungan tersebut, begitu juga dengan teman-temannya meraka pergi meninggalkan pegunungan itu.
Bara, dan murid-murid lainnya kembali mengubah wujud mereka menjadi manusia.
"Siapa mereka? para siluman kera itu?" tanya Bara, kepada seorang murid.
"Mereka siluman kera yang berasal dari hutan mati!" jawab salah satu murid.
"Apa hutan mati!" sahut Aulia.
"Betul, cucu Raja Agra, siluman itu berasal dari hutan mati. Kini mereka bersekutu dengan Bagaskara mereka semua menginginkan kitab itu. Setelah mereka berhasil mendapatkan pedang tersebut dan kini mereka juga menginginkan kitab itu. Mereka para siluman tidak akan pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan."
"Tapi bagaimana bisa? bukakah hutan itu tidak berpenghuni lagi? dan iya siluman macan kumbang juga sudah tidak berada disana!" jawab Aulia.
Bara hanya menganggukkan kepalanya dia setuju dengan apa yang di sampaikan oleh Aulia tentang hutan itu.
"Mereka masih disana! sewaktu-waktu mereka bisa datang kapan saja untuk menyerang kita, dan kalian juga harus ingat, bahwa dendam harimau kuning, kepada desa Indah tidak akan pernah hilang, mereka akan tetap menghancurkan desa itu. Berhati-hatilah kalian saudaraku, kita semua harus menjaga diri dan desa-desa kita," ucap sang murid.
"Baiklah saudaraku kami harus kembali ke hutan terlarang, dan iya kalian tidak perlu khawatir tentang desa seberang karena disana sudah ada murid yang menjaga desa itu."
Mereka pun segera pergi dari pegunungan tersebut, para murid itu kembali mengubah wujud mereka menjadi harimau putih, dan pergi meninggalkan Bara, dan Aulia.
Aulia, dan Bara, pun segera kembali ke rumah mereka masing-masing setelah tibanya di rumah. Aulia langsung mengobati lukanya sendiri yang sempat di cakar oleh siluman kera itu, Bara sudah menawarkan diri untuk mengobatinya, tetapi Aulia menolak dan menyuruh Bara untuk segera pulang ke rumahnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1