Harimau Aulia

Harimau Aulia
Anak buah ratu ular


__ADS_3

Naura masih memikirkan tentang mimpinya semalam dia tahu bahwa orang yang berwajah harimau putih itu adalah Aulia orang yang sangat dia kenal. Tapi dia juga tidak bisa menuduh karena menurutnya itu adalah sebuah mimpi Naura menganggap mimpi itu hanyalah sebagai bunga tidur saja. Dia pun tidak akan mempedulikan tentang mimpi itu.


''Naura kamu lagi apa diluar sendiri masih pagi gini?'' tanya Kaila yang baru datang.


''lagi malas saja di rumah diluarkan. Lebih segar,'' sahut Naura.


''Naura cerita dong tentang mimpi kamu semalam,'' ucap Kaila.


''Mimpi? aku sudah lupa tentang mimpi itu, aku hanya ingat kalau aku berada di dalam sebuah hutan itu saja,'' sahut Naura membohongi Kaila agar Kaila tidak terus bertanya.


''Cepat banget kamu melupakan mimpi itu,'' sahut Kaila.


''Mau bagaimana lagi kitakan manusia tempatnya lupa,'' sahut Naura.


Kaila mengangguk-angguk kepalanya sambil melihat ke arah ponselnya.


''Ho iya, aku lupa kasih tahu kalian kalau kita ada pekerjaan hari ini kita harus mencari tanaman ini,'' ujar Kaila memperlihatkan gambar tanaman dari dalam ponselnya.


''Ya sudah kamu kasih tahu Sadam dan Kenzo biar kita pergi sekarang sebelum hujan karena cuaca agak sedikit mendukung,'' ujar Naura.


Kaila Menganggukkan kepalanya dia pun segera pergi memberi tahu kepada Sadam dan Kenzo yang masih tidur.


''Siapa yang akan menemani kita di penggunungan itu?'' tanya Kenzo.


''Kita ajak Aulia sama Bara saja mereka berduakan lebih tahu tentang tanaman yang kita cari,'' sahut Kaila.



Mereka berempat pun pergi ke rumah Aulia di sana juga sudah ada Bara mereka sedang bercanda dengan Elang yang menjadi sahabat Aulia itu.


''Pas banget lagi Bara juga ada di sana kita tidak perlu lagi mencari Bara ke rumahnya,'' ucap Sadam.

__ADS_1


''Kalian panggil mereka aku akan menunggu di sini,'' ujar Naura.


Teman-teman Naura tidak ada yang curiga dengan sikap Naura yang seakan ingin menjauhi Aulia.


''Apa kalian tidak melihat cuaca mendung seperti ini nanti kalau kita sampai disana tiba-tiba hujan bagaimana?'' tanya Bara.


''Naura kenapa? dia berdiri di sana, apa dia teringat akan mimpi itu.Tapi mana mungkin dia juga bermimpi yang sama,'' batin Aulia.


''Cuaca cerah begini mana mungkin hujan,'' sahut Sadam.


''Kalau kalian tidak bisa menemani kami, biar kami pergi saja,'' ujar Kaila.


''Baiklah kami akan ikut kalian,'' ucap Aulia menghentikan langkah mereka.


Bara menjadi heran kenapa Aulia begitu mudah di ajak oleh mereka biasanya dia akan menolak untuk pergi dengan cuaca seperti ini.


Mereka pun segera pergi menuju penggunungan tersebut Aulia yang masih memegang burung Elang itu dia terus berjalan tanpa menoleh siapapun.


Elang tersebut pun langsung terbang seperti perintah Aulia. Elang itu pun mengeluarkan suara khasnya. Dan terbang menjauh.


''Kita sudah sampai carilah tanaman yang kalian butuhkan dengan cepat, takutnya nanti akan turun hujan,'' ujar Aulia.


Mereka pun Menganggukkan kepala dan segera berpencar untuk mencari tanaman itu.


Cuaca semakin gelap akan segera turun hujan di penggunungan itu.


Tiba-tiba saja Aulia mendengar suara Elangnya mungkin dia ingin memberi tahu akan sesuatu yang berbahaya, Aulia juga mendengar desisan ular, Aulia melihat di sekitar penggunungan tersebut dimana suara itu berasal.


''Ada apa Aulia apa kamu mendengar sesuatu?'' tanya Bara.


''Iya kamu tunggulah disini menjaga mereka, aku akan segera kembali,'' ujar Aulia dia pun pergi.

__ADS_1


''Jangan berani untuk mengganggu teman-teman saya jika kalian masih ingin hidup!'' ucap Aulia kepada siluman ular yang berada di dalam semak-semak tersebut. Dia tahu Siluman ular itu bersembunyi di sana.


''Berani! sekali kau bicara seperti itu kepada kami anak muda!'' sahut siluman ular.


''Pergilah sebelum saya menghabisi kalian!'' ujar Aulia.


''Berani sekali kau!'' sahut Siluman ular.


Mereka langsung menyerang Aulia. Meskipun Aulia sendiri melawan tiga Siluman ular tetapi mereka tetap tidak bisa melawan Aulia, Aulia bukanlah tandingan mereka.


''Beri tahu Ratu kalian jangan pernah, mengganggu warga desa ataupun teman-teman saya!'' ujar Aulia.


Mereka para siluman ular pergi menghilang dari tempat itu, Aulia kembali menemui teman-temannya.


Tidak lama. Hujan pun turun begitu lebat mereka semua berteduh di bawah pohon besar dan menutupi kepala mereka dengan daun talas.


''Di bawah daun talas ini aku duduk sendiri, menunggu hujan kapan akan berhenti!'' Sadam mencoba menghibur diri sendiri.


''Sadam hentikan nyanyian lo itu, suara lo gak enak banget bisa-bisa makhluk yang tinggal di penggunungan ini akan lari mendengar suara lo,'' ucap Kenzo.


''Baguslah kalau mereka pergi kita tidak perlu takut lagi jika pergi kesini,'' sahut Sadam.


Mereka semua pun tertawa mendengar Kenzo dan Sadam berdebat lucu. Hanya saja Aulia tidak tertawa mendengar semua itu.


.


.


.


.

__ADS_1


. BERSAMBUNG...


__ADS_2