Harimau Aulia

Harimau Aulia
kekuatan luar biasa


__ADS_3

"Kau disini ternyata, aku sudah mencari mu ke mana-mana," ucap seseorang dari belakang.


Aulia dan Hari menoleh ke arah orang itu.


"Bara! Kau sudah sembuh?" tanya Aulia namapak bahagia dari wajahnya melihat sahabatnya itu kembali sembuh.


"Aku tidak betah sakit berlama-lama," jawab Bara dia pun naik ke atas batu besar itu.


Hari hanya menatap Bara tanpa bicara.


"Hari kenapa kau bersama Aulia?" tanya Bara.


"Kenapa kau mengenali ku?" tanya Hari mengerutkan keningnya.


"Jelas saja aku mengenali mu, aku inikan." ucapan Bara terhenti saat Aulia menatapnya. Karena Aulia tidak ingin Hari mengetahui bahwa Bara adalah Gantala. Sebab Gantala memang berasal dari hutan terlarang.


"Kenapa kau berhenti bicara? Ayo bicara apa yang ingin kau katakan?" tanya Hari.


"Aku ingin bilang kalau aku mengenali mu dari Aulia, karena dia sering bercerita tentang kamu,'' ujar Bara.


DI RUMAH PONDOK BAMBU.


Bara dan Aulia mengucapkan terimakasih kepada Raja Agra dan juga kepada semua murid. Karena mereka ingin segera kembali ke desa indah.


"Kakek, Aulia dan Bara harus pergi sekarang, sebab di desa indah ada masalah yang harus kita lakukan," ucap Aulia kepada kakeknya.


"Baiklah, kalian berdua berhati-hatilah di jalan," ujar Raja Agra.


Aulia menganggukkan kepalanya dan mencium punggung tangan sang kakek, begitu juga dengan Bara.


Hari berdiri di pojokan bersama dengan kakak perempuannya, Aulia berjalan mendekati mereka.


"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya Hari dengan wajah sedih.


Aulia berjongkok di depan Hari.


"Iya aku harus pergi sekarang, nanti aku pasti akan kembali lagi tempat ini," ujar Aulia menatap lurus ke arah Hari.


"Baiklah aku akan disini bersama dengan kakek," ucap Hari.

__ADS_1


"Baiklah aku akan pergi sekarang, jadilah anak yang baik." Aulia pun kembali berdiri.


Aulia dan Bara segera pergi dari desa itu, mereka keluar dari gerbang gaib hutan terlarang. Mereka terus berjalan di tengah hutan.


"Ternyata kau juga bisa menenangkan hati anak kecil ya aku baru tahu," ucap Bara tersenyum lebar.


"Semua orang juga bisa," jawab Aulia.


"Bagiku tidak semua orang yang bisa menenangkan hati anak kecil, apa kau sudah siap untuk menikah?" tanya Bara sambil menggoda Aulia.


"Menikah dengan siapa? Dengan mu," ujar Aulia berjalan mendahului.


"Dasar kau ini, setiap kali aku bicara tentang pernikahan kau selalu ingin menikah dengan ku, aku jadi geli mendengarnya," ujar Bara.


Aulia hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya itu.


WILAYAH HUTAN BAGASKARA


Aidan dan Gavar sedang berbicara tentang kematian harimau putih.


"Aidan kau tampak sangat gembira atas kematian harimau itu," ucap Gavar.


"Kenapa?" tanya Gavar.


"Karena bukan tangan saya sendiri yang menghabisinya, tapi melalui orang kota bodoh itu!" ujar Aidan.


"Yang terpenting adalah dendam itu sudah terbalaskan!" ucap Gavar.


Saat mereka sedang berbicara seorang murid mendekati Aidan dan Gavar dan menyuruh mereka untuk menghadap Bagaskara. Segera.


"Tuan Aidan, guru memanggil mu," ujar sang murid.


Aidan menganggukkan kepalanya mereka pun segera pergi menghadap Bagaskara.


"Ada apa Ayah? Kenapa Anda memanggil kami?" tanya Aidan.


"Kapan kalian akan mendapatkan kitab itu. Ini sudah cukup lama aku ingin segera menghancurkan desa itu!" Bagaskara menatap anak dan muridnya.


"Ayah, Anda harus tahu Aulia bukanlah tandingan ku, jika Ayah menyuruh ku untuk menghabisi Gantala setidaknya itu lebih gampang untuk ku, tapi tidak untuk Aulia dia bisa menghabisi ku dengan mudah. Aku tidak ingin mati konyol di tangan Aulia sang harimau putih itu!" Ujar Aidan.

__ADS_1


"Kau akan Ayah berikan ilmu yang luar biasa hingga Aulia akan menderita, dan dengan mudah kau bisa mengambil kitab itu!" Bagaskara tersenyum miring.


"Tapi guru Aulia tidak sembarangan menyimpan kitab itu, dia menyimpan kitab itu di dalam tubuhnya bagaimana kami bisa mengambil kitab itu guru?" tanya Gavar.


"Itu yang harus kalian pikirkan sendiri, apa masalah sekecil seperti ini kalian bertanya juga kepada ku!" hardik Bagaskara.


DI DESA INDAH


"Bara kau ke mana saja? kali ini kau harus memberitahu Ayah ke mana kau pergi selama ini, Ayah tidak ingin kau pergi lagi seperti ini," ucap Pak Sury.


"Maaf Ayah, Bara belum bisa memberitahu Ayah ke mana aku pergi, suatu saat nanti aku pasti akan menceritakan semuanya kepada Ayah," batin Bara.


"Kenapa kau diam saja, apa kau tidak tahu Ayah mencari mu ke mana-mana bahkan sampai ke hutan!" Pak Sury begitu marah kepada Bara.


"Apa! Ayah pergi ke hutan hanya untuk mencari ku?" Tanya Bara terkejut.


"Tentu saja, kau tahu betapa khawatirnya Ayah saat kau tidak ada di rumah ke mana saja kau? Ini ha!" Pak Sury begitu khawatir jika Bara menghilang darinya.


"Bara hanya pergi ke hutan, untuk mencari semua ini," ucap Bara menujukan segulung rotan dan beberapa batang mambu yang di bawanya dari hutan. Untung saja Bara memiliki sebuah ide untuk membawa semua itu agar sang Ayah tidak terus bertanya ke mana dia pergi.


"Kau tidak perlu membawa semua ini, Ayah masih mampu mencarinya sendiri, dan Ayah masih mampu memberi kau makan," ujar Pak Sury dan pergi meninggalkan Bara di luar rumahnya.


"Ayah, tidak bisa menganggap ku seperti anak kecil terus! Aku sudah desawa Ayah, aku juga ingin membantu mu," ujar Bara mengikuti sang Ayah ke dalam rumah.


"Baik! Jika kau ingin membantu Ayah, maka jangan pernah pergi lagi, apa kau bisa berjanji." Pak Sury mengulurkan tangannya.


Bara yang begitu ragu-ragu menerima perjanjian itu, tapi bagaimana pun juga dia ingin menyenangkan hati Ayahnya, Bara menggenggam tangan sang Ayah.


"Baiklah Ayah, aku berjanji aku tidak akan mengulanginya lagi." Setelah mendengar perjanjian dari sang Ayah, Bara pun masuk ke dalam kamarnya.


HUTAN WILAYAH BAGASKARA


Disana Aidan sedang menyerap kekuatan yang diberi oleh Bagaskara, itu adalah kekuatan yang luar biasa yang bisa menyerupai wajah siapapun yang dia inginkan. Saat Aidan membalikkan badannya, Gavar begitu terkejut melihat sosok wajah itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2