
...
SELAMAT MEMBACA ...
"Bara, syukur kamu sudah pulang Ayah mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Pak Sury yang duduk di sebuah kursi kayu.
"Ada apa Ayah? apa ada masalah?" tanya Bara sambil duduk di samping Pak Sury.
"Ayah mau ngomong tentang orang kota tadi yang kita lihat saat di pasar," ujar Pak Sury.
Bara pun mulai mengingat-ingat kejadian itu, " Iya Yah, Bara ingat emangnya kenapa dengan orang itu?" tanya Bara. Menunggu jawaban dari sang Ayah.
"Tadi siang Ayah dan Pak ustadz Karim, pergi ke rumah Pak kades disana Ayah bertemu dengan mereka, dan kamu tahu apa? mereka ingin membeli tanah peninggalan Pak Rahman!" ujar Pak Sury.
Membuat Bara membelalakkan matanya.
"Kok bisa Yah?" tanya Bara.
"Ayah juga tidak tahu, kenapa Pak kades menjual tanah itu, tanpa sepengetahuan Aulia. Aneh kan?" Pak Sury menatap Bara.
Bara hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga merasa heran kenapa Pak kades menjual tanah itu.
"Sebaiknya kamu kasih tahu sama Aulia tentang semua ini, agar Pak kades bisa membatalkan rencananya itu," ucap Pak Sury.
"Iya Yah, nanti malam Bara akan beritahu semua ini kepada Aulia."
Bara sangat setuju apa yang di katakan oleh Ayahnya untuk memberitahu tentang penjualan tanah tersebut.
__ADS_1
Malam itu Aulia dan Bara bertemu di mesjid selesai salat isya mereka segera keluar dari mesjid tersebut. Ustadz Karim melihat ke arah Aulia dan Bara sebab dia begitu penasaran dengan dua anak muda itu. Tetapi ustadz Karim tidak berani untuk menyatakannya langsung karena dia tahu jika manusia harimau tersinggung mereka akan marah.
"Ustadz," panggil Bara, "ustadz kenapa melihat kami seperti itu?" tanya Bara tersenyum.
"Gak apa-apa, saya hanya kagum saja melihat persahabatan kalian berdua, teruslah seperti ini jangan pernah membenci ataupun berubah," ucap ustadz Karim dia pun segera pergi meninggalkan Aulia dan Bara yang masih berdiri di depan mesjid ini.
Bara pun teringat tentang pagi tadi saat ustadz Karim takut saat melihat dirinya.
"Ada apa? Kenapa kamu menatap ustadz Karim seperti itu?" tanya Aulia yang juga melihat ustadz Karim.
"Ayo ada yang ingin aku kasih tahu sama kamu, ini sangat penting buat kita." Bara dan Aulia segera pergi meninggalkan mesjid.
Aulia malah tertawa terbahak-bahak, melihat Bara mengajaknya ke warung Gadis.
"Kau mengajakku kesini, katanya mau bicara penting. Ternyata lapar!" Aulia tersenyum-senyum.
"Tentang Ustadz Karim? memangnya ada apa dengan ustadz?" tanya Aulia mengerutkan keningnya.
Bara pun menceritakan tentang Ustadz Karim kepada Aulia yang ketakutan saat melihat dirinya waktu itu.
"Menurut kau apa ustadz Karim, mengetahui siapa kita?'' tanya Bara, ''kalau tidak, tidak mungkin dia merasa takut saat melihat ku,'' ujar Bara menatap Aulia.
Aulia hanya diam saja, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan kepada ustadz Karim bagaimana cara dia menjelaskan kepada ustadz Karim, tentang dirinya. Jika memang ustadz Karim mengetahui itu semua.
''Kita harus menemui ustadz Karim, kita harus tanya sama dia, apakah dia tahu siapa kita.'' Aulia meletakkan tangannya di atas meja dan menoleh ke arah lain.
Saat Aulia dan Bara sedang menikmati makanan mereka di warung tersebut. Tiba-tiba rombongan orang kota mendekati warung itu. Mereka ingin memesan makanan ringan di tempat ini.
''Siapa mereka?'' tanya Aulia melihat orang itu.
__ADS_1
''Merekalah orang dari kota itu, yang aku ceritain sama kamu,'' jawab Bara.
''Mereka mau apa ke desa ini, apa Pak kades sudah mengetahuinya?'' tanya Aulia.
''Tentu saja tahu, aku lupa memberitahu kamu tentang ini,'' ucap Bara.
''Tentang apa?'' tanya Aulia.
''Tadi siang ayahku, memberi tahu aku tentang mereka, bahwa mereka ingin membeli tanah peninggalan Pak Rahman. Dan Pak kades sudah menyetujui itu!'' ucap Bara.
''Apa? Bagaimana bisa begitu tanah itu adalah milik kakek dan nenek ku, mana bisa di jual tanpa memberitahu ku!'' Aulia sangat marah mendengar semua itu, matanya memerah seakan dia ingin menghajar orang dari kota tersebut.
''Itu dia aku juga tidak mengerti. Kenapa Pak kades bisa memberikan tanah itu kepada mereka, Pak kades juga sudah menerima uangnya. Begitulah kata Ayahku.'' Bara dan Aulia melihat ke arah orang kota itu.
''Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menjual dan menyerahkan tanah itu kepada siapapun dan saya tidak ingin mereka merusak desa ini!..'' Batin Aulia.
''Sebaiknya malam ini kau jangan pulang ke rumah, karena aku tahu mereka pasti akan mencari kamu,'' ucap Bara.
''Tidak, aku akan pulang ke rumah, aku akan menghadapi mereka. Dan aku juga mau tahu apa tujuan mereka sebenarnya!'' Aulia mengalihkan pandangannya.
''Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku akan menemanimu untuk menghadapi mereka.'' Bara adalah sahabat yang baik untuk Aulia apapun yang terjadi Bara selalu ada.
.
.
.
Bersambung jangan lupa Vote ya
__ADS_1