Harimau Aulia

Harimau Aulia
kelapa desa penindas


__ADS_3

Malam itu setelah pulang dari warung Gadis, Aulia dan Bara segera pulang ke rumah mereka masing-masing.


"Sebaiknya aku mengaji mengirimkan doa untuk kakak dan nenek. Sebab pulang dari mesjid tadi aku tidak sempat untuk mengaji." Gumam Aulia dia pun berjalan menuju sumur untuk mengambil wudhu.


Tidak lama Aulia kembali ke kamarnya di sana dia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk berapa ayat.


46.Al-Ahqāf : 14


أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ


فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


46.Al-Ahqāf : 15


وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ


"Aulia." Panggil Bara sambil membuka pintu rumah itu, sebab saat dia panggil, Aulia tidak menyahutnya Bara pun segera masuk.


Bara berjalan mendekati kamar tidur Aulia di sana dia mendengar Aulia sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Aulia-Aulia aku sangat kagum sama kamu dan aku juga sangat beruntung punya sahabat seperti kamu ini, menyempatkan diri untuk mengaji, sedangkan aku masih begini-begini saja," Batin Bara, dia pun kembali berjalan menuju ruang tamu disana dia akan menunggu Aulia sebab dia sudah berjanji untuk membantu Aulia menghadapi orang kota itu.


Berapa menit berlalu Aulia pun selesai dengan mengajinya, dia pun segera keluar dari kamar. Dia sangat terkejut melihat Bara sudah berada di rumahnya.


"Bara sejak kapan kau disini? Kenapa kau tidak memanggil ku." Aulia berjalan mendekati Bara.


"Sudah cukup lama, aku dengar kau sedang mengaji gak mungkin kan aku memanggil kamu. Aku pun langsung masuk aja," jawab Bara.


Aulia duduk di samping Bara di ruang itu.


DI TEMPAT LAIN


Orang kota tersebut berada di rumah Pak kades meraka akan pergi ke rumah Aulia, dengan menggunakan mobil.


"Apa kita akan pergi sekarang?" Tanya pak kades.

__ADS_1


"Tentu saja Pak, saya ingin mendapatkan tanah itu dengan cepat saya tidak ingin berlama-lama di desa ini!" jawab Bayu pemuda dari kota itu.


Pak kades menganggukkan kepalanya dan mereka pun segera masuk kedalam mobil dan pergi.


Di dalam mobil, Bayu menayangkan tentang Aulia.


"Maaf Pak, saya ingin tahu tentang Aulia. Apakah dia akan memberikan tanah itu kepada saya?" tanya Bayu.


"Aulia itu dia adalah cucu pemilik tanah tersebut. Tapi hanya cucu angkat bukan cucu kandung. Dan saya yakin dia akan menjual tanah itu sebab dia bukan pemilikan yang sah tentang tanah itu," ujar Pak kades.


"Bagus kalau seperti itu, terus apa dia sudah menikah?" Bayu terus bertanya tentang Aulia.


"Belum dia masih sangat muda dan belum menikah, dia tinggal sendiri di rumahnya itupun rumah peninggalan kakek-neneknya." Pak kades menceritakan semua tentang kehidupan Aulia yang tidak memiliki apapun.


"Hemm... Menyedihkan sekali hidup pemuda itu!" Batin Bayu.


Tidak lama orang kota itu tiba di rumah Aulia. Mereka semua turun dari mobil, begitu juga dengan anak buah Bayu. Mobil mereka beriringan saat menuju rumah Aulia.


Bayu melihat rumah itu dia melihat sekeliling rumah tersebut rumah yang terbuat dari papan kayu tidak ada ke mewahan di sana seperti desa terpencil yang tidak pernah di masuki oleh orang luar. Itulah dalam pikiran Bayu saat ini.


Pak kades mendekati pintu utama rumah itu dan mengetuknya, " Assalamualaikum," ucap Pak kades.


"Sepertinya mereka sudah datang, cepat buka pintunya," pinta Bara.


"Pak kades ada apa? Siapa mereka?" tanya Aulia.


"Mereka ingin bertemu dengan kau Aulia," ujar Pak kades.


"Baiklah silahkan masuk." Aulia mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumahnya.


Bayu dan para anak buahnya masuk ke dalam rumah itu.


Saat Pak kades masuk dia melihat Bara sudah berada di dalam rumah," Bara kau disini?" Tanya Pak kades.


"Iya Pak, saya memang disini," jawab Bara yang sudah berdiri menunggu kehadiran mereka di rumah itu.

__ADS_1


Semua orang sudah duduk di ruangan tersebut. Tetapi Bayu masih melihat sekeliling rumah ini dia melihat setiap sudut rumah.


"Pak kades, apa tujuan bapak dan orang-orang ini untuk datang ke rumah saya?" tanya Aulia membuka percakapan lebih dulu.


Pak kades pun mulai menceritakan tujuan utama mereka datang ke rumah ini.


"Saya ingin kau menjual tanah peninggalan Pak Rahman, kepada orang ini! Bapak ini sangat menginginkan tanah itu untuk pembangunan tempat penginapan. Di desa kita ini?" ucap Pak kades.


"Maaf Pak. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menjual maupun memberikan tanah itu kepada siapapun, itu adalah milik kakek saya!" Aulia menatap tajam Pak kades Budin.


"Bisa saya bicara sedikit?" tanya Bayu dengan sombongnya.


"Iya silahkan tidak ada yang marah jika Anda ingin bicara!" ucap Aulia.


"Saya sudah memberikan uang kepada Pak kades ini, dan saya menginginkan tanah itu secepatnya. Dan saya juga tahu tanah itu bukanlah milik Anda, jadi untuk apa Anda harus mempertahankannya." Bayu menatap Aulia.


"Tanah itu tidak akan saya jual, sampai mati sekalipun tidak akan pernah!" Jawab Aulia.


"Saya ingin berbuat baik di desa kuno! Ini, setidaknya desa ini menjadi lebih baik dengan adanya penginapan itu." Bayu terus memaksa Aulia untuk memberikan tanah itu kepadanya.


"Tidak perlu ada penginapan di desa ini, dan Saya tidak ingin desa ini rusak oleh orang-orang kota seperti kalian! Sebaiknya kalian pergi dari rumah saya. Kalau perlu kalian kembali ke kota kalian jangan pernah membuat masalah di desa kami!" Aulia pun berdiri dan mempersilahkan mereka untuk pergi dari rumahnya.


"Aulia! Kau harus berpikir lagi tentang ini, ini semua untuk desa kita setidaknya desa kita ini bisa sedikit maju!'' bentak Pak kades.


Bara sangat terkejut mendengar Pak kades membentak Aulia.


"Pak, kenapa Anda harus membentak Aulia, itu tanah milik kakek dan neneknya terserah dia mau di apakan tanah itu. Kalau Aulia tidak ingin menjualnya ya sudah hargai ke putusannnya, bukan malah memaksanya seperti ini!" ucap Bara.


"Bara! Kau tidak berhak ikut campur urusan kami ini adalah urusan kami dengan Aulia!" ujar Pak kades.


"Hanya karena uang! Kau bisa menindas warga mu sendiri, kau itu seorang kepala desa seharusnya kau mengayomi dan melindungi warga Anda. Bukan malah sebaliknya!" Bara benar-benar marah melihat tingkah Pak Budin.


"Sebaiknya kalian pergi dari rumah saya! Sebelum saya benar-benar marah kepada kalian. Pergilah dari sini!" Bentak Aulia sambil memukul meja yang ada di depannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2