
Aulia yang tengah bertarung dengan Siluman bayangan, Bara pun segera datang untuk membantunya. Malam itu Aulia dan Bara menghabisi siluman bayangan tersebut
''Hancurlah kau siluman!'' ucap Aulia.
Siluman bayangan berteriak karena dia akan hancur menjadi debu.
''Inilah akibatnya jika mengganggu manusia,'' ucap Aulia.
''Apa yang sudah terjadi?'' tanya Bara setelah mereka berdua menghabisi siluman bayangan tersebut.
''Makhluk itu merasuki tubuh Naura sehingga Naura tidak sadarkan diri,'' sahut Aulia menatap siluman bayangan yang telah menjadi debu itu.
''Apa?'' tanya Bara terkejut mendengar perkataan dari Aulia.
''Aku harus pergi sekarang,'' ujar Aulia.
''Aku ikut,'' sahut Bara.
Mereka pun pergi ke rumah tempat anak kota itu tinggal. Di sana Bu Lilis masih menjaga Naura yang masih belum sadar.
''Nenek kenapa? Naura masih belum sadar juga?'' tanya Kaila.
''Nenek juga belum tahu, kenapa? Naura masih belum sadar, mungkin saja makhluk itu meninggalkan sesuatu di dalam tubuh Naura,'' ujar Bu Lilis.
Tidak lama Aulia dan Bara pun sampai di rumah itu dia melihat Naura masih belum sadar juga, Aulia mendekati Naura dia duduk di samping Naura.
''Kenapa? dia masih belum sadar?'' tanya Aulia.
''Ngak tahu, apa di desa ini ada seorang dokter?'' tanya Kaila.
__ADS_1
''Tidak ada di desa ini tidak ada dokter, hanya ada seorang tukang obat,'' ujar Aulia.
Aulia pun berdiri dari duduknya dan pergi keluar rumah tersebut, Bara mengikutinya keluar rumah.
''Kenapa? kamu meninggalkan dia, saat dia membutuhkan pertolongan dari kamu,'' ujar Bara.
''Aku tidak mungkin memperlihatkan kekuatanku kepada mereka,'' sahut Aulia.
''Tapi gadis itu akan mati jika kamu tidak membantunya untuk sembuh,'' ujar Bara.
''Aku tidak bisa membantunya mereka akan tahu siapa diriku!, lebih baik kita panggil pak Musim saja biar dia yang menyebuhkan Naura,'' sahut Aulia.
''Aulia ini bukan waktunya untuk kita berdebat, tidak ada waktu untuk kita memanggil pak Musim, gadis itu bisa mati kalau kita terlalu lama membiarkan dia seperti itu!'' ujar Bara.
''Terus aku harus bagaimana?'' tanya Aulia dia begitu bingung Aulia begitu takut jika mereka mengetahui siapa dirinya.
''Kamu bisakan untuk menghilangkan ingatan mereka, itu masalah gampang buat kamu, setelah Naura sembuh kamu bisa menghilangkan ingatan mereka,'' ujar Bara.
''Biar aku coba untuk menyembuhkan Naura,'' ucap Aulia.
Kenzo Sadam dan Kaila Bu Lilis menatap lurus ke arah Aulia.
''Kenapa? kalian menatap ku seperti itu?'' tanya Aulia.
''Apa? kamu yakin bisa menyembuhkan Naura?'' tanya Kaila.
Bu Lilis juga mesra takut kalau sampai mereka tahu siapa Aulia sebenarnya bisa sangat berbahya untuk dirinya dan juga warga desa.
''Insya Allah,'' sahut Aulia melangkahkan kakinya mendekati Naura.
__ADS_1
Aulia duduk bersila di samping Naura dan mengeluarkan tenaga dalamnya untuk di berikan kepada Naura agar racun yang di tinggalkan oleh siluman bayangan tersebut bisa hilang.
''Apa yang sedang dilakukan oleh Aulia?'' tanya Sadam berbisik kepada Kenzo.
''Diamlah gue sendiri juga gak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Aulia,'' sahut Kenzo.
Berapa menit berlalu akhirnya Nuara pun sadar mulutnya mengeluarkan darah kental yang berwarna hitam pekat bawah racun tersebut sudah keluar dari tubuhnya.
Bu Lilis segera menghapus darah yang mengalir dari mulut Naura dan memberinya segelas air putih agar dia lebih tenang.
''Apa? sudah terjadi?'' tanya Naura.
''Kamu kerasukan, untungnya ada Aulia dan nenek Lilis untuk membantu kamu,'' sahut Kaila.
''Aulia ilmu apa yang lo pakai, kok keren gitu kayak orang jaman-jaman dahulu bisa mengeluarkan tenaga dalam gitu?'' tanya Kenzo.
''Iya Aulia ilmu apa itu, apa? lo mau mengajari kita tentang ilmu itu,'' sahut Sadam.
Aulia tidak menjawab perkataan dari mereka, dengan hitungan detik Aulia menghilangkan ingatan mereka agar mereka melupakan apa yang sudah terjadi. Begitu juga dengan Naura Aulia juga menghilangkan ingatannya tentang semua itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG....