
Di perjalanan mereka di hadang oleh lima harimau jadi-jadian murid dari Bagaskara mereka mengaum keras di depan para warga, obor sudah di lempar ke arah harimau kuning.
''Bagaimana ini Pak apa yang harus kita lakukan sekarang?'' tanya warga.
''Kita lari saja Pak,'' ujar warga lainnya mereka sangat ketakutan melihat harimau-harimau itu di depan mereka.
Lima harimau jadi-jadian tersebut mengubah wujud mereka menjadi manusia, Bara dan Aulia terpaksa maju untuk melawan harimau-harimau itu.
''Apa yang harus kita lakukan?'' tanya Bara.
''Apa lagi yang bisa kita lakukan, kita harus menyerang! mereka kalau tidak kita semua akan mati disini,'' sahut Aulia.
''Tapi warga akan tahu siapa kita,'' ujar Bara.
''Kamu tenang saja biar aku yang akan mengatasi warga nanti,'' sahut Aulia.
Aulia membalikkan badannya ke arah warga yang ada di belakangnya. Dia mulai mengarahkan tangannya dan membaca ajian pelindung agar warga tidak kenapa-napa oleh harimau kuning itu. Para warga terheran-heran melihat gerak-gerik Aulia mereka bisa melihat Aulia tapi mereka tidak bisa keluar dari ajian pelindung tersebut.
''Apa yang sedang di lakukan Aulia?'' tanya warga.
''Tidak tahu Pak kita lihat saja apa yang sedang di lakukannya,'' sahut warga lainnya.
Hahahah... Harimau itu menertawakan Aulia dan Bara.
''Kalian mencoba untuk menutupi dari para warga siapa kalian sebenarnya tapi warga akan mengetahui siapa diri kalian yang sebenarnya,'' ujar harimau kuning itu yang bernama Gavar.
Harimau kuning langsung mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya dan mengarahkan ilmu itu kepada Aulia dan Bara untungnya mereka tidak mengenai ajian itu, mereka mulai pertarung satu sama lain dengan ciri khas mereka masing-masing dengan silat yang berbeda-beda Gavar sang murid Bagaskara melawan Aulia hingga mereka berdua mengubah wujudnya menjadi dua seekor harimau putih dan kuning mereka terus berkelahi dengan kuku tajam mereka terus menghujam satu sama lain. Warga yang melihat tidak percaya kalau Aulia dan Bara adalah Harimau putih yang sering mereka ceritakan dan yang mereka tunggu selama ini untuk menjaga desa mereka padahal Aulia dan Bara sudah lama beranda di dekat mereka. Tapi mereka tidak mengetahuinya.
''Saya tidak percaya kalau mereka berdua adalah harimau itu,'' ujar Warga.
''Sama Pak saya juga tidak percaya, coba cubit saya Pak,'' ujar warga lainnya. Warga yang di sampingnya pun mencubitnya dengan keras.
''Awuu!. Ini bukan mimpi Pak,'' ujarnya sambil mengusap-usap tangannya yang terasa sakit itu.
Tidak lama mereka pun lari terbirit-birit menjauhi Aulia dan Bara.
''Ingat kalian semua ini belum selesai kami akan terus menganggu kalian semua,'' ujar harimau kuning itu dan pergi.
Aulia dan Bara kembali mengubah dirinya menjadi manusia dan menoleh ke arah warga yang ada di belakang mereka.
__ADS_1
''Apa yang harus kita lakukan sekarang mereka sudah tahu siapa kita,'' ucap Bara.
''Jangan khawatir aku akan menghilangkan ingatan mereka tentang semua ini,'' sahut Aulia. Dia mulai membaca satu Mantera dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah para warga seketika itupun warga pingsan berapa detik saja Aulia dan Bara mendekati warga dan membangunkan mereka semua.
''Pak bangun Pak,'' ujar Aulia begitu juga dengan Bara membangunkan warga.
''Ada apa ini?'' tanya warga.
''Tidak ada apa-apa Pak, sebentar lagi kita akan sampai di desa,'' ujar Aulia.
Mereka semua kembali berjalan berapa jam kemudian mereka pun sampai di desa indah dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
...****************...
''Bagaimana tadi apa ketemu sama orang tua yang ada di hutan itu?'' tanya Bu Lilis.
''Tidak nek, tidak ada siapa-siapa disana,'' sahut Aulia sambil duduk di sebuah kursi.
''Kok bisa gak ada?'' tanya Bu Lilis mengerutkan keningnya.
''Gak tahu nek mungkin saja itu adalah makhluk halus yang menyerupai manusia,'' sahut Aulia.
''Kena kayu nek di hutan,'' sahutnya berbohong.
''Sebentar nenek ambilkan obat,'' ujar Bu Lilis sambil berdiri dari duduknya.
''Sini tangan kamu,'' ujar Bu Lilis yang sudah membawa obat rempah-rempahan yang telah di gilngnya Bu Lilis menghapus darah itu mengunakan lam dan air bersih.
Aulia meringis kesakitan saat tangannya di bersihkan, Bu Lilis pun meletakkan obat rempah-rempahan itu di tangan Aulia.
''Aghh,. Obat apa ini nek perih sekali,'' ucap Aulia.
''Cuma daun-daunan saja ini sangat bagus untuk luka seperti ini,'' sahut Bu Lilis.
Tangan Aulia di balut dengan kain putih yang bersih.
Bu Lilis kembali berjalan ke dapurnya untuk meletakkan obat-obatan itu.
''Aku berhapa nenek tidak tahu soal ini pasti dia akan khawatir bisa-bisa nenek akan melarangku pergi kemana pun,'' batin Aulia dia berdiri dari duduknya berjalan menuju kamar. Sampainya di kamar dia merobek bajunya yang terkena darah itu dan memakai pakaian yang lain.
__ADS_1
...****************...
....RUMAH PAK NUDIN...
Pak Nudin menarik napas panjang dia masih tidak percaya tempat itu hilang, rumah dan juga orang tua itu. Warga pun mulai mengejek dan memarahinya.
''Ada apa Pak kenapa? Bapak panik seperti itu?'' tanya Istri Pak Nudin.
''Tempat itu hilang Bu. Rumah dan orang tua itu juga hilang bahkan pohon yang sempat Bapak kasih tanda juga hilang sekarang warga sudah tidak percaya lagi sama Bapak mereka marah,'' ujar Pak Nudin.
''Sudahlah Pak itukan bukan salah Bapak mungkin saja itu jelmaan seseorang atau Makhluk-makhluk lainnya yang terpenting dia sudah mau menyelamatkan Bapak dari hutan itu,'' ujar Istri Pak Nudin yang Bu Mina.
Pak Nudin menganggukkan kepalanya dan duduk di samping sang istri. Pak Nudin dan Bu Mina adalah orang tuanya Gadis teman Aulia dan Bara.
...****************...
Warga yang sedang ngobrol di sebuah pondok ronda mereka menceritakan tentang kejadian Pak Nudin yang telah membohongi mereka semua. Mereka sudah tidak percaya lagi dengan apa yang di katakan oleh Pak Nudin, mereka sudah tidak peduli apapun yang terjadi mereka tidak akan mengikuti Pak Nudin lagi.
''Jangan salahkan Pak Nudin, pak mungkin saja dia benar yang melihat semua kejadian itukan cuma dia, kitakan tidak tahu jadi kita berpikir positif saja, bisa saja ada makhluk yang menjelma menjadi manusia lalu orang tua itu membantu Pak Nudin,'' ujar seorang warga.
''Iya bisa jadi sih,'' sahut yang lain.
''Seperti kata Pak Rahman dahulu kita juga tidak mempercayainya tapi apa yang terjadi semua itu benar-benar ada,'' ujar Warga.
''Iya betul Pak,'' jawab yang lainnya.
''Ya sudah saya mau pulang dahulu, saya tidak mau lagi mengingat tentang hutan terlarang itu saya sudah begitu takut,'' ujar seorang Warga.
Semua warga pun pulang ke rumah mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
__ADS_1
...BERSAMBUNG,... JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT NONTON IKLAN NYA JUGA YA GAK LAMA KOK... TIPS NYA... HANYA CERITA FIKSI SAJA....