
Raja Agra duduk di samping Bara sambil meletakkan telapak tangannya di atas dada Bara mencoba menghancurkan ajian pelumbuh dari dalam tubuh Bara. Dia mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya menyalurkan kepada Bara, begitu juga dengan Aulia membantu sang kakek untuk menyembuhkan Bara dari ajian pelumbuh itu.
Berapa Jam kemudian Bara sadar dari pingsannya dia mencoba menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya wajahnya yang masih begitu pucat dia terus mencoba untuk menggerakkan tubuhnya.
''Bara akhirnya kamu sadar juga, apa yang kamu rasakan sekarang?'' tanya Aulia.
''Alhamdulillah aku sudah merasa sedikit membaik,'' Sahut Bara sambil mengangkat tubuhnya.
''Biar aku bantu,'' ujar Aulia membantu Bara untuk bangkit dari tidurnya.
''Kenapa kita bisa berada disini?'' tanya Bara melihat sekeliling tempat itu.
''Aku membawa kamu kesini karena aku gak tahu cara menyembuhkan kamu, karena kamu terkena ajian pelumbuh,'' ujar Aulia.
''Ajian pelumpuh?'' tanya Bara, Aulia menganggukkan kepalanya.
Bara membayangkan kejadian saat dia bertarung melawan para siluman. Dan Gavar lah yang membuat dia menjadi lumpuh seperti sekarang.
''Apa aku akan sembuh?'' tanya Bara.
''Pasti kamu akan sembuh,'' sahut Raja Agra,''kamu harus banyak-banyak konsentrasi agar tenaga mu, kembali pulih,'' ujar Raja Agra.
''Baik guru saya akan melakukannya,'' sahut Bara.
Berapa jam berlalu. Subuh pun tiba, Aulia dan Bara masih berada di hutan terlarang itu mereka melaksanakan salat subuh di pondok yang terbuat dari pohon bambu itu bersama murid-murid lainnya.
__ADS_1
Setelah selesai salat subuh Bara dan Aulia meminta izin untuk pulang ke desa indah meskipun hari masih sangat subuh. Mereka memang harus pulang subuh itu takutnya anak kota tersebut melakukan sesuatu di desa.
''Kakek, Aulia sama Bara harus pulang sekarang,'' ujar Aulia sambil mencium punggung tangan sang kakek. Begitu juga dengan Bara mencium punggung tangan sang guru.
''Baiklah cucuku kalian harus berhati-hati di jalan.'' sahut Raja Agra melepaskan cucuk kesayangannya pergi.
Bara yang masih susah untuk berjalan Aulia pun merangkul sahabatnya itu bahkan sesekali Aulia menggendongnya. Mereka pun keluar dari hutan terlarang melewati gerbang yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
''Aulia apa sebaiknya kita jalan pintas saja, nanti kamu terlalu capek menggendong ku,'' ujar Bara yang masih berada di punggungnya.
''Emangnya ada jalan lain, selain hutan ini?'' tanya Aulia.
''Ada namanya hutan itu, hutan tungkus atau hutan kerucut ada cerita menarik di hutan itu,'' ujar Bara.
Aulia pun menurunkan Bara dari punggungnya. Mereka beristirahat sejenak di hutan itu, Aulia menurunkan Bara bukan karena dia kelelahan tapi dia ingin mendengar cerita mengenai hutan tungkus itu, Aulia memang menyukai cerita-cerita seperti itu.
''Iyalah agar aku bisa pergi ke hutan itu, aku penasaran dengan tempatnya seperti apa apakah sama seperti hutan ini,'' ujar Aulia.
''Yang namanya hutan rimba pasti sama, cuman cerita di dalamnya berbeda-beda, di hutan itu pernah terdengar suara gendang Rebana atau Rapai, dia hanya berbunyi di waktu malam saja, dan hari yang di tentukan oleh mereka,'' ujar Bara.
''Di tentukan oleh mereka, mereka itu siapa?'' tanya Aulia.
''Mereka adalah. Wali Aulia tujuh mereka itu ulama hanya saja suara Rapainya yang terdengar, kalau suara zikir mereka tidak terdengar,'' ujar Bara.
''Kamu tahu dari siapa cerita ini, terus apakah kamu pernah mendengarnya?'' tanya Aulia.
__ADS_1
''Dari kakek kamu, kami sering mendengar cerita-cerita seperti ini, tapi aku belum pernah mendengarnya karena aku juga belum pernah ke hutan itu'' Sahut Bara.
''Kok kamu gak pernah cerita sama aku, apa kamu tahu banyak tentang hutan?'' tanya Aulia.
''Ya ada berapa hutan yang aku tahu,'' sahut Bara singkat.
''Apa cerita ini benar-benar ada atau hanya sebuah cerita saja,'' ujar Aulia.
''Cerita ini benar-benar ada dan nyata,'' sahut Bara.
Saat Aulia dan Bara sedang beristirahat seperti ada yang mengintai mereka, Aulia dan Bara saling tatap. Mereka pun menoleh kebelakang ternyata burung elang itu mengikuti mereka sampai di hutan tersebut.
''Hai kau kenapa mengikuti kami sampai kesini apa mau mu dan siapa kau sebenarnya!'' ujar Bara.
Elang itu berbunyi dengan suara khasnya dia terbang menghampiri Aulia dia berdiri di atas tangan Aulia.
''Sepertinya elang ini menyukai kamu,'' ujar Bara menatap burung elang itu.
.
.
.
. ... BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT DAN TIPS
didalam cerita ini ada nyata dan fiksi.