
Ustadz Karim masih penasaran dengan Bara, karena dia tahu kalau Bara hanyalah seorang manusia biasa dan ke dua orang tuanya juga manusia biasa dia hanya penasaran kenapa Bara bisa menjadi harimau.
"Kenapa Ustadz menatap saya seperti itu? apa ada yang aneh dengan diri saya?" Tanya Bara yang masih berdiri di depannya.
"Tidak ada, tapi saya hanya penasaran dengan kamu, kenapa kamu bisa menjadi harimau. Sedangkan saya hanya mengenali kamu sebagai manusia biasa begitu juga dengan orang tua mu meraka juga manusia biasa," ujar ustadz Karim.
Bara melihat ke arah Aulia dia tidak tahu harus jawab apa atas pertanyaan Ustadz Karim kepada dirinya.
"Ceritanya panjang Ustadz, kami tidak bisa menjawab semuanya, intinya adalah Bara seorang harimau putih sama seperti saya," jawab Aulia.
Ustadz Karim hanya menganggukkan kepalanya dia sangat mengerti reputasi manusia harimau, meraka tidak mungkin akan menceritakan semuanya kepada manusia.
"Apakah Ayah kau tahu, bahwa kau adalah harimau?" Tanya sang ustadz.
Bara menggelengkan kepalanya bahwa Ayahnya tidak mengetahui tentang semua ini.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua ini kepada Ayah mu?" tanya sang ustadz.
__ADS_1
"Saya tidak tahu ustadz, sampai kapan saya harus menyimpan semua ini dari Ayah saya," jawab Bara.
"Sekarang ini hanya Ustadz seorang yang mengetahui tentang kami, jika Ustadz berani buka mulut menceritakan tentang kami, kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan desa ini." Aulia menatap sang ustadz.
"Apa kau tidak bisa percaya dengan saya?" tanya sang ustadz.
"tidak mudah bagi kami untuk bisa percaya kepada siapapun, tapi kau adalah seorang ustadz, kami akan mencoba untuk mempercayai Anda," ucap Aulia.
Malam itu sudah begitu larut Bara dan ustadz Karim sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Malam itu Aulia memebuka kitabnya dia ingin mempelajari ilmu baru dari kitab tersebut. Dia mempelajari ilmu menghacurkan wajah. Aulia ingin mengetahui siapa yang sudah menggunakan wajahnya.
Dia duduk bersila dan mulai berkonsentrasi di samping tempat tidurnya. Aulia mencoba menyerap kekuatan barunya itu hingga tubuhnya melonjak kesakitan merasakan kekuatan itu memasuki tubuhnya hingga menjalar kedalam urat-uratnya.
"Ada apa Ayah? Kau terlihat gelisah?" tanya Aidan.
"Saat ini kitab itu sedang di pelajari oleh Aulia, kau harus berhati-hati dengan dia.
"Apa yang harus aku lakukan Ayah?" tanya Aidan menatap sang ayah.
__ADS_1
"Tidak ada yang harus dilakukan selain mendapatkan kitab tersebut. Jika kita tidak memiliki kitab itu, maka kita semua bisa di hancurkan oleh seorang Aulia," ucap Bagaskara.
"Ayah tahukan aku tidak menginginkan kitab tersebut, aku hanya menginginkan pedang itu, dan sampai sekarang pun pedang itu belum aku dapatkan!" Ujar Aidan.
"Putraku, kau belum tahu tentang kekuatan kitab itu, jika kita sudah memilikinya semua hutan dan semua wilayah bisa kita kuasai, bahkan para siluman akan tunduk kepada kita! Semua kekuatan yang luar biasa bisa kita miliki!" Ucap Bagaskara, "dan kau adalah satu-satunya putraku aku hanya berharap kau segera mendapatkan kitab itu dari tangan Aulia." Bagaskara menatap Aidan.
Aidan dan Gavar pergi meninggalkan kerajaan Ayahnya, mereka pergi menuju hutan mati, mereka ingin meminta bantuan kepada Elgar sang macan kumbang. Namun, sampainya di tempat itu. Mereka melihat hutan itu sudah seperti hutan mati tidak berpenghuni lagi, bahkan mereka tidak bisa memasuki hutan tersebut.
"Sepertinya hutan ini memang sudah mati, semenjak Aulia menggunakan pedang tersebut untuk menghabisi Elgar, hutan ini juga hancur dan gelap," ujar Gavar.
"Lalu ke mana kita akan mencari Elgar? apa dia benar-benar sudah mati terkena pedang itu?" tanya Aidan.
"Yang saya tahu, Elgar di selamatkan oleh siluman bayangan. Tapi saya tidak mengetahui ke mana siluman itu membawanya," sahut Gavar.
"Apa mungkin siluman itu, membawanya ke istana Ratu sanca!?" tanya Aidan.
.
__ADS_1
.
Bersambung