
Di. Mesjid, Aulia mengerjakan salat isyanya bersama dengan Bara dan juga warga desa. Setiap malam Jum'at pasti ada pengajian. Yang biasanya selalu di hadiri oleh Pak Rahman sekarang di gantikan oleh Aulia.
''Aulia tadi malam kamu kemana?'' tanya Bara.
''Nanti saja aku ceritakan, sekarang kita mengaji dahulu,'' sahut Aulia kembali menatap Qur'annya.
Mereka pun kembali melanjutkan pengajiannya. Satu jam berlalu semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing Hanya tinggal Bara dan Aulia mereka berdua masih mengobrol di dalam mesjid itu.
''Kamu masih belum menjawab pertanyaan ku tadi,'' ujar Bara.
''Semalam aku pergi ke desa seberang,'' sahut Aulia.
''Apa? kamu pergi ke desa itu buat apa?'' tanya Bara menatap Aulia tajam.
''Buat mencari harimau yang telah membuat kakek ku meninggal,'' ujar Aulia.
Deg...
''Apa?...
''Iya aku membalas perbuatan mereka terhadap kakek ku,'' ujar Aulia.
''Aku-aku ngak ngerti,'' sahut Bara masih dengan tatapannya.
''Aku sudah tahu siapa jati diriku, aku bagian dari bangsa mereka, hanya saja nenek tidak mau menceritakannya,'' ujar Aulia.
''Jangan bilang kalau kamu adalah bangsa harimau putih itu?'' tanya Bara.
''Iya tapi aku jelas, aku berpihak ke arah mana yang jelas aku bukan bagian dari bangsa mereka yang telah membunuh kakek ku,'' sahut Aulia.
Bara pun mundur berapa langkah kebelakang dia mulai merasa tidak nyaman berdekatan dengan sahabatnya itu. Dia mulai merasa takut dan tidak percaya bahwa sahabatnya itu adalah harimau jadi-jadian.
''Kamu kenapa? menjauh dari ku?'' tanya Aulia.
''Aulia kamu jangan mendekatiku,'' ujar Bara. Semakin manjauh.
''Hai! apa kamu melihat aku berubah menjadi harimau gak kan!'' sahut Aulia.
''Ya ngak sih cuma aku takut saja,'' ujar Bara.
''ayo Kita pulang,'' ajak Aulia.
Mesjid sudah mulai sepi.
Di perjalanan Bara juga bertanya kepada Aulia ''Apa semalam itu kamu sempat berubah wujud?'' tanya Bara.
''Tidak hanya saja rambut ku yang berubah putih, kamu sendiri melihatnya kan,'' sahut Aulia.
Bara hanya menganggukkan kepalanya.
''Aulia, Bara, ayo mampir dulu kita minum kopi,'' ajak seorang warga di sebuah warung kecil milik orang tua Gadis.
''Ayo Aulia,'' ajak Bara, Aulia pun mengikuti langkah Bara masuk ke dalam warung itu.
__ADS_1
.
.
berapa warga yang duduk di warung tersebut sedang membicarakan tentang harimau jadi-jadian.
''Pak apa Bapak masih ingat sama warga kita yang di terkam harimau waktu pulang dari rumah Pak kades waktu itu?'' tanya Sorang warga.
''Iya, Pak kami masih ingat emangnya kenapa? Pak,'' sahut yang lain.
''Terus kalian masih inagt gak yang namanya Pak Musim?'' tanya warga itu lagi.
Warga yang ada di situ pun menganggukkan kepala bahwa mereka masih mengingatnya.
''Waktu itu Pak Musim sempat bicara sama mendiang Pak Rahman dan Pak kades, bahwa akan ada dua anak muda yang akan menjaga desa kita ini,'' ujar warga tersebut.
Bara dan Aulia mendengar pembicaraan mereka.
''Benarkah terus siapa dua anak muda itu kok sampai sekarang mereka belum muncul?'' tanya warga lainnya.
''Itu dia saya juga tidak tahu,'' sahut Warga itu.
''Saya dengar-dengar Pak Musim itu ilmunya cukup tinggi dia bisa melihat makhluk yang tak kasat mata, apa dia juga bisa melihat kalau dua anak muda itu sudah muncul di desa kita ini?'' tanya warga lainnya.
''Bara aku pulang dulu ya, nenek tinggal sendirian di rumah,'' ujar Aulia.
''Aku juga mau pulang kita pulang bersama saja,'' sahut Bara, Bara tidak lupa meletakkan uang di meja kopi mereka.
''Kamu kenapa? dari tadi diam saja?'' tanya Bara.
''Aku juga ngak tahu, tapi ngak apa-apa besok aku akan tanya sama orang tua ku, mungkin saja mereka tahu dimana ruma Pak musim itu,'' sahut Bara.
Mereka pun terus berjalan melewati semak-semak, di perjalanan mereka di hentikan oleh suara ternakan warga yang menjerit-jerit.
''Ada apa dengan kambing-kambing itu?'' tanya Bara sambil berjalan mendekati kandang Ternakkan warga.
''Jangan kesana Bara,'' ujar Aulia menghentikan langkah Bara.
''Kenapa?'' tanya Bara.
Aulia memegang tangan Bara untuk bersembunyi dibalik pepohonan.
''Kita lihat dari sini saja, ada apa disana nanti kita malah di sangga pencuri oleh warga,'' ujar Aulia.
Mereka mengamati dari jauh ada apa dengan kambing-kambing tersebut.
Setelah berapa menit mereka persembunyi dibalik pepohonan Aulia dan Bara sangat terkejut melihat sekor harimau sedang memakan kambing warga dan menyeretnya kelur kandang.
******
Beberapa warga mengetahui kejadian itu mereka pun membunyikan kentongan dari arah rumah-rumah warga, karena kentongan terus berbunyi membuat harimau yang lain berdatangan.
''Pergi kalian, kenapa kalian selalu mengganggu warga kami dan memakan Ternakkan warga,'' ujar warga itu.
__ADS_1
Harimau berjalan mengelilingi warga yang membawa obor mengarahkan obornya kepada harimau tersebut.
''Ayo kita kesana,'' ujar Aulia.
''Jangan nanti kamu bisa ketahuan sama mereka,'' larang Bara.
Aulia pun mengundurkan niatnya untuk membantu warga. Mereka terus melihat dari kejauhan.
Harimau itu mengaum dengan sangat kuat membuat warga gemetar dan ketakutan karena suara harimau itu, seekor harimau mencakar seorang warga, Aulia tidak bisa tinggal diam melihat warganya terluka. Dia pun mengaum dengan sangat kuat dari jahu matanya berkilau, Bara sangat ketakutan melihat sahabatnya seperti itu di depannya. Harimau kuning pun segera lari karena mereka tahu itu bukan lah bangsa mereka.
''Aulia rambut putih mu kembali muncul,'' ujar Bara.
''Apa?'' tanya Aulia.
''Iya rambut putih itu muncul lagi,'' sahut Bara.
''Berarti rambut putih ini muncul kalau aku sedang marah atau mengaum,'' sahut Aulia.
Bara hanya mengangguk saja.
.
.
Aulia, dan Bara pulang ke rumah mereka masing-masing Aulia membuka pintu kamar neneknya, dia melihat sang nenek sedang tidur Aulia sangat menyayangi neneknya itu sehingga dia tidak ingin melihat neneknya bersedih karena dia.
''Nenek maafkan Aulia, Aulia tidak bisa menyelamatkan kakek dari harimau kejam itu,'' batin Aulia. Dia kembali menutup pintu kamar sang nenek Aulia pun berjalan menuju kamarnya.
''Besok aku harus pergi ke rumah Pak Musim aku harus tahu semuanya,'' gumam Aulia, dia melihat rambutnya di depan cermin
''Ternyata kalau rambut putih ini muncul membuatku sedikit berbeda sedikit lebih tampan,'' ujarnya kepada diri sendiri dia pun mulai tersenyum
Aulia menoleh ke arah jam yang ada di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 12.00 malam, Aulia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
.
.
Subuh menjelang pagi, ayam sudah mulai berkokok lantang di luar rumah. Membuat Aulia terjaga dari tidurnya. Dia ingin melaksanakan salat subuh dia pun keluar dari kamar, menuju sumur di luar sana untuk berwudhu, tidak lupa melihat sang nenek dulu. Ternyata Bu Lilis sedang melaksanakan salat subuh Aulia tersenyum melihat neneknya. Dia pun kembali berjalan menuju sumur.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG JANGAN LUPA LIKE NYA DAN KOMENTAR VOTE BUNGA BINTANG FAVORIT
__ADS_1
INI HANYA CERITA FIKSI SAJA